Teriakan Kami Bukan Titipan Para Kanda

Fuad Saputra, mahasiswa Universitas Negeri Malang, Jawa Timur.

Oleh Fuad Saputra

Ketika menonton film, adegan pagi hari seringkali diawali dengan ayam berkokok. Rupa ayamnya jelas sekali, yang masuk ke frame haruslah ayam besar dan dewasa, punya bulu yang bisa memantulkan silau cahaya matahari pagi; serta gagah. Kalau tidak seperti kriteria itu, sepertinya tidak layak untuk berkokok. Rupa ayamnya harus sama, senada dan seirama. Tidak boleh tidak.

Saya yakin ayam-ayam muda tidak pernah dilirik oleh sutradara film; keberadaan mereka seolah tiada. Padahal kokok ayam dewasa mungkin sudah fals, suara putus-putus melemah. Tapi atas nama pengalaman, mereka selalu mendapat tempat dan kesempatan.

Walaupun tidak bisa berkokok lantang, ayam-ayam muda punya nada kokokan baru. Mereka inovatif dan kreatif. Mereka melakukan sejumlah perubahan, agar kokokan ayam berabad-abad yang masih begitu-begitu saja, setidaknya mengalami perbedaan. Tapi sekali lagi, karena mereka masih muda; masih anak ayam yang kokokan tidak layak diperdengarkan. Mereka anak-anak ayam naif dan sering disangka diperalat oleh musang untuk menjatuhkan harkat dan martabat ayam dewasa.

Anak muda juga merasakan hal sama seperti yang ayam-ayam muda rasakan. Terpinggirkan suaranya, kalau pun bersuara sering kali dituding titipan kanda. Yah, walaupun ada tapi kan tidak semua.

Lapangan dialektika selalu dipersepsikan milik mereka yang “tua”. Kenyang asam garam, walau kadang tanpa yodiumnya. Anak muda selalu menjadi anak gawang, diposisikan cuma sebagai pemungut bola saja. Tidak lebih.

Ban ceh bek le that pegah haba!

Sama seperti ketika anak ayam berkokok, itu bukanlah upaya untuk terlihat lebih hebat dari induknya. Tapi bagian dari dirinya, yang tumbuh, besar, dan akan selalu punya suara sendiri. Begitu pula anak muda. Tumbuh dan punya suara sendiri bukan upaya menggoyahkan orang “tua”. Suara mereka bukan pula titipan kanda-kanda yang sering disangka.

Anak muda sering menjadi korban prasangka. Hidup mereka kadang dilematis, ketika bersuara dituduh titipan. Ketika diam dituduh tidak berguna dan apatis. Semua serba salah, yang benar yang mereka yang berpengalaman.

Hai aneuk mit, bek le that ka peugah haba! Kajak sikula be get bek gadoh ka pike urusan ureung tuha!

Dalam kaitannya soal sosial dan politik, suara anak muda adalah suara yang jarang didengarkan. Padahal persentase suara mereka salah satu yang terbesar. Kalau suara mereka tidak boleh diperdengarkan, untuk apa anak usia 17 tahun diperbolehkan memilih? Sia-sia rupanya suara mereka. Dibutuhkan, tapi tidak layak didengarkan.

Ketika anak muda mengkritik pemerintah selalu dituding partisan atau titipan. Eskalasi ini makin tinggi menjelang politik elektoral. Dan senjata utamanya selalu adalah, anak muda tidak tahu apa-apa, mereka hanya mainan kubu seberang, dan cuma mencari eksistensi semata. Apakah ada jaminan, ketika yang “tua” bersuara mereka tidak partisan? Atau tudingan itu merupakan langkah memuluskan kekuasaan.

Semakin maju zaman, platform suara untuk anak muda makin banyak. Tapi kalau telinga masih juga disumbat, tidak ada guna juga pada akhirnya. Jadi tolong, sumbat telinganya dibuka, jauhkan prasangka, dan bukankah tidak ada salah bila anak muda punya suara sendiri. Punya pendirian sendiri, punya idealisme sendiri yang mungkin berbeda.
Pun anak ayam berkokok bukan agar terlihat lebih hebat dari induknya.

Penulis adalah lelaki asal Aceh, mahasiswa tingkat akhir program studi Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri Malang, Jawa Timur.