Memberitahu Bahaya Covid-19 Kepada Akar Rumput

Oleh Novi Maulina Rusditas

Hari hampir gelap ketika kami tiba di kedai Nek Ma. Nek Ma berjualan sayur mayur dan bumbu dapur di ruko yang disewanya dari gampong di Limpok, Darussalam. Kami mulai mewawancarai perempuan itu terkait pengetahuan tentang covid-19. Setelahnya berdiskusi sambil menunjukkan video singkat tentang covid-19 yang sudah kami siapkan sebelumnya.

Begitulah gambaran kegiatan pengabdian masyarakat tematik covid-19 Unsyiah yang kami laksanakan sejak akhir Mei hingga awal Juni 2020. Kegiatan juga dilakukan di beberapa daerah seperti Pidie Jaya, Nagan Raya, dan Aceh Selatan. Kegiatan ini menyasar masyarakat yang tidak menggunakan smartphone dan tidak memiliki televisi di rumahnya.

Setelah tiga bulan pandemi covid-19 menyerang, upaya pencegahan yang digalakkan pemerintah terus dilancarkan dengan menetapkan berbagai protokol pencegahan di berbagai instansi, sampai ke tingkat RT/RW; melakukan edukasi masyarakat lewat media massa televisi, media cetak dan media sosial (seperti Whatsapp, Facebook, Instagram, Twitter, Youtube) serta melalui website resmi covid-19. Dengan harapan informasi ini dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia, yang tinggal di perkotaan atau di pelosok.

Dari kegiatan ini, kami dan tim di daerah melakukan wawancara 45 warga rentang usia 15-79 tahun. Dari jumlah tersebut, 37 orang responden adalah perempuan. Empat puluh delapan persen masyarakat yang diwawancarai bersekolah hanya sampai tingkat sekolah dasar. Pekerjaan masyarakat yang diwawancarai beragam, mulai dari berdagang, penjahit, buruh lepas dan petani. Tujuh puluh persen masyarakat yang diwawancarai mengaku mendapat informasi terkait covid-19 dari saudara dan teman, sementara yang lain mendapat informasi covid-19 dari tokoh agama/masyarakat dan koran. Sebanyak 33% responden belum mengetahui penyebab penyakit covid-19 dan alasan kenapa penyakit ini cukup berbahaya sehingga semua orang harus waspada serta melakukan upaya-upaya pencegahan. Sementara 26% masyarakat yang diwawancarai belum tahu cara penularan penyakit.

Terkait upaya pencegahan penyakit covid-19, sepertiga responden (30-37%) belum mengetahui bahwa penggunaan masker, beraktivitas di rumah (bekerja, belajar dan beribadah di rumah) dan menghindari keramaian orang merupakan upaya untuk mencegah terjadinya penularan penyakit. Sementara 40% responden menjawab belum mengetahui bahwa tidak bersalaman juga dapat dilakukan untuk menurunkan angka penularan penyakit. Empat puluh dua persen responden belum mengetahui etika batuk yang benar.

Setelah wawancara dan mengisi kuesioner, para responden diminta menonton video edukasi singkat covid-19 berbahasa Aceh yang berisi penjelasan dari pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner. Di akhir kuesioner, kami juga menanyakan kesediaan masyarakat untuk melaksanakan dan mengajarkan anggota keluarga lain terkait upaya pencegahan penyakit.

Kegiatan pengabdian ini diharapkan dapat membantu petugas gampong dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terkait kondisi saat ini. Dari kegiatan ini, didapatkan gambaran pengetahuan masyarakat yang masih rendah sehingga perlunya edukasi secara berkelanjutan oleh berbagai pihak, mengingat kasus positif penyakit yang terus meningkat dan kemungkinan adanya transmisi lokal di Provinsi Aceh.

Novi Maulina Rusditas, M.D, M.Sc
Lecturer & researcher, Syiah Kuala University, Aceh, Indonesia
http://unsyiah.ac.id/en/