Tradisi Unik Lebaran di Negeri Antara

Qusthalani (Ist)

Oleh Qusthalani*

Negeri Antara merupakan sebuah daerah yang dilakap oleh sebagian orang untuk masyarakat yang bermukim di kabupaten paling tengah Aceh. Daerah ini meliputi kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues. Provinsi yang notabenenya suku Gayo ini sangat kaya akan budaya dan adat istiadat. Kita ketahui bersama, Gayo merupakan salah satu suku terbesar di Aceh, mereka dikenal taat dalam agamanya dan mereka menggunakan bahasa Gayo dalam percakapan sehari-hari.

Bahasa Gayo mempunyai keterkaitan dengan bahasa suku Batak Karo di Sumatera Utara. Bahasa ini termasuk kelompok yang disebut “Northwest Sumatra-Barrier Islands” dari rumpun bahasa Austronesia. Namun di sini penulis tidak membahas perihal bahasa, namun spesifik tradisi unik dalam menyambut lebaran baik Idulfitri maupun Iduladha dalam tatanan kemasyarakat budaya Gayo.

***

Suara beduk dan takbir belum berlalu, terus sambung-menyambung terdengar jelas dari kejauhan. Suhu dingin yang begitu kentara untuk ukuran orang pesisir masih terasa. Uap embun pun masih menyelimuti ruang udara di kawasan Dataran Tinggi Gayo, Aceh. Namun suasana dingin di pagi penuh kemenangan ini tak menyurutkan semangat masyarakat berbondong-bondong menuju nasjid terdekat. Pandemi Covid-19 yang melanda negeri ini pun tak mematahkan iktiar yang sedari malam sudah diniatkan urang Gayo untuk bersembah sujud di hari pernuh berkah.

Iklas dan khusyuk dalam beribadah menjadikan bukti Gayo dekat dengan Rabbi. Keseriusan dalam beribadah untuk menyambut lebaran sudah menjadi tradisi tiap tahun bagi masyarakat pegunungan Aceh tersebut.

Suasana sejuk memang sudah menjadi keseharian di sana, apalagi hujan tak pernah berhenti dalam bulan Ramadan tahun ini. Namun, kesejukan di pagi ini akan terusir sejenak dengan hadirnya sebentuk penganan berbalut daun pisang yang harum. Masih dengan asap yang sayup-sayup, sepiring lepat tersaji membuka hari kemenangan Syawal. Lepat memang selalu menjadi pembuka hari di saat Idulfitri di Gayo. Disajikan dengan hangat sesuai dengan harapan kehangatan di hari pertama Syawal.

Tidak hanya itu, selesai bermaaf-maafan bersama sudere kandung dan diikuti keluarga besar menjadi pemandangan menusuk kalbu selesai salat Ied. Budaya ini terus dipelihara sampai saat ini. Semarah apapun di hari lalu, keluarga tetap nomor wahid bagi masyarakat Gayo. Makanya jangan heran ketika melihat masyarakat Gayo diperantauan begitu dekat dan akrab serasa saudara kandung. Ini sudah dipupuk semenjak dini dalam keluarga besar.

Saya jadi teringat beberapa film dari tanah Minangkabau, bagaimana mereka menjaga keluarganya yang terhimpun dalam rumah gadang. Datuk pucuk menjadi tempat mengambil keputusan dalam setiap rapat keluarga. Semua anggota keluarga rumah gadang wajib mentaatinya, terharu melihat adat yang kental untuk menjaga nama baik keluarga. Baik buruknya suatu bangsa bisa dimulai dari keluarga kita sendiri.

Gayo dan Minangkabau tak jauh berbeda, urum-urum i umah sudera akan terlihat dalam setiap hari raya. Anak tertua akan menjadi rumah pertama disinggahi oleh semua anggota keluarga, jika orang tuanya sudah berpulang ke Rahmatullah. Rewang dan mangan urum-urum menjadikan suasana kekeluargaan yang asyik dipandang mata. Keluarga dari perantauan dan tuan rumah serasa sama tak ada kasta yang membedakan, saling tertawa bernyanyi bersama khas suku Gayo sangat merdu di telinga.

Ada menu yang selalu ditunggu saat Idulfitri yaitu cecah reraya. menu gulai dengan rasa sedikit asam ini disajikan mulai siang hari untuk memberi kesegaran bagi tubuh yang baru saja berpuasa sebulan penuh. Cecah artinya sambal, dan reraya berarti lebaran. Jadi cecah reraya adalah sambal lebaran. Tapi jangan bayangkan bentuknya akan sama dengan sambal-sambal pada umumnya. Justru bentuknya berupa gulai yang terdiri dari kulit sapi atau kerbau, dipadukan dengan hati sapi dan sedikit daging sapi. Yang membuat cecah ini khas adalah sebentuk kulit kayu dari pohon wing yang berasa kelat dan menjadikan rasa cecah menjadi khas.

Tak lengkap rasanya kalau makan bersama di hari lebaran tanpa ditemani cecah terong anggur yang begitu terasa lidah, ditambah pengat gayo dan asam jeng pastinya menggugah selera untuk terus menambah isi piring yang terhidang di depan. Dinginnya malam hari pun akan hilang ketika disuguhi secangkir arabika gayo di tete/beubale belakang rumah.

Makan bersama, saling berebutan dengan anggota keluarga yang begitu ramai menambah bumbu silaturahmi di hari fitri. Selesai mangan urum urum di rumah satu kemudian ramai-ramai pindah dan melanjutkan ke saudara lainnya. Tidak hanya makan bersama, kalau malam tiba maka semua anggota keluarga akan beristirahat di rumah yang disinggahinya tersebut. Aktivitas ini terus berlanjut sampai semua rumah anggota keluarga disinggahi. Inilah rahasia keharmonisan dalam masyarakat Gayo terus terjaga.

Banyak pelajaran penting yang bisa kita petik dari tradisi ini, bagaimana mereka memelihara nama baik keturunan. Bagaimana silaturahmi antar keluarga ini terus dipelihara. Bukankah Rasulullah juga mengajurkan ini, “Akulah Sang Rahman. Aku menciptakan rahim dan Aku pula yang mengambilkannya dari nama-Ku. Barangsiapa menyambung rahim (tali kekeluargaan) maka Aku tersambung dengannya, dan barangsiapa memutusnya Aku pun terputus darinya”. (HR Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud)

Hadratussyekh dalam kitabnya juga mengatakan, yang paling wajib dilakukan oleh manusia adalah menjaga silaturahim atau tali keluarga dengan orang-orang yang termasuk kategori mahram (orang yang haram dinikahi), antara lain saudara kandung, ayah, ibu, kakek, nenek dan terus ke atas, serta paman dan bibi.

Menjalin kasih silaturahim dengan sesama keluarga seperti ini sudah menjadi barang langka di sebagian daerah, namun menjadi tradisi wajib bagi sekitar masyarakat tengah pegunungan Aceh. Semoga kita semua bisa menjadi pribadi yang baik dan terus menjaga tradisi budaya Aceh yang begitu mahsyur dengan keramahtamahannya, semua bisa dimulai dari dalam keluarga. Insyaallah.

*Qusthalani,S.Pd.,M.Pd. Koordinator KIR Pena Pase Aceh Utara. Pembimbing Peneliti Muda Aceh Utara