Lhob Mate Corona (11): Normal, Abnormal, New Normal, Normal

Ahmad Humam Hamid. [Ist]

Oleh Ahmad Humam Hamid*

Dalam keadaan psikologi publik yang dihantui oleh ancaman pandemi Covid-19, pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan dan seruan yang ditujukan untuk menyelamatkan rakyat. Salah satu kebijakan terbaru adalah new normal yang baru saja disebut oleh Presiden Jokowi. Bagi sebagian orang hal itu menjadi biasa, tinggal menunggu protokol yang mengatur. Bagi yang sebagian lagi new normal itu membingungkan.

Metafora new normal yang paling klasik adalah cerita tentang berubahnya cara menyajikan makanan pada acara-acara penting di Aceh .Orang-orang yang lahir pada tahun enam puluhan menjadi saksi penting transisi acara makan pada kenduri kawin atau kenduri mati di Aceh. Perpindahan dari cara menghidang makanan, yang butuh “armada pekerja” kepada model ala franc ketika orang mengambil dan memilih  makanan sendiri telah melahirkan berbagai kontroversi pada masa lalu. Ala franc merusak tradisi, tidak sopan kepada tamu, dan bahkan dijuluki tidak beradab. Butuh waktu puluhan tahun untuk membuat ala franc menjadi new normal dalam masyarakat Aceh.

Ketika “pasar” ikut serta dalam mengondisikan new normal, pergantian kebiasaan dapat menjadi lebih cepat. Penggunaan ATM, konsumsi mi instan, penggunaan android, termasuk penggunaan media sosial sebagai alternatif terhadap berbagai media biasa, adalah contoh-contoh yang menjadi peristiwa penting new normal yang telah kita alami.

Bayangkan saja new normal di kawasan pedesaan ketika kedai kopi diserbu oleh berbagai produk kopi instan, terutama kopi three in one yang menjadi salah satu pemicu diabetes saat ini. Atau lihat saja bagaimana penganan tradisonal anak-anak semisal pisang, ketela, atau ubi rebus yang kini telah digantikan oleh berbagai merek chicki untuk anak-anak. Itu adalah new normal.

New normal kali ini bukan datang dari fusi budaya, ataupun pasar, tetapi sebuah new normal yang disponsori dan dijalankan oleh negara yang dijalankan secara kolosal dengan menggunakan perangkat hukum dan aparatur.

Masyarakat Aceh sebenarnya tidak baru dengan new normal yang disponsori negara. Aceh mempunyai modal sosial besar dengan berbagai bencana yang pernah dialami, baik bencana yang berasal dari manusia-konflik Aceh selama lebih dari 30 tahun dan bencana alam yang datang dari “Pemilik “ alam semesta-tsunami 2004. Kedua bencana itu telah menghadirkan berbagai ragam new normal dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Dalam konteks Covid-19 kebijakan new normal ini sesungguhnya adalah sebuah “paket” kebijakan pemerintah yang mencari kombinasi yang serasi antara kegiatan kehidupan, utamanya ekonomi, pemerintahan, pendidikan, dan lain-lain dengan berbagai langkah perlindungan dan pencegahan ancaman pandemi.

“Paket” ini mengatur berbagai cara tindak individu, kelompok, komunitas, dan berbagai institusi yang akan membuat hidup berjalan normal, tetapi dengan cara new normal.

Tidak pernah ada dalam sejarah dunia di mana di hampir semua belahan bumi negara mengatur, paling kurang merekomendasikan cara rakyatnya dalam berinteraksi, bekerja, belajar, dan bahkan pengaturan dalam keluarga. Covid-19 telah berhasil memaksa masyarakat dunia dari berbagai suku bangsa dan ideologi  untuk melakukan hal itu dengan protokol yang relatif sama.

Tanpa terasa dalam beberapa bulan ini cukup banyak aspek kehidupan masyarakat telah berubah. Sebelum new normal disebut oleh Jokowi, sebenarnya telah terjadi perubahan dalam masyarakat seperti cara makan yang bebas dari virus, cara belanja, cara berkumpul, dan cara berkomunikasi. Tidak hanya itu, perubahan telah terjadi pula dalam cara mencuci tangan, cara belajar di sekolah, dan bahkan cara menyapa dan menghormati orang lain.

Apa ukuran masyarakat telah serius dengan new normal, bahkan sebelum new normal diberlakukan? Survei perusahaan konsultan periklanan Nielsen pada bulan April yang lalu menunjukkan ketika berita Covid-19 mulai dipublikasikan, produk supplemen-terutama vitamin, sabun, dan deterjen di Indonesia menunjukkan pertumbuhan 80,5 %,51%, dan 41,6 %.

Ketika berita kematian dan penyebaran Covid-19  viral dimana-mana, Nielsan dan Scan Track menemukan secara lebih spesifik, penjualan sabun naik, terutama sabun cair menjadi 285 %. Hal yang sama juga terjadi pada produk-produk lain, produk antiseptik 233%, pencuci tangan 199 %, dan vitamin, sebesar 81 persen.

Walaupun Nielsen tidak mengusut pasar tradisional, dari beberapa pemberitaan berbagai media nasional dan pengalaman lokal dilaporkan permintaan makanan herbal seperti jahe, temu lawak, dan kunyit putih naik tajam. Harga jahe merah yang sebelum korona Rp30.000, kini menjadi Rp80.000. Jahe biasa yang dulunya Rp15.000 kini menjadi Rp30.000. Temu lawak dan kunyit putih kini juga naik harganya lebih dari 100 %. Kenapa itu terjadi? Tanaman rempah itu dianggap dapat membendung dan melindungi individu dari transmisi Covid-19.

Terhadap konsumsi dari berbagai produk baru atau kenaikan jumlah pembelian rumah tangga tentu saja menjadi pembicaraan tersendiri dalam berbagai kalangan. Sebelum istilah new normal diperkenalkan oleh Jokowi, ketika sang isteri “diinterograsi” oleh suaminya tentang kenapa belanja rumah tangga meningkat, sambil menunjukkan belanjanya sang istri menjawab singkat, “Ini, untuk menghadapi Convid-19.” Kini jawaban terhadap pertanyaan suami yang cerewet itu akan bertukar, pendek, dan ringkas, “new normal”.

Kalau saja Covid-19 belum teratasi dengan baik secara lokal, nasional, atau global-mudah-mudahan Allah Swt akan memberi jalan mengatasinya-, kata new normal akan menjadi “kata pamungkas” untuk menjelaskan model interaksi manusia pada Lebaran Iduladha tahun ini. Paling kurang kata itu akan biasa saja dari mulut penduduk kota sampai ke pedesaan dengan ucapan yang sangat Aceh. Ucapannya bisa saja nee normal atau neu normal, persis seperti kata zona hijau atau merah, yang saat ini dengan lidah Aceh disebut dengan ”dona,” atau kata korona disebut dengan “keureuna.”

Ketika Iduladha nanti tiba, jabat tangan, ciuman-takzim, kasih sayang, dan cinta- serta pelukan mungkin akan menjadi barang langka, bahkan dalam keluarga sekalipun. Covid-19 sedang dan akan merusak, dan berpeluang besar untuk “mengubur” tradisi jabat tangan yang universal itu yang menurut rekaman arkeologi telah berumur dua ribu tahun.

Walaupun banyak tulisan menyebutkan bahwa jabat tangan dapat ditelusuri kepada tradisi Yunani-Romawi 5 abad sebelum Nabi Isa lahir, penelitian arkelogi terbaru menemukan relief salaman ditemukan di Mesopotamia-sekarang Irak. Relief yang ditemukan menunjukkan Raja Assyiria, Shalmaneser III sedang bersalaman dengan Penguasa Babylon yang tidak disebutkan namanya sedang bersalaman sebagai simbol persekutuan kedua kerajaan itu.

Tidak berhenti dengan salaman, kini ciuman juga sedang terancam dan juga akan berpeluang juga untuk menjadi barang “langka” dalam peradaban manusia. Sekalipun “cipika cipiki” telah menjadi norma global untuk menunjukkan ekspresi “keakraban”, “kehormatan”, atau “kasih sayang”, kini perilaku itu telah menjadi sumber petaka.

