Lhob Mate Corona (9): Ta’eun, Muge Manok, dan Herd Immunity (1)

Ahmad Humam Hamid. [Ist]

Oleh Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid

Dalam suasana silaturrahmi Lebaran, secara kebetulan saya bertemu dengan seorang kawan lama SD di sebuah tempat, dan setelah basa basi sementar dia bertanya langsung tentang herd immunity dengan ucapan Inggris Aceh yang sangat kental. Dia menyatakan risau karena ada beberapa WA keponakannya di Jakarta yang masuk ke dia, disebutkan tentang ancaman herd immunity . Dari beberapa komunikasi WA kami sebelumnya, saya tahu dia mengikuti perkembangan, bahkan sejak SD pun dia menonjol. Sayang ayahnya cepat meninggal, dan ibunya memutuskan, dia berhenti sekolah.

Saya punya dua cara untuk menjelaskan tentang herd immunity kepada kawan saya. Pertama menerangkan definisi versi pemerintah, atau versi WHO, atau tunggu sebentar, cari dari laman web Jhon Hopkins University, ataupun Mayo Clinic. Cara kedua adalah mencari kasus-kasus “gampong” yang kami berdua mempunyai pengalaman sosial yang logikanya “mirip” dengan herd immunity Covid-19.

Saya berpikir, kalau saya gagal menerangkan istilah itu kepada dia, gelar Guru Besar saya layak dicopot. Untuk itu saya harus rela melepas “kebiasaan” sebagian Guru Besar-kadang saya juga termasuk- yang ketika menerangkan sesuatu yang pada awalnya agak terang, setelah diterangkan menjadi semakin rumit, bahkan gelap sama sekali. Prinsipnya saya harus menggunakan pengalaman sosial yang pernah kami alami.

Saya mengajak dia untuk kembali ke masa kecil kami, ketika penyakit ayam- ta’eun manok– mulai merebak, yang sering kali terjadi pada musim penghujan. Kejadian itu ditanggapi secara beragam oleh masyarakat. Ada yang tidak peduli sama sekali, tetap melepas ayam, dan hampir dipastikan praktis semua ayamnya mati. Ada juga sebagian rumah tanga, yang hanya melepas ayam sebentar hanya untuk memberi makan diluar kandang, untuk kemudian dihalau kembali masuk kandang setiap hari. Kejadian ini persis seperti protokol karantina terbatas untuk kasus Covid-19.

Ada beberapa rumah tanga yang biasanya punya ayam banyak dan sudah berpengalaman yang mengurung total ayamnya di kandang selama berminggu-minggu, sampai wabah itu lenyap dan menghilang. Ini tentu saja mempunyai analogi dengan karantina penuh dalam konteks Covid-19. Kalau kelompok ini beruntung ayamnya selamat, dan tidak jarang pula karena ketidaktahuan, atau kecerobahan sanitasi ayamnya juga bisa mati sebagian, atau semuanya.

Di tengah-tengah pejelasan saya, sang kawan mulai berkomentar, “jangan-jangan para ahli penyakit menular itu belajar dari orang kampung kita” cetusnya. Saya diam, untuk kemudian melanjutkan pengalaman sosial kami. Saya kembali bercerita tentang ada sejumlah komunitas, bahkan gampong,yang sama sekali “melarang” pedagang ayam-muge manok– untuk singgah dan beraktivitas jual beli ayam di kampung mereka, atau melewati kampung mereka. Ada beberapa orang dari komunitas yang bahkan ditugaskan memantau, dan kadang tidak jarang “mengancam” muge manok untuk tidak masuk ke kampung mereka sampai dengan wabah itu pergi atau berhenti.

Belum habis saya bercerita, teman saya itu langsung menyebut,“itu lockdowngampong, lhob mate, istilah saya. Dia tidak menunggu saya selesai. Ia mulai membuat analogi pesawat terbang dan alat transportasi lain yang berperan sebagai muge manok. Dia mulai mengusut tentang frekwensi dan ukuran pesawat, berikut dengan jaringan tempat asal penyakit Covid-19. Saya terpaksa mengeluarkan seluruh pengetahuan umum saya tentang penerbangan, mulai dari Boing 747, Airbus 320, kecepatan terbang, dan sejumlah airport internasional yang menjadi pusat jaringan penerbangan.

Sesekali dia menyela menyamakan Boing Jumbo 747 atau Airbus 320 dengan cerita seorang muge manok yang membawa banyak keranjang kiri kanan sepeda, dan yang paling besar ditaruh di bagian atas. Dia semakin meyakinkan saya bahwa orang tua kita dulu pun sudah pernah melakukan “lockdown” paling kurang untuk wabah ayam dengan hanya menggunakan pengalaman dan akal sehat.

Dia terus berkomentar, sampai akhirnya saya sela, “apakah kita mau lanjut ke herd immunity ?” tanya saya. “Ya boleh”, ketusnya . “Ingat ayam yang selamat dari ta’eun itu saya tanya”, “ya” kata dia . Yang selamat itulah yang disebut masuk dalam kelompok “herd immunity”. Dia bertanya lagi “jadi hanya sekawanan såja atau bahkan beberapa ekor? “ya” jawab saya. Dia kemudian menceritakan tentang beberapa ekor induk ayam betina muda milik neneknya yang selamat dari beberapa kali gelombang ta’eun. Ayam itu dijual lebih mahal dari ayam induk biasa, karena sangat tangguh, telah dua-tiga kali selamat dari penyakit. Istilah populernya, manok ke lhei go tauen.

Sebelum dia pergi, dia bertanya lagi, “apakah Covid-19 yang sedang menyerang manusia juga akan sama seperti kasus penyakit ayam itu, sehingga hanya beberapa saja yang selamat. Saya mengatakan sama tapi tidak serupa. Kami berjanji untuk ketemu di waktu lain untuk melanjutkan babak kedua diskusi “herd immunity”.

Ketika Covid-19 terjadi dan menyebar di Wuhan, tidak ada seorangpun manusia di Wuhan yang kebal terhadap penyakit itu. Karena tidak ada perlawan yang berarti, virus itu setelah menyebar di Wuhan, kemudian menyerang Italia dan Eropa, untuk kemudian berpindah ke AS. Kini praktis seluruh muka bumi telah dijelajahi oleh Covid-19 dengan intensitas dan tingkat keparahan yang berbeda. Cara yang paling ampuh untuk menghentikan berkembang biaknya Covid-19 ini hanya dapat ditempuh dengan satu syarat, hadir dan tumbuhnya kelompok masyarakat yang relatif besar yang mempunyai kekebalan terhadap penyakit ini. Secara sederhana kekebalan kelompok itulah yang disebut dengan herd immunity-kekebalan kawanan-, sebuah istilah-herd– yang lebih tepat digunakan untuk hewan atau ternak.

Prof.Gypsyamber D’Souza, pakar Epideomologi dari Bloomberg School of Public Health, Universities John Hopkins menerangkan bahwa herd immunity adalah suatu keadaan di mana masyarakat secara kolektif mampu mencegah berkembangnya pandemi, ketika jumlah orang yang kebal lebih banyak dari yang tidak kebal terhadap pandemi itu. Pendapat tentang prosentase kekebalan memang bervariasi, namun paling rendah 65 % sampai 70 persen dan semakin banyak semakin baik. Tentang proporsi kekebalan kelompok ini juga sangat dipengaruhi oleh kecepatan penyebaran masing-masing penyakit dan keparahan infeksi yang menyebabkan kematian manusia

Hanya tersedia dua cara agar penaklukan pandemi dengan hadirnya kelompok penangkas herd immunity final tercapai. Pertama, membiarkan terjadinya berkembang biaknya pendemi secara alami, sehingga akan ada, mungkin banyak yang akan selamat dan kebal, sehingga mencapai angka proporsi kekebalan kawanan. Cara yang kedua adalah dengan cara vaksinasi terhadap populasi, sehingga terbangun kekebalan dengan proporsi besar, yang pada hakekatnya juga sama dengan kekebalan kawanan. (Bersambung)

Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala.