Lhob Mate Corona (9): Ta’eun, Muge Manok, dan Herd Immunity (2)

Ahmad Humam Hamid. [Ist]

Oleh Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid

Dalam kaitannya dengan Covid-19, tidak ada negara manapun di dunia yang secara berani dan terbuka menyatakan akan menerapkan strategi herd immunity alami dalam mengatasi pandemi ini. Bahkan Swedia dan Belanda sekalipun yang menurut para ahli,yang secara kasat mata menerapkan strategi herd immunity tidak mau mengakuinya. Arsitek herd immunity Swedia, Dr. Tengnells dalam keterangan medianya membantah Swedia menerapkan strategi itu. Dia mengakui bahwa Swedia tidak menerapkan total lockdown, akan tetapi menganjurkan social distancing, karantina, libur sekolah menengah, anjuran tidak berkumpul 50 orang lebih.

Dr. Tegnells mengakui model Swedia memang tidak layak dicontoh oleh negara lain, karena kultur dan struktur masyarakat Swedia yang unik yang cocok dengan strategi itu. Belum ada penilaian final terhadap jitu tidaknya strategi Swedia. walaupun tingkat kematian di sana relatif lebih tinggi dari negara tetangganya Norway, Denmark, maupun Finlandia. Namun demikian posisi Swedia dalam hal tingkat kematian jauh lebih baik dari Spanyol, Italia, dan Belgia.

Semua pihak kini menunggu keajaiban yang “sangat segera”, untuk ditemukannya vaksin Covid-19 yang akan menjadi titik balik manusia mengalahkan virus mematikan ini. Sayangnya, proses menemukan vaksin memerlukan waktu yang belum ada kepastiannya, sekalipun telah ada beberapa laporan awal tentang kemajuannya.

Apa yang dikerjakan oleh pemerintah dari berbagai negara membuat sejumlah langkah “memperlama permainan” menunggu ditemukannya vaksin. Walaupun tidak sangat sama, ibarat kejuaraan bola Eropa 1999 ketika Manchester United Vs Bayern Munich, di awal babak pertama Manchester United kemasukan 1-0 dari Bayern Munich, kemudian melakukan strategi bertahan. Hanya pada menit-menit terakhir, yakni pada injury time Manchester membalikkan keadaan dengan menciptakan 2 gol yang membuatnya memenangkan kejuaraan itu.

Kini Bayern Munchen itu Covid-19, dan manusia menjadi Manchester United yang sedang bertahan, sembari mencari cara-vaksin- untuk mengalahkan sang musuh. Mudah-mudahan manusia tidak harus menunggu terlalu lama untuk mengalahkan Covid-19 pada saat injury time.

Praktis semua negara di dunia kini melakukan apa yang dilakukan Swedia dengan variasi yang berbeda-lebih kuat dan ketat dari Swedia,ataupun kurang atau seperti biasa saja, seolah Covid-19 bukan ancaman.

Di antara negara maju, mungkin Inggris saja yang secara terbuka PM-nya Boris Johnson pada awalnya lebih memilih strategi herd immunity dengan beberapa penyesuaian. Malang bagi Inggris, karena terlambat memulai dan dengan perhitungan yang tidak secermat Swedia,jumlah kematian di Inggris meroket sehingga saat ini mencapai lebih 50.000.Karena angka kematian yang terus meningkat pada tanggal 25 Mei pemerintah telah mengubah kebijakan itu, bahkan langsung membuat lockdown. Sayang keputusan itu terlalu lambat dan kini Inggris menjadi negara kedua terbesar di dunia yang menderita kematian tertinggi kedua setelah AS, akibat Covid-19. Dan kini Boris Johnson harus membayar mahal dampak politiknya. Dia dituduh telah melakukan genosida terhadap warganya.

Sikap bermain-main dengan herd immunity juga diperagakan oleh presiden Brazil yang yakin “imunitas alami” tinggi yang dimiliki warga Brazil sehingga dapat mengalahkan Covid-19. Dengan memberi contoh kepada 1,4 juta warga miskin di Rio de Janeiro yang hidup dan bahkan berenang dalam kotoran sampah setiap hari dia yakin dan bahkan meyakinkan publik Brazilia akan selamat dari Covid-19. Bolsanero tidak hanya bicara, kebijakan yang dilakukan juga mengikuti apa yang dia ucapkan. Dia baru sedikit berubah ketika korban mulai berjatuhan, dan itu sudah terlambat, dan Brazil harus membayar mahal. Sampai dengan hari ini jumlah kematian Covid-19 di Brazil telah mendekati 30.000 jiwa.

Sukar untuk mengatakan India menerapkan strategi herd immunity karena India telah melakukan beberapa kali lockdown nasional, namun angkanya terus menaik, dengan keragaman antar negara bagian yang kentara. Dengan jumlah penduduk yang nyaris sama dengan Cina, lockdown secara berkepanjangan akan menghancurkan perekonomian nasional India. Pengamatan umum dari beberapa kejadian terakhir di India menunjukkan India sedang akan mengadopsi strategi herd Immunity. Hal ini paling kurang dicirikan oleh 3 hal penting yang telah mengubah protokol Covid-19.

Seperti laporan pengamatan harian India Today , pasien dengan gejala sedang kini sudah boleh keluar dari rumah sakit tanpa harus menjalani tes dua kali untuk memastikan sampel negatif. Pertanda lainnya adalah pasien dengan gejala berat sedang-tidak di ICU atau menggunakan oksigen- diizinkan keluar setelah satu kali saja tes négatif, bukan dua kali. Pasien Covid-19 di India saat ini sudah boleh keluar 10 hari semenjak gejala, bukan semenjak masuk rumah sakit, terutama jika tidak ada demam selama tiga hari. Pasien yang keluar dari rumah sakit kini hanya disyaratkan untuk karantina rumah selama 7 hari, padahal sebelumnya 14 hari.

Pengamat kesehatan publik mengisyaratkan langkah-langkah itu merupakan strategi terselubung Pemerintah India untuk memberi peluang kepada sebagian pasien yang berpeluang besar untuk kebal, untuk keluar dan berbaur dengan publik, sehingga akan semakin banyak yang terinfeksi, sebagian akan ditangani dengan perawatan di rumah sakit, sebagian akan meninggal, dan sebagian besar populasi akan kebal terhadap Covid -19, sampai pada akhirnya akan tercapai herd immunity.

Di samping pembukaan taman-taman besar di Kota New Delhi, Pemerintah India juga telah membuka kembali operasi Kereta Api yang melayani 15 kota besar di India semenjak tanggal 12 Mei, lima hari sebelum lockdown tahap tiga berakhir. Strategi herd immunity India menjadi semakin nyata, karena sebagian besar kota-kota yang dilayani berstatus dalam pengawasan Covid-19 yang ketat.

Melihat langkah-langkah yang diambil pemerintah Indonesia saat ini, sukar untuk tidak mengatakan bahwa lambat atau cepat-kecuali vaksin Covid-19 ditemukan dalam waktu dekat ini- Indonesia harus atau terpaksa mengdopsi strategi herd immunity. Dengan beban keuangan negara, dan utang yang semakin besar, serta ketidakpastian waktu akan berakhirnya Covid-19, Indonesia akan tergiring kepada strategi herd immunity.

Statemen new normal dari Presiden Jokowi harus dimaknai sebagai life must go on -kehidupan harus berjalan- dengan tetap menerapkan protokol jaga jarak sosial, masker, larangan berkumpul, dan cuci tangan. Mudah-mudahan skenario new normal ini tidak hanya berlaku untuk warga negara, tetapi juga untuk negara dengan cara membuat tes Covid-19 gratis sebanyak-banyaknya. Sebagai catatan, sampai dengan 15 Mei Indonesia mempunyai rasio testing Covid-19 0,5 orang per 1000 penduduk dibandingkan dengan Malaysia,10, Singapura 25, AS 16, dan Inggris 10 (South China Morning Post).

Yang menjadi pertanyaan kita adalah sejauh mana sumber daya manusia, alat dan bahan pengendalian dan penanganan Covid-19, serta infrastruktur kesehatan publik mampu mengatasi dan menangani keadaan dengan skenario terburuk, baik secara nasional maupun daerah. Apakah ranjang rumah sakit berikut dengan berbagai fasilitas lain sudah sangat siap ? bagaimana dengan ICU, ventilator? Bagaimana dengan instrument keamanan dan jaminan pekerja kesehatan? Akan cukup banyak pertanyaan yang mesti dipertanyakan sebelumnya, yang hanya akan mampu diuraikan oleh pakar epidemilogi dan kesehatan masyarakat.

Beberapa saat sebelum saya menyelesaikan artikel ini, teman lama SD saya menelpon kembali, janji bertemu untuk diskusi herd immunity babak dua. Sebelum saya menutup telpon, dia bercerita kembali tentang manok-ayam di kampung kami dulu. Dia menceritakan-dan saya masih ingat- tentang sekelompok ayam yang tidur malam di pohon-pohon samping rumah, yang dalam banyak kasus relatif banyak yang selamat dari wabah, dan kemudian menjadi “kawanan yang kebal” Dia bertanya ke saya, “kenapa hal itu bisa terjadi?” Saya teringat dulu ayam yang tidur di pohon jarang yang tidur berdekatan, mereka tidur berjauhan. Hal ini sangat berbeda dengan ayam yang tidur dalam kandang. Spontan saya menjawab, “ itu social distancing “ ala ayam kampung kita. Dia spontan membalas dengan semangat, “semua mencontoh pengalaman Aceh.” Telpon saya tutup.

Penulis Guru Besar Universitas Syiah Kuala.