Ketika pengetahuan membuktikan “ciuman” dan “pelukan” adalah “jalan tol” untuk transmisi pandemi, miliaran manusia hari ini sedang akan mengucapkan “good bye kissing” sekaligus dengan “good bye hugging”. Kekuatan Covid-19 kini membuktikan perilaku “ciuman” pada manusia yang pada awalnya diduga sebagai “instink” makhluk hidup antara ibu dan anak adalah sesuatu yang tidak abadi.

Praktik ‘ciuman” yang dimulai di India 1.900 tahun SM ,yang kemudian dipinjam dan dibawa oleh tentara penakluk, pasukan Iskandar Zulkarnen ke Yunani, lalu diadopsi oleh Roma, tersebar ke Eropa. Tidak berhenti di situ, “ciuman” kemudian menjadi salah satu “elemen” penting pergaulan bangsa Arab, dan itu adalah barang ekspor dari Roma via perang dan persahabatan dengan Mesir dan Persia.

Kita tidak tahu kreasi apa lagi yang akan diciptakan oleh manusia untuk menciptakan perilaku yang menunjukkan ekspresi “romantisme” yang paling asasi ketika “ciuman” menjadi sesuatu yang “ditakuti”, bahkan ketika dua anak manusia telah bersatu secara dunia, apalagi secara akhirat.

Bagaimana membangun “imaginasi“ kita dari situasi normal kepada new normal supaya hidup dapat menjadi lebih tenang dan normal? Dalam sebuah podcast dari the Aspen Insitute –sebuah lembaga think  thank di Washington dengan “kolumnis jawara” the New York Times, Tom Friedman disitir istilah new normal yang menjadi salah satu kata kunci global saat ini. Inti dari wawancara itu adalah bagaimana peradaban berevolusi dari waktu ke waktu sesuai dengan tuntutan zaman. Ketika sesuatu yang baru datang, dan mencoba menggantikan sesuatu yang telah dipraktikkan sebagai sebuah kebiasaan, hal itu dianggap sebagai sesuatu yang asing, aneh, dan bahkan gila. Sesuatu yang baru itu kemudian berevolusi menjadi new normal untuk kemudian menjadi “normal”.

Dalam konteks pengalaman sosial kita di Indonesia, ingat saja ketika kebebasan pers, demonstrasi mahasiswa, perlawanan buruh, kecaman kepada penguasa, dianggap sesuatu yang tidak normal pada masa Soeharto berkuasa selama 30 tahun lebih. Ketika demonstrasi marak, pelecehan kepada rezim dilakukan secara terbuka, dan massa bergerak secara bringas, sikap itu dianggap sebagai sesuatu yang abnormal. Semua orang takut dengan label abnormal, kecuali mahasiswa dan beberapa tokoh nasional saat itu.

Ketika Soeharto lengser sikap-sikap yang dianggap abnormal telah berganti bajunya menjadi new normal. Masyarakat dan negara telah menganggap semua itu sebagai normal baru dari konsekuensi demokrasi. Hari ini semua perangkat kebebasan itu telah menjadi sesuatu yang normal dan bagian dari menu kehidupan keseharian kita. Bahkan, hari ini, ketika ada penguasa yang mengeluh terhadap berbagai sikap normal “kebebasan” publik, sang penguasa menjadi objek olok-olokan abnormal dari publik.

Bedanya new normal reformasi dengan new normal sekarang, ini bukan hanya urusan negara saja, tetapi ini urusan hidup mati kita, keluarga kita, masyarakat kita, dan masyarakat manusia lainnya.

Akhirnya jangan pernah takut untuk tidak mau bersalaman, jangan merasa kurang romantis kalau tidak mencium, jangan pernah merasa rendah diri untuk untuk menjaga jarak, jangan merasa paranoid kalau mencuci tangan sepuluh kali sehari, dan jangan merasa tidak sopan kalau tidak mencium tangan mertua. Kita sedang memulai sebuah sprint awal dan mungkin juga sebuah marathon panjang evolusi. Kita sedang berenang dalam samudera normal melewati gelombang abnormal. Setelah itu kita akan lalui selat kecil new normal, untuk kemudian sampai kepada “pelabuhan normal” yang kita tidak tahu berapa lama waktunya kita di sana. Ucapkan Mahabesar kepada Sang Khalik, selamat datang ke episode lanjutan “marathon peradaban”.[]

Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Editor : Ihan Nurdin