Lhob Mate Corona (13): Ketika “Sang Khalifah” Menjadi Sumber Pandemi

Ahmad Humam Hamid. [Ist]

Oleh Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid

Apa hubungan antara Leuser dengan pandemi yang kini sedang meluluh lantakkan kehidupan manusia, ekonomi global, geopolitik, dan bahkan peradaban. Bagimana mungkin keputusan politik pemerintah kabupaten kota, propinsi, dan bahkan Pemerintah Pusat yang mengatasnamakan kemajuan pembangunan, pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan mempunyai titik singgung dengan pandemi semisal Covid-19?

Apa urusan izin bangun PLTA di Tampur dan beberapa tempat lain di Aceh dipersoalkan? Kenapa izin konsesi kelapa Sawit di kawasan gambut ditelisik? Apa yang salah dengan kebijakan infrastruktur jalan raya yang membelah hutan tropis perawan? Atau pertanyaan lanjutan yang juga konyol, apakah lebih penting hak hidup orang hutan, gajah, harimau, badak dari manusia Aceh? Apakah strategi “pembangunan hijau” tidak meletakkan kepentingan manusia, ataukah lingkungan dan kepentingan manusia sesuatu yang mesti dipertentangkan?

Seringkali ketika para aktivis lingkungan berdebat dengan politisi, pejabat publik, atau korporasi, mereka dinarasikan sebagai “penghambat” pembangunan, “pengacau kemajuan”. Kalau saja katup kebebasan 1998 tidak dibuka oleh “generasi reformasi” para aktivis lingkungan kita barangkali akan dijuluki, “musuh umum” dan bahkan mungkin “subversive”.

Ada hikmah besar di balik ledakan pandemi Covid-19 yang kini sedang menerpa bumi? Kini ilmu pengetahuan semakin mampu mebuktikan bahwa asal muasal pandemi seperti Covid-19 dan masih banyak lagi pandemi di masa depan berasal dari gugus makhluk tercerdas, dan terhebat di muka bumi; manusia.

Mereka telah menggunakan status “khalifah”-Tuhan di muka bumi bukan untuk membuat kehidupan yang bertanggung jawab. Manusia telah menggunakan mandat “khalifah” untuk merusak bumi, mentransormasikan dirinya dari insan kamil menjadi “insan buas”, sama buasnya dengan makhluk lain yang tidak menggunakan dan bahkan tidak mempunyai kognitif.

Salah satu novel yang paling banyak dibaca orang pada hari ini, the Peste/the Plague– Sang Wabah- yang dikarang oleh filosof ekstensialis Albert Camus, menggambarkan kehidupan di kota Oran, Aljazair yang diserang oleh kolera ketika puncak Perang Dunia ke dua sedang berlangsung. Ada banyak metafora dan pesan yang disampaikan. Salah satu pesan Camus yang penting adalah pandemi sebagai tragedi kehidupan zaman moderen yang merupakan konsekuensi dari “kehebatan” manusia itu sendiri.

Sekalipun tulisan-tulisan Camus tidak secara gamblang menyebutkan eksploitasi manusia terhadap alam, tetapi ungkapan tak langsung tentang pandemi dan modernitas cukup memberi signal kepada kita betapa salah satu “isi perut” modernitas adalah kerakusan manusia dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan tehnologi untuk mengekploitasi alam. Salah satu mesin penggerak modernitas adalah kekuasaan dan jaringan gurita “kapital” yang tidak pernah berhenti siang malam berekreasi untuk melayani prinsip akumulasi, dengan objek yang paling empuk, bumi, dan segala yang melekat dengannya.

Apa yang ditulis oleh Camus sebagai sebuah cerita fiktif, kemudian menjadi sangat terbukti dan nyata dalam uraian akademik Sonia Shah (Pandemic, 2017). Shah mengambarkan kesalahan besar manusia ketika melihat pandemi sebagai akibat dari datangnya sebuah makhluk kecil yang bernama virus. Sang manusia sering abai melihat dirinya sebagai “pemicu besar” bencana, sekaligus gagal melihat sang makhluk dalam sebuah gambaran “mata rantai” ekologi dan lingkungan yang lebih besar dan bertali temali.

Cerita pandemi zaman moderen bukanlah cerita tentang bagaimana sang virus “menyerang” manusia, tetapi bagaimana perilaku manusia yang tidak pernah berhenti menyerang alam, di mana virus adalah salah satu makhluk penting di dalamnya. Intinya, ibarat sebuah perang, dan pandemi itu musuh, adalah manusia yang dengan sengaja dan tak pernah henti mengundang virus untuk keluar dari habitatnya dan kemudian melayani perang dengan manusia.

Sosok virus adalah deskrepsi panjang tentang kompleksitas kehidupan bumi yang saling kait mengkait. Di samping manusia, ada berbagai penghuni bumi lain yang hak hidupnya juga sama dengan manusia. Hebatnya, karena manusia mempunyai akal, mereka yakin bahwa seluruh makhluk di alam ini harus tunduk dan mengalah kepada manusia. Dan inilah prinsip utama yang menganggu keseimbangan dan kesehatan bumi

Dengan tiga cabang besar ilmu – biologi, fisika, dan kimia, manusia merasa kekhalifahan yang mereka miliki adalah sebuah kedigdayaan yang “niscaya” dan berujung kepada “penaklukkan alam”, sebagai sebuah simbol superioritas. Mereka lupa bahwa manusia, binatang, tumbuhan dan alam sekitar adalah para aktor penting dari sebuah keseimbangan ekosistem. Mereka lupa bahwa sang Khalik telah menciptakan sebuah keseimbangan alam semesta; bumi dan makhluk hidupnya telah dijadikan hidup bersama dalam sebuah kesimbangan.

Sama dengan berbagai ledakan wabah di masa lalu, pandemi Covid-19 adalah pesan alam kepada manusia bahwa telah terjadi ketidakseimbangan yang cukup fatal dalam sebuah ekosistem. Alam tak mampu lagi memberi toleransi kepada mahluk yang bernama homo sapiens-manusia. Upaya alam mencari keseimbangan itu termanifestasi dari berbagai kejadian, salah satunya adalah tertuju kepada “pemusnahan” manusia menuruti hukum alam yang berlaku, sebagai konsekuensi dari ancaman ketidakberlajutan kehidupan Covid-19 di alam.

Kita tidak pernah tahu pasti secara statistik berapa jenis dan jumlah mahluk yang “numpang” di planet bumi kita. Sebuah perhitungan yang ditulis dalam jurnal ilmiah Plos Biology oleh Mora dkk (2011)menyebutkan ada sekitar 8,7 juta spesies makhluk hidup, dengan komposisi, 6,5 juta spesies di daratan dan 2,2 juta lainnya berada di lautan. Dari jumlah itu baru 14 persen spesies darat, dan 9 persen spesies laut yang baru dapat dideskripsikan oleh para ahli, dan selebihnya masih belum terjelaskan.

Dalam kaitannya dengan pandemi, menurut Khaterine Ju (National Geographic, April 2020) diperkirakan jumlah virus dipermukan bumi sekitar 10 nonilion atau membaca cara matematika rendahan 10 pangkat 31. Jika kita menggunakan cara menghitung secara awam jumlah virus itu sama dengan bintang yang ada di langit dikalikan dengan 100 miliar. Seandainya 10 nonilion virus dikalikan dengan diameter rata-rata virus 200 nanomilimeter, dan kemudian disambungkan satu persatu, maka panjangnya akan mencapai 200 tahun juta cahaya. Itu artinya sambungan virus ini di samping melewati tata surya bumi, akan melewati pula beberapa tata surya lainnya.

Pandemi kali ini barulah satu spesies dari 10 nonimilyar virus yang ada di alam yang menyerang manusia, itu terjadi karena telah terjadi kerusakan sistem kesimbangan ekosistem akibat ulah manusia sendiri. Apa yang terjadi di Wuhan adalah sebuah upaya adaptasi virus Covid-19 untuk bertahan hidup dan meneruskan kehidupannya dalam rangkai suatu sunnatullah. Kelelawar yang selama ini inangnya, tempat hidup dan dihidupi semakin terancam oleh ekspansi manusia. Semakin banyak lahan dan hutan yang dikonversi menjadi kawasan budidaya, pemukiman, bahkan kawasan industri. Semua makhluk hidup kecuali manusia, semakin tergiring, terdesak dan terkepung kedalam kluster-kluster alami yang semakin kecil.

Berbagai informasi dan seruan yang disampaikan oleh para ilmuwan dan pegiat lingkungan yang selama ini terlalu sulit dan rumit dimengerti kini telah gamblang terlihat dan mudah dimengerti. Ketika ada penjelasan tentang perlunya keseimbangan ekosistem dari ahli dan pegiat lingkungan yang selama ini sering dianggap sebagai hikayat ataupun cerita pengantar tidur, kini telah menjadi kenyataan dengan harga yang harus dibayar mahal.

Pandemi Covid-19 kali ini memberikan paling pelajaran penting kepada kita untuk dapat memahami pentingnya manusia mengambil jalan kehidupan yang menempatkan keseimbangan dalam berurusan dengan alam. Kini kita dibuat sadar bahwa kemajuan teknologi yang tidak disertai dengan pengetahuan lingkungan dan dilanjutkan dengan komitmen keseimbangan adalah sebuah proses bunuh diri manusia yang tidak hanya terjadi pada level komunitas, negara, ataupun kawasan. Akan tetapi sikap itu akan menjadi ancaman kepada manusia pada tingkat global, bahkan ancaman kepada kemanusiaan itu sendiri.

Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala.