Masa New Normal, Kadafi: Pesantren Perlu Perhatian Khusus dari Pemerintah

Dr. Muhammad Kadafi (kiri).

ACEHTREND.COM,Jakarta – Anggota DPR-RI Dr. Muhammad Kadafi, meminta pemerintah memberi perhatian khusus dalam menangani masa new normal Covid-19 di lingkungan pesantren. “Pesantren itu banyak di pedalaman, bahkan ada yang di pegunungan, mereka kesulitan air bersih,” kata Kadafi di Jakarta (30/05/2020).

Menurut data resmi, kata Kadafi, di Indonesia lebih 28 ribu pesantren dengan jumlah santri 18 juta dan 1,5 juta pengajar di Indonesia. Sebagian besar dari jumlah pesantren itu lokasinya di perkampungan yang serba sulit mengakses kebutuhan air bersih.

“Bahkan, di antara jumlah total santri itu setidaknya ada 5 juta santri yang mondok,” kata Kadafi yang adalah anggota Komisi X DPR RI ini. “Artinya, sangat krusial bagi kesehatan dan keselamatan para santri dan tenaga pengajar, jika ini diabaikan,” sebut Kadafi.

Selain itu, kata Kadafi, para santri dan para pengajar ini juga sering saling berkunjung dan berguru di antara sesama pesantren dalam sebuah sistem saling berbagi ilmu. Selain itu, mereka juga berada dalam tata kehidupan komunal. “Bisa kita bayangkan bagaimana nasib mereka jika tidak dipedulikan,” kata politisi PKB yang pernah nyantri di Pesantren Abulyatama, Aceh Besar.

Menurut Kadafi, kondisi sarana dan prasarana pesantren, sebagian besar belum memenuhi standar kesehatan, terlebih protokol Covid-19 untuk menjalankan konsep new normal. Di antaranya belum memiliki Pusat Kesehatan Pesantren beserta tenaga medis, sarana MCK yang memenuhi protokol Covid-19, westafel portabel dan penyemprotan disinfektan, APD, alat rapid test, hand sanitiser, dan masker. Juga belum memiliki ruangan untuk karantina, isolasi mandiri, ruang asrama, dan ruang kelas berstandar penerapan physical distancing.

Pada 22 Mei 2020, Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah, Asosiasi Pesantren Nahdlatul Ulama, telah menerbitkan surat edaran tentang protokol perpanjangan masa belajar di rumah setelah libur lebaran di masa pandemi Covid-19. Dalam edaran itu, RMI-NU merekomendasikan untuk memperpanjang masa belajar (ta’lim) santri di rumah.

Namun, bagi pondok pesantren yang tak mungkin memperpanjang belajar di rumah, maka diharuskan memenuhi protokol kesehatan sesuai standar penanganan Covid-19. Bahkan, pesantren juga diwajibkan untuk menyiagakan kebutuhan pangan selama setangah bulan.

Kadafi mengatakan merasa tergugah dengan semngat RMI-NU ini. “Itu semangat untuk tetap merawat pendidikan agama di negeri ini. Tapi kita tahu, bahkan untuk mengakses air bersih saja mereka kesulitan,” kata Kadafi. []