[Ruang Semangat]: Writing is Healing, Konsep Positif di Tengah Corona

Ulfa Khairina

Oleh Ulfa Khairina*

Mengisi waktu dengan membaca memang sudah biasa. Apalagi jika bacaan yang selama ini menumpuk akibat tergiur harga saat diskon atau bazar. Wah, bisa dibayangkan bagaimana gilanya pecinta buku melahap semua tumpukan dengan santainya. Apalagi yang bisa dilakukan oleh seseorang yang melewati libur panjang jika bukan mengisi otaknya dengan berbagai pengetahuan?

Well, ternyata itu saja tidak cukup. Kondisi seseorang seperti naik gunung. Ada kalanya landai, berada di posisi aman. Kemudian agak sedikit menanjak, lalu tiba di puncak kebosanan. Saat di puncak kebosanan dengan rutinitas itu-itu saja atau dengan hobi yang tidak biasanya, saat itu pula diri kita berontak.

Saya sangat menyukai membaca. Tumpukan buku saya baca, bahkan saya menciptakan satu akun khusus review buku yang di kalangan pengguna Instagram disebut bookstagram. Saya senang? Tentu saja. Berada di rumah saja memberi waktu lebih banyak untuk mengerjakan hobi ini.

Ternyata apa yang saya lakukan selama ini dengan mencuri waktu untuk memotret, bertahan sedikit larut untuk membagikan sosial media luar biasa nyamannya. Sampai akhirnya di rumah saja membuat saya bosan. Ditambah lagi angka positif Covid-19 sangat meresahkan. Lebih parah lagi, penduduk Indonesia sangat aktif menyebarkan informasi yang sifatnya negatif di sosial media.

Bacaan yang awalnya menyenangkan menjadi momok. Seperti tuntutan yang harus diselesaikan. Referensi bacaan juga mulai bergeser. Awalnya hanya membaca untuk kesenangan, berubah membaca untuk memperbaharui informasi. Termasuk membaca Whatsapp group. Lelah pasti, jengah juga pasti. Ketakutan semakin meningkat itu tidak bisa dihindari.

Beruntungnya saya memiliki slogan writing is healing. Ada masa di mana saya memang butuh menarikan jemari di atas keyboard untuk menciptakan cerita. Bahkan RUANG SEMANGAT yang dibuka oleh aceHTrend hingga Juli 2020 juga menjadi wadah yang sangat bermanfaat untuk membenarkan slogan saya. Tidak mudah mengobati diri sendiri dari berbagai penyakit, terurama tekanan psikologis akibat angka yang semakin meningkat dan ketakutan yang terus disebarkan.

Bagi saya, menulis adalah terapi paling ampuh untuk menghindarkan diri dari pikiran negatif. Termasuk untuk menyebarkan pesan-pesan yang menyebar di Whatsapp yang belum tentu kebenarannya. Jika tidak bisa mengubah keadaan lebih baik, setidaknya kita tidak perlu menyebarkan ketakutan dengan informasi-informasi hoax tersebut.

Belakangan saya mulai mengubah konsep diri yang hidup dalam kecemasan menjadi lebih bermanfaat dengan menyibukkan diri. Bayangkan saja, setiap pulang dari rumah sakit untuk menemani anggota keluarga kontrol ulang, pulangnya saya pasti menggigil, pilek, batuk. Saya seringkali mengaitkan dengan ciri yang disebarkan di WAG atau merasakan diri saya sedang tidak baik-baik saja. Padahal diri ini tidak seburuk yang saya bayangkan.

Begitu terus selama sebulan lebih. Ketika saya memeriksakan diri ke dokter, hanya obat yang menurut saya tidak penting diberikan. Tidak ada hasil apa pun. Ya, iyalah, kan saya tidak sakit.

Ketika ke rumah sakit lagi, pulangnya saya kembali error. Lama kelamaan saya hidup dalam ketakutan yang tidak penting. Saya ingat ada beberapa akun menulis yang pernah aktif sekali dengan aktivitas berbagi cerita. Baik akun untuk menulis novel atau sekadar menulis jurnalisme warga. Tulis apa yang ingin ditulis. Jangan ada ketakutan.

Hari yang menentukan bagi saya ketika angka positif Covid-19 di Aceh bertambah. Saya mulai menyusun jadwal ‘terapi’ untuk diri sendiri. Menulis. Senin sampai Minggu tidak ada yang tersisa tanpa menulis. Meskipun ada yang bolong karena kesibukan lain, saya merasakan ada perubahan.

Saya tidak lagi hidup dalam kecemasan yang tidak pasti. Gangguan karena kekhawatiran menghilang. Selama dua minggu, ada beberapa tulisan yang sudah saya uraikan di akun Storial, Wattpad, Kompasiana, bahkan ada yang saya tawarkan ke Cabaca. Terpenting dari semua ini bukan karena saya kembali menulis, tapi saya mulai sibuk untuk kegiatan positif untuk melawan Corona.

Kata orang, imun yang kuat tidak akan mudah terserang virus. Kekuatan imun juga dimulai dari tubuh yang sehat. Sehat bukan sekadar berbadan besar dan gagah. Sehat juga terbebas dari tekanan luar dalam yang menyebabkan imun tubuh melemah. Akhirnya saya menemukan dan menggunakan kembali terapi ini, konsep wiriting is healing untuk mencegah kekhawatiran berlebih keluar masuk pikiran waras.

Selama dua minggu, saya sudah menulis beberapa ide dan saya simpan di draft Wattpad. Berulang kali mencari dan mengepos banner lomba menulis di Instagram. Terlepas nantinya saya akan mengikuti lomba itu atau tidak, terpenting saya sudah memiliki rencana untuk mengamankan diri dari pikiran negatif.

Hidup terlalu mudah untuk diracuni dengan pikiran negatif. Sekalipun hanya mengandalkan telinga untuk pura-pura mendengar. Di saat seperti ini, kalimat tidak penting pun bisa menjadi sesuatu yang besar dan membuat kepala ngilu.

Ide?

Ya, ide terkadang juga menjadi masalah seseorang dalam menulis. Salah satu tema yang bisa diangkat adalah tema untuk RUANG SEMANGAT. Selain itu, kita bisa menanggapi beberapa informasi di media massa dengan sudut pandang kita. Khawatir tidak ada yang membaca dan sia-sia? Ah, tentu tidak. Cukup posting di blog saja, lalu bagikan tautan ke status WA, sekitar puluhan sampai ratusan pembaca akan singgah untuk sekedar mengintip apa yang sedang kita ceritakan.

Menulis sebagai terapi bisa dilakukan oleh siapa saja. Ia tidak memandang umur dan latar belakang. Selama bisa menulis, berarti semua orang bisa menjadi terapis untuk diri sendiri. Bahkan untuk media menulis pun tidak terbatas. Jika memang tidak ingin menggunakan laptop atau ponsel pintar, tidak salahnya kembali ke masa-masa menulis indah di buku tulis.

Bahkan menulis di buku tulis memberi manfaat luar biasa untuk si penulis. Seperti yang dikutip oleh majalah Bobo, menulis di buku tulis memberikan beberapa manfaat luar biasa.

Pertama, menajamkan ingatan. Apalagi menulis buku harian, ketajaman dalam meningkatkan ingatan akan terasah dengan mencatat hal-hal kecil dan detil.

Kedua, membuat hati lebih tenang. Ini bagian paling penting dari terapi dengan menulis. Menulis tentang sesuatu yang kita rasakan akan mengurangi dampak buruk dari apa yang kita rasakan itu, lho.

Ketiga, meningkatkan kesehatan fisik. James Pennebaker dari Universitas Texas melakukan penelitian berkaitan menulis di buku harian. Ia menemukan bahwa menulis dengan rutin akan meningkatkan kekebalan tubuh. Inilah yang sedang kita butuhkan saat ini.

Keempat, dapat mengenali diri lebih baik. Jika selama masa di rumah saja kita cenderung bingung dengan diri sendiri, inilah saatnya kita memahami diri sendiri. Dengan menulis tentang keseharian sebagai terapi, kita juga mendapatkan keuntungan lain dengan mengenali diri sendiri. Kita bisa jadi tahu apa yang kita suka dan tidak, serta kebiasaan harian kita.

Kelima, melatih daya pikir. Di saat menulis, kita akan berpikir hal-hal yang selama ini menjadi kelemahan dan akan melawannya dengan menulis.

Nah, ini cara saya melawan kekhawatiran dan mengisi hari dengan hal positif. Apakah kamu juga akan melakukan writing untuk healing?[]

*Ulfa Khairina berdomisili di Meulaboh, Aceh Barat. Penulis adalah dosen Prodi Komunikasi Penyiaran Islam STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh. Saat ini sedang melewati work from home di Aceh Besar beserta aktivitas rumahan lainnya

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent