Lhob Mate Corona (14) Pandemi Masa Depan, Lhöng, dan Satwa Ekosistem Leuser Kita

Ahmad Humam Hamid. [Ist]

Oleh Profesor Ahmad Humam Hamid

Kepustakaan pandemi dalam lintasan abad dan millennia adalah kepustakaan yang menerangkan tentang berpindahnya inang sang makhluk kecil -bakteri atau virus dari inang alaminya, sesama makhluk hidup non manusia kepada manusia. Istilah penyakit zoonosis yang dikaitkan dengan penyakit menular adalah cerita yang lebih lengkap bagaimana sebuah uraian tentang teka teki alam yang menggambarkan transformasi makhluk kecil yang bernama bakteri atau virus yang menjadikan manusia sebagai inang barunya yang kemudian menjelma menjadi mesin pembunuh manusia itu sendiri.

Bukti sejarah tentang wabah, pandemi,sebagai penyakit zoonosis ditulis dalam senarai kejadian wabah ataupun pandemi. Ambil saja contoh wabah Athena, 450 tahun sebelum masehi yang disebabkan oleh campak, berasal dari Ethiopia yang pada awalnya diduga berinang pada ternak. Sama tapi tidak serupa Wabah Antoninus, di kerajaan Romawi, 165-180 tahun setelah Masehi (korban 5 juta jiwa); Wabah Black death tahun 1347 -bakteri melalui kutu dan lalat berasal dari Cina (korban 200 juta jiwa), pandemi Flu spanyol,1918, -virus melalui babi, (korban 40-50 juta jiwa), SARS- 2002-2033 virus melalui babi dan musang di Cina (korban 770 jiwa), HIV- virus melalui simpanse di Republik Demokrasi Kongo 1981-sekarang (korban 25-35 juta jiwa). Pandemi MERS di Timur Tengah- 2015 -sekarang, virus melalui kelelawar dan Unta (korban 870 jiwa).

Covid-19 juga berasal dari hewan, yakni kelelawar-kalong yang saat ini menurut para ahli termasuk satwa yang terancam punah baik secara jumlah, maupun spesies. Jumlah kelelawar dan berbagai makhluk lain yang semakin berkurang membuat berbagai jenis virus yang pada awalnya berserakan secara geografis dengan kepadatan rendah menjadi semakin terkonsentrasi, dan ketika semua mereka terkepung, mereka mulai “berinovasi” yakni bermutasi-sebuah proses biologi yang memerlukan deskripsi tersendiri untuk menjelaskan. Intinya, secara bahasa sedehana, mutasi adalah perubahan materi genetik yang dilanjutkan dengan perubahan gen-sifat sifat keturunan setelahnya yang membuat generasi terakhir sangat berbeda dari generasi sebelumnya.

Dalam kasus Covid-19 di Wuhan, proses mutasi itu adalah berubahnya inang Covid-19 dari yang dahulunya kelelawar-kalong kepada manusia. Momentum selanjutnya adalah menularnya Covid-19 dari manusia ke manusia. Bermula di Wuhan, lalu ke Lombardi Italia, Paris, London, AS, Amerika Latin, Asia, dan seluruh belahan bumi. Dr.Anthony Fauci-Kepala Institute Penyakit Menular dan Alergi AS- mencatat kebiasaan penyebaran berbagai penyakit menular penting secara global yang sebelumnya butuh waktu 6 bulan. Semua rekor kecepatan penyebaran penyakit terdahulu kini dikalahkan oleh Covid-19 yang hanya butuh waktu sebulan saja untuk bertebaran di seluruh permukaan bumi.

Pandemi kali ini juga menyadarkan semua pihak bahwa bumi telah menjadi sebuah kampung kecil, sehingga kebaikan atau keburukan, terutama penyakit menular pada sebuah sudut, akan memberi dampak kepada seluruh isi kampung yang semakin lama akan terjadi dengan proses yang semakin cepat. Hal ini terjadi karena pandemi tidak mengenal batas kampung, kabupaten, suku, agama, ideologi, dan negara. Mereka mencari calon inang baru yang akan menjamin keberlanjutan kehidupannya, dan yang terdekat . Kandidat terkuat yang mempunyai banyak kemiripan dengan inang satwa sebelumnya adalah manusia-homo sapiens.

Kecepatan penyebaran juga terjadi akibat “prestasi” lain yang dicapai oleh manusia, teknologi transportasi, terutama pesawat terbang. Ketika keseimbangan mereka dirusak, maka ancamannya adalah berpindahnya virus dari inang lama, sesama hewan yang tidak berakal kepada inang baru yakni manusia- sang hewan yang berakal. Inilah kisah besar tragedi kemanusiaan yang kini sedang melanda 7 miliar manusia.

Sebenarnya penyakit zoonosis yang serupa yang juga disebabkan oleh kelelawar-kalong via babi juga pernah terjadi di Malaysia pada tahun 1998-1999. Virus yang pertama kali muncul di Sungai Nipah, Negeri sembilan Malaysia juga berasal dari babi kepada manusia. Sesuai dengan tempat pertama munculnya, virus ini medapat penamaan internasional sebagai virus Nipah. Pada saat itu virus ini memakan korban mati 105 orang di Malaysia. Kejadian berikutnya sempat terjadi di Thailand, Bangladesh, dan India, namun masih dapat dikendalikan.

Walaupun babi yang menjadi sumber penularan ke manusia, sesungguhnya virus Nipah ini berasal dari buah jatuh yang dimakan oleh kalong di kandang babi di kawasan sungai Nipah yang lokasinya berdekatan dengan kawasan hutan. Buah itulah yang membawa virus dari kelelawar kepada manusia lewat babi. Untuk mengontrol virus Nipah Pemerintah Malaysia terpaksa membunuh lebih dari 1 juta babi di peternakan Malaysia pada saat itu.

Dalam konteks kita di Aceh keberadaan kawasan ekosistem Leuser jangan pernah dianggap enteng, karena di kawasan itulah saat ini dan di masa depan sebagian besar spesies makhluk hidup Pulau Sumatera akan hidup bertahan, atau punah di desak oleh ekspansi kegiatan manusia. Dikaitkan dengan potensi pandemi, yang diperkirakan 75 persen penyakit menular adalah zoonosis, di masa depan maka keberadaan Leuser menjadi penting, karena bila salah pengelolaannya akan berpotensi tidak hanya menjadi bala lokal, bahkan dapat menjadi bala global seperti Covid-19 ini yang sedang terjadi.

Penyakit zoonosis hanya terjadi bila ada kontak antara manusia dan hewan,dan inilah yang menjadi relevan untuk dikaitkan dengan ekosistem Leuser. Dan itu artinya penyakit sejenis Zika, Ebola, SARS, flu burung, MERS, dan Covid-19 yang semuanya merupakan penyakit zoonosis, yang terjadi di berbagai tempat di dunia juga berpeluang untuk terjadi di Aceh, ketika keseimbangan ekosistem terjadi.

Penetapan ekosistem Leuser sebagai kawasan strategis nasional sesungguhnya sangat tepat,karena keunikan dan kekayaan yang dimilikinya. Kawasan ini adalah salah satu kawasan tropis yang paling kaya keanekaragaman hayatinya di dunia. Dengan hanya melihat kepada satwa saja, kawasan ekosistem Leuser memiliki hampir 800, yang terbagi kepada 200 jenis mammalia, 380 jenis burung, dan 190 jenis makhluk reptil dan amfibi. Dalam konteks lhöng– kalong-kelelawar dari 1400 spesies kelelawar di dunia, Leuser mempunyai 47 spesies lhöng yang hidup di gua-gua di berbagai tempat di dalam kawasan.

Harus kita akui rencana pemanfaatan sumber daya alam oleh pemerintah yang telah dilakukan selama ini, dan akan dilakukan di masa depan, kurang sekali memperhatikan kosep keseimbangan alam. Contoh terakhir adalah rencana Tata Ruang Baru Pemerintah Aceh yang oleh banyak ahli dan pegiat lingkungan dipertanyakan dengan sangat serius. Dengan alasan meletakkan kepentingan manusia Aceh di atas segalanya, maka kebijakan pemanfaatan yang menomorduakan keseimbangan lingkungan dijadikan landasan pembangunan masa depan.

Kita semua lupa, manusia bisa berpikir dan mencari jalan keluar dari berbagai masalah, dan itu berbeda dari makhluk liar yang hidup di dalam kawasan Leuser yang tidak bisa berpikir, namun mempunyai insting bertahan hidup luar biasa. Berbagai satwa di Leuser saat ini dalam ancaman kepunahan, dan itu artinya keseimbangan ekosistem dalam taruhan. Sekalipun mahluk itu tidak bisa berpikir seperti kita, mereka mempunyai insting alami untuk bermutasi, termasuk bermutasi mencari inang baru, manusia.

Apakah ekosistem Leuser berpotensi untuk pada suatu waktu nanti akan memunculkan penyakit menular dan bahkan pandemi? Tidak ada seorangpun yang akan berani mengatakan tidak. Yang bisa kita katakan adalah setiap gangguan keseimbangan ekositem secara masif, pasti akan diikuti oleh berbagai bencana untuk manusia. Dengan melihat kepada bentang alam ekosistem Leuser, dengan berbagai kepadatan keanekaragaman hayati maka apa yang telah terjadi di berbagai tempat lain di dunia, dengan kondisi yang relatif sama dan serupa dengan ekosistem Leuser, pandemi berpeluang untuk suatu hari akan terjadi di Aceh

Kita pasti berdoa dan mudah-mudahan tidak ada satu dari 14 jenis lhöng -kalong Leuser yang akan menjadi sumber pandemi global masa depan seperti kejadian virus Nipah -kalong via babi di Sungai Nipah Malaysia ataupun kasus Virus Wuhan yang sekarang disebut dengan Covid-19. Hal yang sama juga mudahan-mudahan tidak akan menimpa burung di Aceh, seperti yang pernah dialami di Hongkong 20 tahun yang lalu. Dan untuk diingat, simpanse di Benua Afrika yang menjadi sumber penyakit ADIS yang kemudian menjadi HIV punya saudara dekat di Aceh, orangutan.

Apakah tulisan ini ditujukan untuk menakut-nakuti kita. Tidak ada alasan untuk menakut-nakuti, apalagi harus takut. Yang perlu diingat mahluk berakal yang bernama manusia tidak selalu menang dengan alam, apa lagi melawan mahluk kecil yang bernama bakteri atau virus. Akal itulah yang seharusnya kita gunakan dengan baik. Mudah-mudahan Aceh tidak akan terkenal nanti karena pandemi, sebagaimana dunia mengenal Wuhan hari ini.

Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.