[Ruang Semangat]: Produktivitas Guru Menulis di Masa Pandemi

Amna Wati

Oleh Amna Wati, S.Pd. I*

Dunia tengah dilanda sebuah ujian yang dikenal dengan COVID-19 atau virus korona. Sejenak Allah Swt mengubah segala aktivitas outdoor manusia dalam waktu yang singkat. Ya, sebuah ujian bagi segenap manusia secara internasional.

Pada masa karantina, atau disebut juga masa pandemi seperti sekarang ini tentu menuai banyak pengalaman pribadi maupun pengalaman secara sosial. Jika sebagian orang memilih diam di rumah sambil duduk manis, maka saya memilih untuk melatih jari–jari di atas keyboard bermerk ASUS untuk menulis apa saja ide yang ada dalam pikiran saya.

Sebagai seorang guru SD, tentu saya menjalankan kewajiban belajar mengajar seperti guru lainnya. Pengalaman mengajar online memang memiliki plus minus bagi sebagian orang, khususnya wali murid tercinta. Banyak yang senang sekaligus fun belajar lewat dunia maya, tetapi ada juga yang memiliki beberapa kendala seperti orang tua telat pulang bekerja, tidak memiliki kuota memadai, dan masih banyak lagi.

Banyak guru menuangkan isi pikiran dan isi hatinya selama mengajar online. Ya, dunia internet memang mengajarkan banyak hal kepada penggunanya, mulai dari pengenalan berbagai aplikasi, promosi pendidikan dan lainnya. Bagi saya pribadi, di samping menulis pengalaman mengajar online, saya juga begitu semangat menuliskan kisah inspiratif yang saya alami.

Hari–hari yang saya lalui di masa pandemi merupakan kesempatan baik bagi saya untuk mengoleksi beberapa tulisan. Dengan rentetan tugas sekolah dan kewajiban sebagai seorang guru, saya selalu menyempatkan waktu untuk melatih keseimbangan jari demi terwujudnya sebuah tulisan sederhana. Di sini saya mengajak rekan guru atau yang berprofesi apa pun untuk terus menulis. Jika belum pernah maka teman guru bisa memulainya dari sekarang.

Semangat Menulis? Bagaimana Caranya?        

Secara hakikat, menulis adalah memindahkan pengalaman ke dalam sebuah tulisan, itu pengertian paling simpel menurut saya. Tidak ada cara efektif untuk memulai sebuah tulisan. Cara ampuhnya hanya satu, yaitu tulislah. Awali dengan bismillah dan tulislah apa yang Anda rasakan, alami dan dengar. Di samping itu perbanyak membaca buku, surat kabar, artikel dan sebagainya agar memperluas wawasan dalam menulis. Ketika keinginan menulis muncul namun bergumam dalam hati, takut hasil tulisan tidak menarik atau tidak kreatif. Itulah penyebab utama rencana menulis selalu gagal dan batal.

Menulis tidak membutuhkan IQ yang tinggi, tidak harus menjadi seorang doktor atau master, semua bisa menulis asalkan ada kemauan dan mau “action”. Mulailah dulu dengan kata atau kalimat yang paling sederhana kemudian kembangkan secara perlahan. Menulislah seperti layaknya air yang sedang mengalir, jika ada hambatan, maka jangan segan bertanya atau konsultasi dengan rekan atau teman yang senang di bagian kepenulisan. Ini penting untuk mendapatkan motivasi dan semangat baru dalam perjuangan menulis Anda.

Ketika sudah memulai, maka Anda perlahan akan jatuh cinta pada kegiatan menulis, bacalah sebanyak–banyaknya sumber referensi orang lain, baik secara langsung maupun secara online. Terus tulis dan jangan ada kata “minder”, yakin saja target Anda pasti akan berhasil. Separuh tulisan yang sudah Anda tulis, segera tuntaskan hingga rampung, setelah itu baca kembali, baca berulang sehingga Anda cinta pada tulisan Anda sendiri. Dengan begitu kebahagiaan akan datang dengan sendirinya.

Manfaat Menulis

Suatu ungkapan mengatakan ‘ikatlah ilmu dengan menuliskannya’. Kita dapat mengetahui apa yang terjadi di masa silam karena ada yang mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan. Menulis sangat banyak manfaatnya. Pertama, melatih kesabaran diri. Dengan menulis kita akan terus belajar sabar, belajar mengedit / memperbaiki, belajar memperbanyak kosakata, belajar konsisten dan belajar giat. Kedua, menulis adalah bagian dari ibadah, maksudnya adalah apapun yang kita tulis tentu akan membawa manfaat dan ilmu baru bagi para pembacanya. Ketiga, menulis adalah ruang tempat di mana kita dapat menciptakan jembatan berkomunikasi dengan diri sendiri juga dengan orang lain. Keempat, kebiasaan menulis akan mengasah dan mempertajam kemampuan diri dalam berbahasa tulis. Kelima, menulis dapat melatih ketajaman untuk berkonsentrasi.

Konsisten dalam Menulis

Berbicara masalah konsisten, sebagian orang menganggap hal tersebut sangat sulit untuk dilakukan. Konsisten berarti tetap teguh dan giat pada suatu tindakan ataupun perbuatan, tidak peduli apa pun hambatan ia akan tetap melakukannya. Menulis sangat membutuhkan sikap konsisten tersebut.

Ada beberapa model penulis berdasarkan tujuannya, ada yang menulis untuk menang sebuah kompetisi, begitu kalah, maka akan berhenti. Ada yang menulis untuk mengejar popularitas, ada yang menulis hanya untuk mendapatkan sebuah pujian manis dari rekannya. Ada yang menulis dari hati, untuk pribadi sekaligus untuk saling berbagi, itulah penulis sejati. Ia akan tetap menulis di berbagai keadaan dan kondisi, konsisten dan tidak terpengaruh dengan apapun, terus saja tetap menulis walaupun hanya satu atau dua paragraf.

Lantas, apa yang perlu dilakukan agar konsisten dalam menulis ? Membangun kebiasaan menulis setiap hari, ini dia rahasianya. Meskipun pada awalnya banyak tekanan karena harus selesai menulis, jika dilakukan secara terus menerus maka akan menjadi sebuah kebutuhan yang perlu dipenuhi. Fokus pada tulisan yang sedang Anda tulis, kreatif atau tidak itu soal nomor 99 karena yang terpenting sudah berwujud sebuah tulisan. Kemudian, motivasi diri Anda sendiri. Yang terpenting adalah memotivasi diri sendiri, sebab itu akan mendatangkan kenyamanan dalam menulis. Caranya di sela menulis datanglah ke tempat yang Anda sukai untuk sekedar me-refresh pikiran Anda sejenak.

Simpan dalam pikiran dan hati Anda jika menulis adalah hal istimewa yang mudah dijalankan. Menulislah setiap hari, tuliskan apa yang Anda alami baik pengalaman sehari- hari, mendatangi tempat yang indah dan menarik, hasil bacaan, dan hal yang sedang banyak diperbincangkan khalayak ramai. Tulis dan terus tulis, hindari kata menyerah atau kata saya tidak mampu, karena hal itu justru dapat membuat semangat menulis seketika down dan hilang.

Jika menulis sudah terbiasa setiap hari, otomatis menulis akan menjadi sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi, sudah sampai di titik bahwa Anda hebat! Latih terus setiap kata yang ditulis, banyak membaca dan bertanya. Dengan demikian pengalaman menulis akan terus menerus meningkat dan lebih baik. Maka, saya mengajak seluruh teman–teman baik guru atau apa pun profesi kita untuk terus menulis setiap hari. Niatkan tulisan kita adalah bagian dari ibadah kita, menulislah dari hati. Ikhlas seperti air mengalir. Semoga kita terbiasa menulis dan senantiasa bermanfaat bagi orang lain. So stay positive, do more action, and get your higher performance! Selamat menulis dan semoga segera jatuh cinta dengannya.[]

Penulis adalah Guru Agama di SD Sukma Bangsa Lhokseumawe

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent