Ombudsman Aceh Minta Polda Usut Ratusan Leumo Pijut di Saree

ACEHTREND.COM,Banda Aceh-Ketua Ombudsman RI Perwakilan Aceh Dr. Taqwadin Husen, Sabtu (6/6/2020) meminta jajaran penegak hukum dari Polda Aceh untuk turun tangan mengusut tuntas pengadaan lembu di Dinas Peternakan Aceh, serta pola pengelolaan lembu di UPTD Inseminasi Buatan dan Inkubator (IBI) Saree, Aceh Besar.

Dalam rilisnya kepada aceHTrend, Taqwadin menyebutkan, kepolisian harus tampil mengusut tuntas karena terlantarnya ratusan sapi-sapi indukan di UPTD IBI Saree, sehingga menyebabkan sapi-sapi itu kurus kering, bukanlah hal biasa.

Menurut Taqwadin, informasi yang diterima pihaknya, kurusnya ratusan sapi indukan di sana karena kekurangan pakan. Tentu hal tersebut bukan sesuatu yang biasa saja. Sebab setiap tahun puluhan miliar terserap untuk pengadaan pakan konsentrat dan hijauan untuk sapi-sapi yang dikelola oleh Dinas Peternakan Aceh.

“Kami sudah turun langsung ke sana, melakukan investigasi pda Jumat (5/6/2020). Berdasarkan hasil investigasi Ombudsman, didapatkan informasi bahwa sapi-sapi tersebut kurus karena kurang asupan makanan. Sehingga menjadi kurus, sakit, kurang gizi, dan sangat memprihatinkan,” kata Taqwadin.

Pihak Dinas Peternakan, menurut Taqwadin adalah yang paling bertanggungjawab. Mereka harus dimintai pertanggungjawaban perihal pengelolaan pengembangan sapi-sapi milik Pemerintah Aceh.

Berdasarkan informasi, tambah Taqwadin, sampai sekarang belum ada payung hukum tentang pemanfaatan sapi tersebut untuk menambah Penghasilan Asli Daerah (PAD). Sehingga sapi-sapi tersebut tidak dapat dimanfaatkan dan hanya dipelihara saja sejak pengadaannya pada tahun 2016 dan 2017.

“Saat ini Aceh belum ada payung hukum tentang pemanfaatan sapi hasil ternak tersebut, masih berorientasi pada bidang pendidikan saja. Sehingga sapi di sini terkadang sudah mengalami sampai tiga kali penggemukan. Itu menurut keterangan Kepala UPTD IBI Saree Zulfadhli kepada tim Ombudsman Aceh.”

Tambah Ketua Ombudsman Aceh “Terkait sapi-sapi yang kurus, Zulfadhli juga menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena kekurangan konsentrat dan bukan karena proses adaptasi.”

Program pemeliharaan sapi-sapi di sana sudah berjalan empat tahun, dari 2016 sampai 2020. Semestinya setiap tahun di evaluasi capaian yang diraih. Tapi Disnak Aceh malah sibuk terus menerus untuk program yang tidak memberi manfaat nyata bagi masyarakat. “Idealnya, dengan proyek pengadaan penggemukan sapi yang mencapai 700-an ekor pada tahun 2016 dan 2017 harga daging sapi di Aceh bisa turun. Tapi faktanya, tidak juga,” papar Taqwaddin.[]