Hal Positif Menerapkan Gaya Hidup Minimalis

Ilustrasi @iStockphoto

Oleh: Gracia Mandira*

Gaya hidup minimalis akhir-akhir ini marak diperbincangkan. Saya menemukan konsep gaya hidup minimalis ketika secara tidak sengaja menonton sebuah video di YouTube yang membahas mengenai hal ini.

Sebelumnya yang saya ketahui, minimalis adalah segala yang berkaitan dengan konsep estetika ruang atau rumah. Contohnya, rumah minimalis yang terlihat lebih simple dengan sentuhan modern. Nah, ternyata prinsip minimalis juga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti pola pikir yang diterapkan dalam gaya hidup minimalis.

Pola pikir dalam gaya hidup minimalis mengarahkan kita untuk dapat memilah dan memilih segala sesuatu yang benar-benar dibutuhkan, atau dengan kata lain mengurangi segala yang berlebihan dalam hidup. Hal-hal yang banyak dicontohkan dalam gaya hidup minimalis ini ialah terkait barang-barang yang kita miliki. Dengan menerapkan gaya hidup minimalis, maka barang-barang yang dibeli saat berbelanja, merupakan yang benar-benar dibutuhkan, bukan hanya yang diinginkan. Karena keinginan manusia tentu saja tidak ada habisnya. Padahal sering sekali yang sudah dibeli tidak terpakai, hanya tersimpan sampai berdebu. Dengan memilimalisirnya, kita akan lebih mengurangi melakukan hal-hal mubazir, memaksimalkan fungsi dari benda-benda yang kita punya, dan tentu saja akan menghemat biaya pengeluaran.

Saya ingin membagi sedikit pengalaman saya terkait gaya hidup minimalis. Konsep gaya hidup minimalis ini sebenarnya sudah diterapkan oleh orang tua kepada saya semenjak saya kecil, walaupun orang tua tidak menyebutnya dengan “gaya hidup minimalis”.

Sejak kecil, saya selalu ditanya alasan ingin membeli sesuatu, alasan keluar rumah dan alasan melakukan sesuatu. Apabila jawaban dari saya bukan hal yang benar-benar saya butuhkan, maka saya diminta untuk berpikir ulang atau diberikan solusi untuk memaksimalkan apa yang saya punya. Saat usia sekolah, saya hanya mempunyai dua sepatu sekolah, satu sendal bepergian dan minim pakaian. Barang-barang yang saya miliki dapat dihitung dengan jari dan tentunya semua itu dapat saya gunakan. Apabila barang-barang yang saya punya sudah rusak, saat itulah orang tua saya membelikan yang baru. Jika saya menginginkan sesuatu seperti mainan dan semacamnya, maka saya harus mengusahakannya sendiri, misalnya dengan membuatnya dari bahan bekas yang ada di rumah.

Pada saat itu saya merasa kesal. Sehingga terkadang ketika menginginkan sesuatu, saya mengurungkan niat untuk meminta karena tahu nantinya pasti akan ditanya. Yaa… sebenarnya saya juga tahu, keinginan saya hanyalah nafsu belaka. Pada saat teman-teman saya dibelikan boneka barbie, saya bermain dengan benda-benda seperti stik ice cream, pulpen, dan benda-benda dari alam yang saya imajinasikan seperti barbie, karena kata orang tua saya, boneka barbie kurang bermanfaat bagi saya.

Setelah saya mendapatkan sedikit ilmu dari konsep gaya hidup minimalis, saya jadi sangat berterima kasih kepada orang tua yang mengajarkan hal ini semenjak kecil. Pembiasaan dari gaya hidup minimalis yang diterapkan oleh orang tua akhirnya terbawa hingga kini. Walaupun belum semua konsep gaya hidup minimalis saya terapkan, tetapi saya ingin belajar lebih dalam mengenai gaya hidup minimalis ini.

Beberapa hal positif dari gaya hidup minimalis, yaitu:

  • Hemat Biaya Pengeluaran

Gaya hidup minimalis mengajarkan agar membeli sesuatu yang benar-benar dibutuhkan dan tentu saja sesuai kantong. Apabila ingin membeli sesuatu yang harganya mahal terkait dengan kualitas yang bagus, maka menabung lebih saya sarankan. Hindarilah berutang untuk memenuhi standar hidup. Percayalah hidup tidak akan tenang kalau utang ada di mana-mana.

  • Mengurangi beban mengurus barang yang berlebihan

Tidak punya banyak barang maka tidak punya banyak beban pikiran untuk mengurusnya. Barang yang ada dapat dimaksimalkan fungsinya dan dijaga dengan semestinya. Mengurus banyak barang akan sangat merepotkan dan memakan waktu. Apalagi barang-barang branded yang terkadang dapat menguras biaya tambahan.

  • Mengurangi ikatan dengan harta duniawi

Punya banyak harta benda juga diiringi dengan rasa ketakutan akan hilangnya benda tersebut. Kamu akan terasa terikat dengan harta. Nah, gaya hidup minimalis ini mengajarkan kita untuk melepaskan sesuatu yang kita miliki secara suka rela. Untuk apa menyimpan sesuatu yang tidak digunakan? Hal ini hanya membuat ruangan menjadi penuh dan berantakan.

  • Lebih menghargai hidup

Menyingkirkan barang-barang yang tidak diperlukan dapat menjernihkan pikiran, terbebas dari tekanan dan tuntutan sosial, sehingga kamu dapat merasakan makna hidup yang sesungguhnya.

  • Berpikir kreatif

Tidak semua yang dibutuhkan dan diinginkan harus dibeli. Terkadang kita juga bisa membuatnya. Malah hasil karya sendiri lebih membuat kita bangga dan puas.

Gaya hidup minimalis dapat dimulai dengan membersihkan hal-hal sederhana yang membuat rumah menjadi berantakan seperti:

  • Plastik berlebihan

Menggunakan tas atau keranjang belanja bisa menjadi solusi untuk mengurangi plastik yang berlebihan. Jika masih ada plastik yang tidak terelakkan, maka plastik itu bisa dijadikan plastik tempat sampah. Lipat plastik tersebut dan letakkan di tempat yang mudah dijangkau bila suatu saat diperlukan.

  • Memilah pakaian

Pilah dan pilihlah pakaian yang benar-benar dibutuhkan atau sering dipakai, dengan pakaian yang jarang dipakai. Jika pakaiannya sudah ada yang sobek atau tidak digunakan lagi, maka dapat digunting yang rapi untuk dijadikan kain lap. Jika ada pakaian yang hampir tidak pernah dipakai lagi, lebih baik disumbangkan atau dijual.

  • Dokumen yang menumpuk

Dokumen yang menumpuk ini sering sekali menjadi problem yang membuat kamar saya sendiri jadi berantakan. Terlebih karena saya seorang pengajar, tentu banyak tugas-tugas makalah yang menumpuk. Fotokopi legalisir yang sudah kedaluarsa pun masih saya simpan. Kebiasaan ini sebaiknya jangan ditiru ya, karena saya juga lagi belajar untuk bisa rajin membereskannya. Jika ada dokumen yang sudah tidak diperlukan lagi lebih baik langsung dipisahkan dan difungsikan untuk hal lain.

Saya rasa gaya hidup minimalis sangat baik untuk diterapkan di dalam kehidupan. Awalnya memanglah sulit. Mungkin kamu akan merasa semua barang yang kamu miliki dibutuhkan. Cobalah belajar untuk merelakan, setelah itu apakah kamu merasa bahagia atau malah sebaliknya? Jawabannya hanya kamu yang tahu.[]

*Penulis adalah perempuan asal Aceh, dosen muda Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada salah satu universitas di Banda Aceh

Editor : Ihan Nurdin