Leumo Pijut dan Buzzer 1.500

Ratusan lembu di UPTD IKP Saree, Aceh Besar, tidak terurus dengan baik. Lembu-lembu itu kurus kering dan dikurung dalam kawasan kandang dan tidak diberi pakan. [Foto: Alfian/MaTA]

Oleh Muhajir Juli

Beritakini.Co menulis laporan tentang ratusan sapi milik Pemerintah Aceh yang dikelola Dinas Peternakan Aceh, di UPTD IKP Aceh, di Saree, lembah Seulawah, Aceh Besar, dalam kondisi kurus kering. Satu persatu lembu yang dibeli dengan APBA mati karena kekurangan pangan.

Tidak butuh waktu lama, begitu tayang di laman media online tersebut, ramai-ramai netizen membicarakan persoalan tersebut di laman medsos masing-masing. Siangnya, sejumlah akun yang disebut-sebut sebagai buzzer pemerintah membagikan sejumlah foto yang menampakkan sejumlah lembu di UPTD IKP Saree dalam kondisi sehat, gemuk dengan pakan melimpah. Para buzzer itu pun menyebutkan apa yang diberitakan oleh situs berita terverifikasi Dewan Pers itu, sebagai foto lama ketika sapi-sapi itu baru pertama kali didatangkan ke lokasi penggemukan. Para buzzer itu pun mulai menyerang netizen yang mengkritisi keberadaan leumo pijut di UPTD IPK Aceh di Saree.

Bahkan ada buzzer yang menulis surat khusus kepada salah satu netizen yang aktif mengkritisi Pemerintah Aceh. Kini surat itu telah di-screenshoot dan dibagi-bagikan di berbagai grup WA.

Penasaran dengan laporan beritakini.co, sejumlah pihak seperti aktivis Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), LSM Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) dan Syakya Meirizal selaku Koordinator MPO Aceh, berkunjung ke sana. Ternyata apa yang diberitakan oleh Beritakini.co, jauh lebih soft ketimbang keadaan di lapangan. Sapi-sapi itu, yang dikurung dalam komplek tanpa rumput, terlihat lahap memakan pucuk kedondong pagar yang diberikan oleh pengurus YARA. Padahal kedondong pagar bukanlah pakan hijauan yang digemari sapi.

Bukan hanya daun kedondong yang dikunyah lembu-lembu itu, tapi juga tangkai-tangkainya.

Syakya Meirizal, sembari berkeliling lokasi melakukan siaran langsung memperlihatkan kondisi yang sebenarnya. bahwa ratusan lembu di sana memang tidak terurus. Kurus dan terlihat tidak sehat. Lalu kemana anggaran miliar rupiah yang dianggarkan pada tahun 2019 yang peruntukkannya untuk pengadaan pakan sapi milik Pemerintah Aceh?

Di daerah yang pemerintahnya korup seperti di Aceh, kondisi seperti itu bukan suatu keanehan. Kegiatan yang dilakukan hanya semata untuk mendapatkan untung sesaat bagi penguasa dan kroninya. Hanya saja, cara-cara sejumlah buzzer mendengungkan hoaks dengan memanipulasi informasi, adalah ikhtiar yang patut ditertawakan. tidak sedikit para pendengung kebohongan itu adalah orang-orang yang bersekolah tinggi. orang-orang yang bila di luar kekuasaan, kritisnya minta ampun. Mengapa mereka rela mengorbankan integritas hanya demi membela sesuatu yang salah? Sudah begitu sulitkan mendapatkan uang di Aceh dengan cara-cara yang halal? Sudah begitu parahkah ekonomi di Aceh, sehingga buzzer -buzzer itu mendengungkan kebohongan dengan akun-akun pribadi.

Teman-teman yang telah memilih jalan sebagai buzzer. Jangan korbankan harga diri dengan cara-cara murahan. Bila menjadi pendengung adalah pilihan karena tidak tersedianya lapangan kerja lain, lakukanlah dengan cara-cara terhormat. Tidak perlu mengorbankan terlalu banyak untuk membela para bandit.

Kasihanilah suamimu, istrimu, anakmu, abangmu, adikmu, ibumu, ayahmu, saudaramu, yang dengan mata kepala sendiri melihat betapa kalian telah kehilangan akal sehat hanya demi mempertahankan posisi sebagai pendengung.

Mencari uang tidak harus sehina itu, Kawan. Jangan jadi buzzer 1.500.