(Untuk) Mencari Jalan Pulang

Apa yang paling sering saya obrolkan saat bertemu teman-teman? Jawabannya tentu tergantung. Semakin karib jalinan pertemanan, maka kemungkinan topik yang dibicarakan pun semakin personal. Bila diri saya ibarat sebuah rumah, maka topik-topik obrolan itu ibarat “tamu”. Ada yang hanya saya batasi sampai pintu pagar saja, ada yang saya perbolehkan masuk sampai ke halaman, ada yang saya izinkan masuk hingga ke ruang tamu, berikutnya barangkali ada yang boleh melihat-lihat dapur, dan bukan tidak mungkin ada yang boleh masuk hingga ke kamar. Maka, bertemu teman-teman yang rapat dan erat ini menjadi sesuatu yang kerap saya idam-idamkan. Kadang-kadang, jauhnya jarak bukan suatu persoalan. Karena memang, pertemuan yang diharapkan selalu melahirkan energi tak terduga.

Kemarin misalnya. Saya menerabas teriknya matahari yang begitu gahar. Menuju perkampungan di daerah pinggiran Banda Aceh yang sudah masuk wilayah Aceh Besar. Sudah lama saya tidak bertemu dengan karib yang satu ini. Sudah sebulan lebih. Selama ini memang kami kerap bercerita-ceriti, tetapi rasanya kurang greget karena hanya dilakukan sambil tatap layar. Kami ingin tatap wajah. Mumpung masih dalam suasana bulan Syawal, saya pun menyambanginya.

Di ruang tamu rumahnya yang mungil, ia hidangkan aneka kue kering dan dua gelas sirup. Sembari bercerita, mulut saya tak henti “komat-kamit” menikmati hidangan kue salju, bolu panggang mini, kacang, dan lumpia goreng yang gurih nan renyah. Hingga akhirnya teman saya bercerita tentang salah seorang rekannya sesama penulis yang sudah menerbitkan beberapa buku. “Orangnya sangat produktif,” katanya.

Sebenarnya, cerita produktif atau tidak produktif itu bukan sesuatu yang wah. Apalagi ketika sesuatu yang dilakoni itu sudah menjadi profesi yang menjadi sumber mata nafkah utama. Namun, yang membuat saya takjub pada temannya teman saya itu, “Dia menulis hanya dengan modal sebuah ponsel, dia menulis ketika anak-anaknya sudah tidur, di sela-sela tugasnya sebagai ibu rumah tangga, anaknya empat dan masih kecil-kecil, yang sulung masih SD,” kata teman saya lagi.

Mendengar cerita itu hati saya seperti tercubit. Teringat saya pada salah satu ceramah yang disampaikan oleh seorang pengusaha sukses di bidang retail, bahwa salah satu ciri-ciri orang sukses (di bidangnya) ialah orang-orang yang fokus pada solusi. Bukan sebaliknya. Orang-orang yang fokus pada solusi ini umumnya fokus pada hal-hal positif atau kelebihan-kelebihan (kekuatan) yang ada pada dirinya. Mereka juga cenderung menghindari membanding-bandingkan kekurangannya dengan kelebihan orang lain. Fokus pada goals yang ingin dicapai. Setia pada target. Game plan yang sudah dirancang tidak mudah direcoki dengan misi-misi lain yang justru akan membuatnya melenceng dari visi awal.

Kembali ke cerita teman saya di atas, ada banyak orang yang memiliki ponsel, tetapi yang mampu menghasilkan karya (buku) dengan mengandalkan mengetik di ponsel? Barangkali bisa dihitung jari dan salah satunya adalah temannya teman saya itu. Yang lain? Barangkali hanya fokus pada kendala: tunggu saya punya laptop saja baru menulis, layarnya terlalu kecil, susah untuk menyunting, tak nyaman di mata, dan seabrek alasan lain. Namun anehnya, saat bergosip justru tak terasa ada kendala-kendala seperti itu hehehe.

Beranjak dari sana saya lantas mengunjungi seseorang yang lain di kawasan pesisir Aceh Besar. Ini pertama kalinya saya berkunjung ke rumahnya sehingga sah-sah saja kalau saya kesasar. Sebenarnya, teman saya ini sudah mengirimkan Google Maps sebagai panduan, tetapi bukankah seorang pengarang buku terkemuka Allan Pease jauh-jauh hari sudah menuliskan tentang Mengapa Pria Tidak Bisa Mendengarkan dan Wanita Tidak Bisa Membaca Peta? Karena ini pula saya pernah kesasar di Kota Denpasar, Bali. Saya juga pernah kesasar di kawasan yang belasan tahun saya lalui karena mengandalkan petunjuk dari Google. Di Beurawe. Hahaha.

Petang mulai merembang saat saya tiba di rumah teman saya ini. Sebenarnya, ada alasan untuk urung datang, tetapi saya tak ingin mengecewaakan keinginan hati yang terus berbisik agar saya berkunjung ke sana. Saya disuguhi sirup dan rempeyek plus telur gabus yang renyah. Maka lagi-lagi, sembari terus mengobrol, mulut saya pun tak henti-henti mengunyah. Ketika saya merasa nyaman di tempat seseorang, entah mengapa selera mengunyah saya juga ikut naik. Sebenarnya, teman yang ini belum karib benar, tetapi sejak pertama kali berkenalan, hati saya langsung klik dengannya. Barangkali, inilah yang disebut adanya ikatan kimiawi.

Dengan teman yang ini, obrolan lebih spesifik mengenai karakter-karakter manusia yang beragam. Hingga ia menyebutkan seseorang yang ciri-cirinya bisa saya simpulkan sebagai sosok yang humble. Karakter yang sering dilekatkan dengan sifat rendah hati dan sederhana. Padahal, seseorang tersebut—dengan segala yang melekat pada dirinya—punya potensi untuk mbong atau sombong.

Meunye ureung nyang bit-bit na sit hana geupeuleumah le droe geuh ureung na,” kata teman saya itu.

Kalimat itu terdengar biasa saja, tapi maknanya dalam sekali menurut saya. Orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya tak perlu lagi pengakuan orang lain. Apa yang ia miliki bukan untuk dipamerkan kepada orang lain, apalagi untuk gagah-gagahan demi menunjukkan “keakuannya”. Orang-orang seperti ini sudah menemukan siapa dirinya sendiri dan tahu apa fungsinya di muka bumi ini. Misalnya, ketika memangku jabatan maka sadar benar ia bahwa jabatan itu bukan alat untuk gaya-gayaan, bukan digunakan untuk memandang orang lain dengan sebelah mata, atau malah untuk mengkotak-kotakkan dan menciptakan gap.

Kebalikan dari itu kata teman saya ini, adalah tipikal orang-orang yang “lipeh on geulinyueng”. Tipis daun telinganya. Tentu ini hanya sebuah istilah saja. Orang-orang yang antikritik dan merasa dirinya paling benar, paling hebat, paling kece, pokoknya paling serbapaling lah. Bahkan sindrom tersebut bukan tak mungkin telah menjangkiti para pejabat yang notabenenya harus tebal daun telinganya. Sebab kalau tidak maka ia akan sakit hati nyaris setiap waktu menghadapi “mulut-mulut” amis nan nyinyir. Bisa-bisa ini membuatnya lupa ada visi awal. Sialnya, “orang-orang” yang dihadapi itu ada kalanya tak lebih dari akun-akun yang digerakkan oleh robot. Sial betul, kan? Dan nyinyiran-nyinyiran itu sebenarnya bisa saja bahasa lain dari cari-cari perhatian agar dipedulikan dan diperlakukan dengan patut. Namun, karena telinga yang tipis tadi kadang-kadang jadi salah tangkap sinyal.

Setelah obrolan yang panjang lebar itu, saya sempatkan melirik jam di dinding. Ya ampun, hampir magrib rupanya. Saya tutup stoples rempeyek dengan alasan supaya tidak masuk angin. Sesaat kemudian saya pun undur diri agar tak keduluan oleh gema azan Magrib. Sang empunya rumah mengarahkan saya melewati jalan lain yang lebih lurus, agar tak perlu berbelok-belok seperti sebelumnya. Namun, lagi-lagi saya hampir kesasar saat melewati jalan lurus tersebut.

Tiba-tiba terlintas kembali obrolan saya dengan sang teman tadi, jangan-jangan kita ini termasuk orang-orang yang belum selesai dengan diri sendiri, sehingga sedang meuwot-wot lam donya ini dan bingung siapa diri kita sebenarnya. Bahkan untuk mencari jalan “pulang”.[]