Libur Pandemi Korona Kugunakan untuk Menambah Hafalan Quran

Oleh Syifa Ramadhani*

Pertengahan bulan Maret 2020, kami para santri Pesantren Baitul Arqam, Aceh Besar tiba-tiba dikejutkan dengan kabar hadirnya virus corona di Indonesia, tak terkecuali di Aceh. Pemerintah pun membuat kebijakan meliburkan sekolah, termasuk di pesantren tempat saya selama ini menimba ilmu.

Tepatnya pada 17 Maret 2020, pihak pesantren mengeluarkan surat berisikan informasi kalau untuk sementara proses belajar mengajar dilanjutkan dari rumah. Teman-teman pun mulai kembali ke kampung halamannya di berbagai daerah di antaranya Aceh Tengah, Aceh Barat Daya, dan Aceh Singkil. Saya sendiri berasal dari Kota Medan, Sumatera Utara, tetapi saya memutuskan tidak pulang kampung dan kembali ke Rumah Penyantun Muhammadiyah (RPM) di Gampong Punge Blang Cut, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh.

Di tengah marak-maraknya tersiar kabar mengenai virus korona itu, saya menghabiskan waktu di RPM dengan mengikuti program karantina hafalan Alquran yang dibuat oleh pengelola RPM. Seluruh penghuni RPM wajib mengikuti program ini, termasuk saya. Kecuali anak-anak kelas tiga SMP dan SMA/sederajat karena mereka saat itu sedang ada tugas yang diberikan oleh guru masing-masing menjelang ujian nasional.

Santri yang mengikuti karantina hafalan Alquran mencapai puluhan. Untuk santri putri mencapai 28 orang dan yang putra sekitar 30 orang. Selama karantina berlangsung antara putra dan putri dipisahkan. Untuk santri putri pembinanya Kak Yurni Hardianti dan yang putra dibina oleh Bang Hizqil Apandi.

Dalam satu hari kami disuruh menghafal minimal delapan baris ayat Alquran. Dan wajib menyetornya ketika malam karena kalau siang hari Kak Yurni masih bekerja. Cara kami menyetor hafalan sistemnya dipanggil satu per satu.

Target karantina kali ini dalam satu bulan kami harus menghafal satu juz Alquran. Jadi, semua anggota karantina berpartisipasi untuk menyelesaikan target tersebut. Dalam kurun beberapa waktu kabar tentang korona semakin parah. Dinas sosial mengatakan bahwa anak-anak di RPM harus pulang. Kami berpikir karantina itu diberhentikan, ternyata tidak. Tetap berlangsung.

Bagi santri yang tetap mau mengikuti karantina mereka bisa tinggal di asrama. Pembina RPM berpikir karena mereka takut melepaskan para santri untuk pulang ke kampungnya masing-masing. Dan pada hari itu, para penghuni RPM memutuskan untuk pulang kampung, tapi tidak denganku. Aku tetap mengikuti karantina ini.

Program karantina hafalan Alquran dimulai sejak 18 Maret 2020 dan berlangsung selama satu bulan lebih. Dalam waktu tersebut para santri wajib menghafal satu juz Alquran. Program ini dilaksanakan di malam hari, di waktu zuhur atau asar juga bisa kalau ada pembinanya. Saya sendiri saat itu menghafal juz 2.

Selama masa karantina berlangsung, aktivitas saya dimulai sejak bangun tidur kemudian mandi dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh wali kelas. Kemudian setelah itu istirahat sambil menonton televisi sampai sore. Dilanjutkan malam hari mulai menghafal dari setelah magrib hingga isya. Dalam satu waktu saya bisa menghafal delapan baris atau satu halaman, tergantung mood juga. Targetnya dalam satu malam hafalannya delapan baris.

Awalnya sempat terpikir untuk tidak ingin mengikuti program ini karena malas, dan ada juga teman-teman yang tidak mendukung. Lalu dari hari ke hari saya mulai membiasakan menyetor hafalan tanpa teman dan akhirnya betah sehingga bersemangat mengikutinya sampai selesai. Intinya, pertama kali ikut saya merasa terpaksa dan akhirnya jadi senang dan bangga. Dan menjelang akhir-akhir program saya masih bersemangat menghafalnya.

Saat saya menuliskan catatan ini, program hafalan sudah berlangsung selama satu bulan dan tersisa satu minggu lagi. Saya sudah menghafal 6,5 lembar. Ada sedikit perasaan menyesal karena dalam waktu selama itu, tetapi hafalan saya masih enam lembar. Inginnya dalam waktu selama itu saya bisa menuntaskan seluruh target hafalah sampai habis. Itu lama karena antrean para santri yang panjang, apalagi nama saya yang berawalan huruf “S” sering dipanggil di akhir setoran jadi sudah malah menyetornya.

Ketika menyetor hafalan ini rasanya dag dig dug. Muncul rasa takut, takut tiba-tiba lupa, takut tiba-tiba macet, tapi lega karena sudah setor hafalan.

Saat awal-awal karantina kami para santri tidak boleh memegang telepon seluler yang kami punya. Belakangan diperbolehkan dengan syarat tidak mengganggu proses hafalan. Saya pun jadi fokus menghafal karena suasana di asrama yang sejuk, nyaman, dan tentram. Cocok untuk tempat menghafal Alquran.

Sekadar informasi ya teman-teman, Rumah Penyantun Muhammadiyah ini bukan tempat sekolah. Di sini kita cuma tinggal doang, sekolahnya di luar. Akan tetapi, di sini dikhususkan untuk anak-anak kurang mampu atau anak yatim/piatu. Dan insyaallah di RPM ini akan dijadikan rumah tahfiz Alquran.[]

Penulis adalah santri kelas 2 Madrasah Aliyah Pesantren Baitul Arqam, Sibreh, Aceh Besar

Editor : Ihan Nurdin