Murtad, Ulama dan Tawakkal

Baihaqi.

Oleh Baihaqi

Diriwayatkan oleh Muslim ketika Dhamad datang kepada Rasulullah Saw, beliau berkata kepadanya :
إن الحمد لله نحمده و مستهينه، من يهد الله فلا مضل له و من يضلل الله فلا هادي له، و أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أن محمدا عبده و رسوله

Setelah mendengar perkataan beliau tersebut lalu Dhamad berkata kepadanya : “Ulangilah kata-katamu tadi kepadaku. Perkataan itu telah mencapai dasar laut. Berikan tanganmu supaya aku membai’atmu”

Apa yang membuat Dhamad begitu takjub dengan ucapan Rasulullah tadi. Adalah itu menunjukkan bahwa setingkat Rasul saja dalam misi menyampaikan dakwahnya masih bergantung dengan Allah SWT dari kata-katanya:
من يهد الله فلا مضل له و من يضلل الله فلا هادي له

“Siapa saja yang Allah beri petunjuk maka ia tidak akan sesat. Dan siapa saja yang Allah sesatkan maka tidak ada petunjuk baginya”.

Misi beliau hanya menyampaikan risalah dan keputusan terpetunjuknya manusia atau tidak ada pada Allah SWT. Begitu pula konsep yang dilakukan oleh para ulama sebagai penerus risalah Rasulullah dalam menjaga agama dengan menyampaikan dakwahnya baik dengan mendirikan dayah/pesantren, mengadakan majelis pengajian di masjid atau di balai-balai pengajian serta berdakwah di mimbar – mimbar. Semuanya dilakukan sebagai ikhtiyari dalam mendidik generasi.

Kasus Pemurtadan di kalangan umat Islam beberapa tahun ini marak terjadi di negeri kita [Aceh] kian akrab saja di telinga. Setidaknya dalam waktu yang masih berdekatan sudah dua kasus.

Pertama, Samsul Bahri (22), seorang pemuda Aceh di Jakarta yang membuat geger publik di Aceh setelah menyatakan diri berpindah keyakinan ke agama Kristen melalui media sosial, karena alasan ekonomi. Alhamdulillah pada Jumat (07/02/2020) setelah oleh beberapa orang, ia pun kembali bersyahadat.

Kedua, baru-baru ini seorang perempuan asal Aceh bernama F (29) dinyatakan dalam beberapa media bahwa telah kawin dengan seorang tukang kredit, Edy Simon. S (42) non muslim asal Sumatera Utara (Sumut) dan mengkristenkan perempuan Aceh itu. Tak hanya itu, dua anaknya yang masih di bawah umur ikut bersama F. Kemudiam kedua bocah itu berhasil dibawa pukang ke Aceh oleh saudara F.

Senin pagi (15/06/2020) saya melihat di sebuah akun media sosial yang menanyangkan siaran langsung berisi pengakuan F bahwa ia berpindah keyakinan bukan karena paksaan, akan tetapi karena keinginannya sendiri. Sesaat dada terasa sesak, terkejut dengan pernyataannya.

Perihal ini jangan dianggap remeh, karena Aceh terlihat memang menjadi sasaran para misionaris dalam mengkristenkan generasinya. Beberapa hari lalu kita menemukan aplikasi “Kitab Suci Aceh” di Play Store yang memuat kitab suci agama kristen berbahasa Aceh, sehingga rentan menjebak generasi Aceh.

Ini membuktikan bahwa di daerah kita masih ada ruang kosong yang perlu kita isi. Jika tidak, akan diisi oleh orang dan ditakutkan kejadian serupa akan terulang kembali.

Kembali kepada konsep di atas. Ulama telah berusaha mengajak dan membimbing umat. Persoalan mau ikut, terpetunjuk atau tidaknya masyarakat semuanya dikembalikan kepada Allah SWT.

Oleh karenanya dari kasus ini dapat kita ambil pelajaran untuk bersama-sama baik dari kalangan pemerintah maupun masyarakat sipil, ikut bahu membahu menjalankan misi para ulama dalam mendidik generasi agar jiwa keislaman tetap tertanam kuat pada dirinya walau badai godaan harta dan tahta menerpanya.

Pemerintah memberi dukungan dengan fasilitas dan masyarakat membantu dengan ikut hadir majelis ilmu menyimak, memahami dan mengamalkan setiap ilmu yang diajarkan oleh Ulama.

Penulis adalah santri Dayah Bustanu Malikussaleh Ruhul Quddus, Kota Langsa.