Makhluk Ibadah

Ilustrasi @muslim.or.id

Oleh Nauval Pally Taran*

Di dunia ini ada banyak hal yang berubah dengan sangat cepat. Bahwa saat Ramadan semangat kita beribadah cukup meluap dan Syawal segera menandai awal dari kelesuan kembali ibadah kita adalah di antara perubahan yang sangat cepat itu.

Itu adalah hal yang sudah sering kita persoalkan dan tersedia banyak hal sebagai jawabannya. Tapi ada satu hal yang sering luput—setidaknya menurut saya demikian. Ialah soal kesahajaan kita dalam menjalani hidup sebagai hamba Allah; makhluk yang seyogyanya terus mengabdi pada Allah.

Ramadan memang punya pengaruh lebih dalam membentuk kesahajaan kita sebagai hamba. Di Ramadan, dalam keadaan berpuasa, kesadaran manusia sebagai hamba Allah yang beribadah menyertai diri kita hampir di sepanjang waktu: saat tengah berpuasa kita insaf bahwa diri kita dalam keadaan beribadah dan keinsafan itu membuat kita lebih punya daya untuk menghasilkan berbagai ibadah lain dan lebih sahaja menjalaninya. Kita lebih lahap menikmati sajian Alquran dan lebih mantap saat menegakkan salat.

Seturut dengan itu, maksiat atau kejahatan di bulan Ramadan dapat berkurang karena kita lebih mampu menghidupkan kesadaran tentang hidup yang dalam pantauan Allah. Walau maksiat itu tetap saja hadir sebagai masalah purba yang senantiasa menyertai hamba Allah yang pelupa.

Jadi, itu semua adalah tentang kesahajaan kita sebagai hamba; bagaimana kita bisa lebih menghayati keberhambaan kita pada Allah di setiap waktu. Yang itu akan membuat hidup kita menjadi lebih berarti.

Walakin inilah pokok masalahnya. Kita yang menjalani hidup sebelas bulan di luar Ramadan ini terlanjur karib dengan kelalaian. Kita (mungkin) mengingat Allah saat salat dan melupakan-Nya di sepanjang waktu yang lain: ingatan kita pada Allah hanya mengambil sebagian kecil dari keseluruhan proses berpikir kita dalam menjalani hidup.

Dan bahkan ketika melaksanakan ibadah seperti salat pun pikiran dan hati kita sering gagal tunduk; tidak benar-benar menghadap pada Allah. Akhirnya, salat itu tidak mampu membuat kita menahan diri dari perbuatan keji dan mungkar.

Padahal manusia adalah makhluk ibadah, demikian Islam telah memberi makna. Allah menegaskan itu dalam Alquran: “Tidaklah Aku cipta Jin dan Manusia kecuali untuk mengibadahi-Ku”. Artinya, hidup manusia semestinya selalu dalam kesadaran sebagai hamba yang beribadah kepada Allah.

Dan ibadah yang senantiasa itu, penghambaan itu, bukan artinya kita harus terus menjalani salat di sepanjang waktu, mengurung diri di masjid atau berpuasa sepanjang hari, tentu tidak. Tapi bagaimana kita dapat mengintegrasikan nilai penghambaan dalam seluruh agenda hidup kita.

Bila kita punya sedikit keinsafan lebih melihat seluk-beluk pensyariatan, Islam memang punya perhatian luar biasa dalam mengondisikan manusia agar selalu berada dalam koridor penghambaan. Kita diajarkan doa dan zikir dalam banyak hal dan kesempatan: saat pagi dan saat petang, saat keluar rumah dan masuk rumah, saat akan menuntut ilmu dan ketika selesai menuntut ilmu dan, saat mendatangi pasar dan bahkan “mendatangi” istri pun ada doanya.

Begitu pula satu kaidah sentral dikenal dalam ilmu fikih: “Al-umuur bimaqaashidihaa”; tiap perkara itu sesuai dengan niatannya. Dengan kaidah itu cakupan ibadah bisa menjadi luas sekali. Mulai bangun tidur sampai tidur kembali semua perkara selain yang haram bisa bernilai ibadah.  

Integrasi nilai penghambaan itu mestilah dalam tiap-tiap sendi kehidupan. Karenanya menghambakan diri pada Allah itu adalah saat menjadi apa saja. Dalam kehidupan sosial; sebagai pedagang, sebagai guru, sebagai pelayan publik, atau sebagai apa pun Anda seorang muslim, Anda dapat meneguhkan posisi sebagai hamba Allah dan tidak memilih menjadi hamba dinar dan dirham atau hamba kekuasaan dan “tepuk-tangan”.

Dan itu akan memberi makna yang luar biasa dalam hidup manusia; bukan saja bagi hubungan baiknya dengan Sang Pencipta, tetapi juga sikap rahmatnya bagi sesama hamba, bagi semesta. Saya meyakini, bila kita benar-benar dapat menjadi makhluk ibadah, menjadi hamba Allah sepanjang hari, maka Indonesia yang hampir 90% dan bumi yang hampir 30% dihuni umat Muhammad ini akan menjadi lebih baik.

Sungguh kita punya potensi untuk itu dan memang demikian semestinya: “Kalian adalah sebaik-baik umat yang diperuntukkan bagi manusia; yang menyeru pada segala kebaikan dan mencegah dari segala keburukan serta beriman kepada Allah”. Allah Al-Haq yang menyatakan itu.[]

Penulis adalah Penggiat Pendidikan Pondok Studi Islam Mahasiswa (POSTIM) Banda Aceh  

Editor : Ihan Nurdin