Dampak Covid-19, Musisi Aceh Barat Terjepit hingga Jual Peralatan Bermusik

Lem Ben (bertopi) didampingi rekannya Harry Syahputra, Senin, 1 Juni 2020. @aceHTrend/Sudirman Z

ACEHTREND.COM, Meulaboh – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat diminta memperhatikan perekonomian para musisi di wilayah tersebut yang turut terimbas wabah korona. Demi bertahan hidup, di antara mereka terpaksa ada yang menjual peralatan bermusiknya.

Ketua Harian Komunitas Insan Musik Se-Pantai Barat Aceh, T Nasruddin alias Lem Ben, mengatakan harapan besarnya kepada pemerintah agar memberikan solusi kepada komunitas pekerja seni sehingga dapat bertahan selama masa Covid-19 ini.

“Cuma itu yang bisa kami lakukan kerja di bidang musik. Untuk menghidupi keluarga selama tiga bulan ini alat-alat musik yang ada terpaksa kami jual,” ujar Lem Ben, salah satu musisi di Aceh Barat, kepada aceHTrend, Senin (1/6/2020).

Lem Ben menyampaikan, kondisi ekonomi para musisi saat ini sudah sangat sekarat, merupakan dampak dari kebijakan pemerintah dalam setiap protokol penanganan dan pencegahan Covid-19.

“Tidak boleh ada keramaian, tidak boleh pesta, sementara job kami hanya dari kegiatan seperti itu. Jadi mau bagaimana, saya sudah lebih 30 tahun bergerak di bidang musisi, baru kali ini merasakan dampak sangat sulit ekonomi,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskannya, ekonomi keluarganya semakin sulit karena istrinya juga seorang biduan atau penyanyi di Aceh yang selalu mendampingi setiap kegiatan perekaman termasuk setiap acara pesta yang dimintakan masyarakat.

Lem Ben mengaku selama ini hanya pernah mendapat bantuan Llnsung tunai (BLT) senilai Rp250 ribu yang merupakan bantuan sosial dari pemerintah daerah.

“Cuma Rp250 ribu, mana mungkin bisa menghidupi lima orang anak di rumah. Kami para musisi berharap pemerintah memberikan jalan bagaimana baiknya untuk kami mendapatkan pekerjaan untuk bertahan hidup di tengah pandemi korona,” harapnya.

Lem Ben menambahkan, di Aceh Barat saja ada sekitar 20 grup yang bergerak di bidang musik. Dari 20 grup tersebut kata Lem Ben, masing-masing mempekerjakan sekitar tujuh orang lainnya. Tapi selama ini mereka mengeluh sempitnya ruang ekonomi karena dampak bergulirnya Covid-19 ini.[]

Editor : Ihan Nurdin