[Ruang Semangat]: Covid-19 Musuh Pendidikan?

Oleh Siti Sarayulis*

Apakah kita harus kalah dari Covid-19 yang tengah menjadi pandemi di seluruh dunia? Bukankah manusia itu dianugerahi akal untuk meyiasati sepaceklik apa pun situasi? Benar, pikiran sehat dalam jiwa yang sehat itulah menjadi pilihan yang kita pilih untuk mengatasi situasi mencekam saat ini, di mana social distancing menjadi pilihan. Pendidikan yang berusaha terus kita jadikan tonggak untuk merangkak dalam situasi genting ini. Jauh berbeda dari sebelumnya, di mana belajar masih di dalam kelas dengan siswa duduk berjajar rapi di depan meja guru di dalam kelas, ada papan tulis yang terpasang di dinding, ada spidol yang diletakkan di meja guru, kadang ada infokus sebagai media belajar, pelajar masih bisa senyum, salam, dan sapa dengan pendidiknya secara langsung. Namun, keadaan saat ini sebaliknya; instansi pendidikan putar otak untuk tetap menghidupkan pendidikan tanpa tatap langsung. Iya, kita memanfaatkan pembelajaran dengan perantara media daring.

Daring dalam KBBI berarti dalam jaringan, terhubung melalui jejaring komputer, internet, dan sebagainya. Sedangkan dalam bahasa Inggris berarti online. Pada umumnya daring masih merupakan kata asing bagi sebagian orang. Lain halnya kata online terdengar familier. Penulis akan membumikan kata daring dalam tulisan ini. Ketersediaan internet dan teknologi pendukung, seperti telepon genggam atau komputer atau laptop menjadi vital dalam pembelajaran daring. Pendidik membutuhkan itu semua agar pembelajaran menjadi efektif di tengah pandemi ini. Ruang belajar secara daring mulai tersedia di mana-mana, di antaranya Ruang Guru, SiJempol Aceh, Rumah Belajar, dan fitur-fitur daring lainnya, seperti e-learning dan google classroom untuk mendukung pendidikan tetap berjalan normal.

Fitur classroom yang dirancang oleh Google adalah rangkaian fitur produktivitas gratis yang mencakup email, dokumen, dan penyimpanan. Classroom dirancang bersama dengan para pengajar untuk membantu mereka menghemat waktu, menjaga agar kelas tetap teratur, dan meningkatkan komunikasi dengan siswa (https://support.google.com/edu/classroom). Fitur Google Classroom inilah yang SMPS Sukma Bangsa Lhokseumawe, salah satunya saya sebagai bagian dari sekolah ini manfaatkan untuk tetap menghidupkan pembelajaran Bahasa Indonesia seperti suasana di kelas.

Sama halnya dengan pembelajaran lainnya, jadwal kelas saya pun dimulai; kelas pelajaran Bahasa Indonesia di kelas VIII. Di sini saya sudah menyiapkan materi tiga hari sebelumnya yang bersumber dari Ruang Guru dan YouTube. Tentunya bukan sembarang materi, tapi materi lanjutan pembelajaran di kelas, yaitu teks persuasi. Peralihan tiba-tiba dari pembelajaran konvensional di kelas menuju pembelajaran daring bukan sesuatu yang baru, karena sebelumnya pun para siswa pernah mengikuti ujian dengan menggunakan media Google Classroom. Wali kelas mempunyai peran penting untuk mengondisikan kelas melalui grup kelas mulai pukul 07.30-08.00 WIB. Wali kelas menerima kode kelas dari saya dan membagikan ke grup kelas, sehingga para siswa bisa bergabung ke kelas daring Bahasa Indonesia.

Tepat pukul 08.00 WIB kelas pun saya mulai dengan menyapa para siswa. Butuh tiga menit untuk menunggu balasan dari mereka. Itu pun hanya beberapa siswa saja, saya menunggu dengan sabar dengan tetap “memanggil-manggil” mereka melalui pesan beruntun yang saya ketik di kolom obrolan. Lebih kurang 15 menit waktu yang saya butuhkan untuk mengumpulkan 25 siswa dari 28 siswa. Pembelajaran pun berlanjut menuju kegiatan inti.

Dalam kegiatan inti, saya mengarahkan mereka untuk menuju kolom materi. Di kolom ini, saya sudah memasukkan materi konsep dasar teks persuasi dan video pendukung. Room chat (ruang obrolan) tetap aktif sebagai ruang diskusi terkait materi pembelajaran kami pada hari itu. Karena mereka tidak ada di depan saya, terasa sepi juga suasana kelas. Tidak ada riuh suara mereka, cekikikan tawa mereka, dan panggilan “Ibu…Ibu….” yang bertanya. Sehingga, sesekali saya harus “mencolek” mereka dengan tulisan saya di ruang diskusi itu.

Meskipun ruang diskusi di Google Classroom diaktifkan, masih ada yang menghubungi secara pribadi melalui WhatsApp, sehingga berulang kali para siswa ini harus diingatkan untuk mendiskusikan apa pun terkait pembelajaran melalui media belajar ini, agar kawan-kawan yang mempunyai rasa penasaran yang sama juga bisa memperoleh jawabannya.

Berdasarkan asesmen yang saya buat di akhir pembelajaran, sama halnya dengan di kelas, masih butuh perhatian khusus kepada beberapa siswa untuk menumbuhkan kesadaran pentingnya belajar. Lantas pendidik ini gagal? Tentu tidak, hanya butuh “proses” dan perhatian lebih untuk anak-anak yang masih kurang peduli ini. Jika Covid-19 yang tak kasat mata saja berhasil kita siasati, apalagi makhluk sempurna yang dianugerahi akal ini. Kita mampu dengan sinergisitas yang terbangun antara orang tua, sekolah, dan tentunya penentu paling besar adalah mereka sendiri; para penerus negeri ini.

Masa Covid-19 menjadi pandemi yang menuntut seluruh manusia awas dengan berdiam diri di rumah untuk memutuskan rantai penyebarannya, orang tua pun harus turut terlibat dalam pembelajaran anak-anak. Comer dan Haynes (1997) mengatakan anak-anak belajar dengan lebih baik jika lingkungan sekelilingnya mendukung, yakni orang tua, guru, dan anggota keluarga lainnya serta kalangan masyarakat sekitar. Keterlibatan orang tua menjadi sangat penting sebagai pengawas aktif yang mendampingi kegiatan belajar para siswa ini di rumah. Ketersediaan fasilitas pendukung juga para orang tua pastikan sehingga pandemik Covid-19 tidak menghalangi buah hati mereka mendapatkan pendidikan.

Terima kasih ayah, bunda, kakak, abang, dan tentunya para siswa itu sendiri untuk terus belajar. Motivasi intrinsik akan pentingnya belajar yang telah kita tanamkan selama ini akan kita uji pada masa pandemik ini. Bismillah, insyaallah.[]

Penulis adalah Guru Bahasa Indonesia SMPS Sukma Bangsa Lhokseumawe

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent