Lhob Mate Corona (15): Covid-19 dan Cerita 400 Juta Cangkir Kopi Arabika Gayo

Oleh Profesor Ahmad Humam Hamid*

Perang dan bencana dalam sejarahnya selalu berurusan dengan kemalangan dan keberuntungan. Ketika Hitler, Mussolini, dan Raja Hirohito berperang melawan sekutu pada saat Perang Dunia II, seorang pedagang tembakau dan pengusaha kapal kecil mendadak kaya raya, dan bahkan menjadi salah seorang terkaya di dunia. Pasalnya, dari modal dagang tembakau, dia membeli sejumlah kapal tanker pada saat depresi besar tahun tiga puluhan dengan setengah harga, dan itulah penyebabnya.

Ketika Perang Dunia II terjadi, ia sudah siap menyewakan tankernya kepada negara yang berperang untuk keperluan angkutan minyak. Sejak saat itu ia menjadi raja kapal dunia. Ketika jutaan tentara dan rakyat mati di seluruh dunia, dia justru mendapat kekayaan yang berlimpah. Namanya? Aristotle Onasis, pengusaha dan playboy kampiun dari Yunani yang sempat mengawini Jackie Kennedy, janda mendiang presiden AS John F. Kennedy.

Berbeda dengan cerita Onasis dan Perang Dunia ke II, bencana Covid-19 kali ini membuat orang kaya berkurang banyak hartanya. 500 orang terkaya dunia mendadak hilang uangnya 440 miliar dolar akibat Covid-19. Juara bersama kerugian itu jatuh kepada Jeff Bezos- pemilik Amazon dan koran The Washington Post, Bill Gate-pendiri dan pemilik Microsoft, dan Bernard Arnault, kolektor seni dan pengusaha Fashion- Louis Vuitton terkenal Perancis. Total kerugian mereka sekitar 30 miliar dolar.

Kehilangan harta mereka bukan karena terbakarnya aset dan pabrik, tenggelamnya kapal, buruh mogok, ataupun peristiwa penting ekonomi global lainnya. Biang kerok hilangnya 440 miliar dolar uang milik orang kaya dunia hanya satu, makhluk kecil tak terlihat, Covid-19. Serangan tiba-tiba dan meluas dengan cepat telah membuat pasar modal di berbagai negara dunia menghadapi “tsunami panik” dan pesimis tentang masa depan, dan saham dilepas bak air bah. Selanjutnya para orang kaya hilang kekayaannya hanya dalam hitungan jam atau hari.

Kemalangan orang kaya akibat Covid-19 walaupun berat, tentu tidak seberat yang dirasakan oleh rakyat biasa. Jika orang kaya turun statusnya dari sangat amat kaya kepada sangat kaya, atau dari sangat kaya kepada kaya saja, mereka masih mempunyai harta, dan standar hidup mereka tidak akan terpengaruh sekali dengan kerugian itu. Lain halnya dengan orang biasa seperti pekerja di perusahaan, pengusaha kecil, pekerja informal, dan bahkan buruh kasar sekalipun.

Salah satu segmen terbesar populasi manusia yang terkena dampak Covid-19 adalah petani kopi yang tersebar di tiga kawasan besar benua; Amerika Latin, Asia, dan Afrika. Covid-19 dan jatuhnya harga kopi dunia telah membuat 25 juta rumah tangga, atau sekitar 125 juta manusia terganggu, bahkan terancam kehidupnya. Kasus kehilangan harta orang kaya berbeda jauh dengan cerita kemalangan petani kopi. Yang satu masih bisa naik jet atau yacht pribadi berkelana ke mana-mana, menikmati makanan dan minuman termahal, sementara yang satu lagi berhitung tentang persediaan beras, minyak makan, dan gula pasir untuk kebutuhan minggu depan, dan bagaimana kalau harga biji kopi terus meluncur terjun ke bawah.

Senarai petani kopi global adalah cerita kemalangan Aman Belangi di Wih Pesam, Bener Meriah, Aceh, atau José Santos Almeida, di Minas Gerais, Brazilia, Nguyen Binh di Desa Cu Lan di Provinsi Lamdong Vietnam, atau Dennis Nturu dari suku Chaga dekat Kota Moshi di kawasan pergunungan Kilimanjaro di Tanzania, Afrika. Ketika beberapa waktu yang lalu ada petani kopi Bener Meriah mengirim surat kepada Pemerintah Aceh melalui media sosial, ia tidak hanya mewakili dirinya dan petani kopi Gayo. Sesungguhnya ia juga telah mewakili perasaan seluruh petani kopi dunia yang meminta perlidungan dari pemerintahnya, yang selama ini telah mendapat ketenangan dan keleluasaan memerintah, karena kemakmuran yang kesejahteraan yang dihasilkan dari bijí kopi.

Semua mereka adalah petani yang menggantungkan hidup dan kehidupannya pada produksi kopi, dan keramahan alam yang mengelilinginya. Ketika Covid-19 menghajar Amerika Serikat misalnya, ketika lebih dari 34.000 kedai kopi utama tutup atau tidak dkunjungi konsumen karena pandemi, sontak mendadak desa-desa penghasil kopi di Amerika Latin, Afrika, dan Asia meraung-raung karena anjloknya harga biji kopi.

Jika para orang kaya yang kehilangan harta, berjuang untuk kembali mendapatkan hartanya, para petani kopi berjuang keras untuk mempertahankan “hidup”-nya secara fisik, dan “kehidupannya” dari usaha pertanian kopi. Ketika harga kopi turun, pertanyaan yang penting untuk petani kopi adalah bagaimana dengan nafkah keluarganya, biaya pendidikan anaknya, biaya kesehatan keluarga. Tidak berhenti di situ kalau harganya sangat anjlok dan berlangsung untuk waktu yang relatif lama, maka ancamannya adalah sumber kehidupan mereka, kebun kopi. Pemeliharaan dan perawatan, pemupukan, pemberantasan hama dan penyakit, dan tidak kurang pada banyak kasus, penanaman kembali tanaman yang sudah tua.

Jatuhnya harga kopi internasional, baik kopi Arabika maupun kopi Robusta semenjak awal tahun sama sekali tidak dapat dilepaskan dari fenomena Covid-19 yang telah menggerus ekonomi Cina, sebagian Asia, negara-negara Eropa, dan Amerika Serikat. “Pandemi ekonomi” adalah istilah yang sangat cocok untuk dipasangkan dengan pandemi Covid-19. Jika pandemi Covid-19 adalah label untuk fenomena biologis, maka jatuhnya harga kopi adalah pandemi ekonomi yang juga menjalar ke berbagai tempat di dunia. Jika Covid-19 dimotori dan oleh virus SARS-Cov-2, maka virus pandemi ekonomi adalah anjloknya harga saham di pasar bursa internasional, terhentinya produksi industri, terganggunya perdagangan, pemutusan hubungan kerja, rendahnya aktivitas ekspor impor, pengangguran, dan rendahnya permintaan pasar terhadap kopi.

Di Kabupaten Bener Meriah, ketika Covid-19 diumumkan pada bulan Januari di Wuhan Cina, harga kopi Arabika sudah mulai terganggu, dan menjadi terasa pada bulan Februari ketika harga kopinya Rp50.000 berbeda sangat dari bulan yang sama dari tahun sebelumnya antara Rp60.000-Rp70.000. Cerita harga kopi bulan Maret dan April tahun lalu yang sempat mencapai Rp90.000 per kilogram tidak terjadi lagi tahun ini. Pada bulan April harga kopi hijau asalan Rp53.000, dan harga itu pada awal Juni bertengger di Rp55.000. Dalam penuturan petani kopi Gayo, angka-angka itu sama sekali berbeda jauh dengan harga sebelum pandemi, ketika harga terendah adalah Rp65.000.

Menerangkan anatomi jatuhnya harga saham perusahaan-perusahaan besar di pasar bursa tampaknya lebih mudah daripada menerangkan jatuhnya harga komoditas rakyat seperti kopi di pasar internasional. Mari kita buka, bagaimana Covid-19 berdampak pada kehidupan Aman Belangi di Wih Pesam, Benar Meriah, dan teman-teman senasibnya di Brazil, Vietnam, dan Tanzania.

Mari kita ambil contoh Amerika Serikat, negara yang menurut data, 63 persen dari 328 juta lebih penduduknya minum kopi setiap hari. Dari jumlah itu, 64 persen minum kopi di pagi hari. Blog terkenal perkopian Amerika Serikat MyFriendsCoffee baru-baru ini melepas hasil survei tentang statistik kopi di negeri itu. Peminum kopi Amerika menikmati kopi di rumah sekitar 79 persen dan lebih dari 60 persen mengunjungi kedai kopi branded minimal sekali sebulan. Dari berbagai proporsi umur peminum kopi ditemukan – sekitar 72 persen berasal dari kelompok umur 60 ke atas.

Diperkirakan setiap hari 150 juta penduduk Amerika Serikat minum 400 juta cangkir, dengan total jumlah tahunan sekitar 140 miliar cangkir, menjadikan negara Amerika sebagai juara minum kopi dunia. Setiap hari rata-rata laki-laki mengonsumsi 1,7 cangkir per hari dan perempuan 1,5 cangkir. Di samping konsumsi di rumah, jumlah cangkir kopi yang sebanyak itu juga dilayani oleh lebih dari 37.000 kedai kopi yang tersebar di seluruh Amerika, dengan jumlah barista sekitar 574.000 orang.

Peminum kopi yang “rajin” rata-rata menghabiskan uangnya sekitar 709 US dolar – sekitar 10 juta rupiah setahun, sedangkan para anak muda 25-34 tahún menghabiskan 2.008 US dolar -lebih 28 dari juta rupiah per tahun. 32 persen milenial Amerika mengonsumsi kopi gourmet- kopi paling enak dan paling mahal, dan umumnya adalah espresso, menjadikan mereka tak tertandingi oleh kelompok umur mana pun.

Ada statistik lucu tapi benar yang ditulis dari hasil survei media the Huffington Post, lebih dari setengah peminum kopi Amerika, jika ditanya, kalau harus memilih antara mandi paga dan minum kopi, lebih banyak yang memilih minum kopi. Kalau harus memilih antara meninggalkan penggunaan Android sebulan dan minum kopi, sekitar 49 persen menyatakan memilih minum kopi.

Dari gambaran statitik itu saja sudah dapat dibayangkan ketika gelombang pertama lhobmate – lockdown atau semi lockdown terjadi. Kedai kopi, restoran, dan kantor ditutup. Apa yang terjadi dengan 400 juta cangkir per hari? bagaimana dengan para anak muda dan milenial yang gemar menghabiskan uangnya untuk mencari kopi nikmat dan mahal? Memang pada minggu-minggu awal terjadi penimbunan tiba-tiba, berbagai merek kopi habis terjual di pasar. Hal itu tidak berefek banyak, karena jumlah kopi yang dikonsumsi tetap sama secara nasional, hanya berpindah tempat, dari kedai kopi ke rumah.

Pukulan yang paling keras untuk kopi terjadi ketika hantaman resesi ekonomi Amerika sebagai akibat langsung atau tak langsung dari Covid-19. Dan yang paling parah adalah ketika lebih dari 45 juta pekerja mengalami proses PHK massal yang berujung pada pendapatan. Ketika hal ini terjadi, maka hal pertama yang dilakukan rumah tangga adalah penyesuaian belanja untuk berbagai keperluan, dan kopi tentu saja tidak mendapat tempat yang sangat diprioritaskan. Terjadi subsitusi minuman dari kopi mahal ke kopi murah, dari minum banyak cangkir kepada sedikit cangkir, atau bahkan menghentikan minum untuk sementara.

Hampir dapat dipastikan resesi ekonomi akan berlanjut tidak hanya di AS, akan tetapi di seluruh dunia, akibat Covid-19. Sebuah kajian yang dilakukan oleh Organisasi Kopi Internasional memperkirakan setiap penurunan satu persen pertumbuhan produksi bruto nasional di 21 negara maju -konsumen kopi terkemuka internasional- maka akan terjadi penurunan permintaan kopi global sebesar 0,95 persen. Ini adalah angka yang sangat signifikan, karena salah satu faktor penting bertahan atau baiknya harga kopi dunia selama ini adalah berlanjutnya pertumbuhan permintaan antara 2 sampai 3 persen per tahun. Ini artinya prospek kopi dalam waktu dekat ini masih belum jelas. Kurva permintaan tidak hanya akan berkurang, bahkan sangat berpotensi untuk digerus oleh penurunan Produk Domestik Bruto negara-negara utama konsumen kopi internasional.

Dalam konteks kopi Gayo, yang mesti diingat adalah konsumennya tersebar di negara maju, terutama di AS. Jenis Arabika Gayo mempunyai tempat tersendiri bagi konsumen Arabika internasional. Bagi Indonesia, AS adalah negara tujuan utama ekspor kopi, dengan nilai ekspor tahun 2019 sekitar 253 juta dolar, mendekati 4 triliunan rupiah. Dan, dataran tinggi Gayo adalah penyumbang terbesar untuk jenis kopi Arabika.

Kita tidak tahu dengan sangat pasti bagimana alokasi anggaran 1,7 triliun yang diperuntukkan untuk menghadapi Covid-19 di Aceh. Mudah-mudahan ada kata Arabika Gayo dalam deskripsi anggaran itu. Hanya satu yang mesti diingat, kopi Arabika Gayo adalah kekayaan yang nilainya tiada tara untuk Gayo dan Aceh secara keseluruhan. Kopi sebagai bagian dari budaya inti kehidupan masyarakat Gayo kini dalam taruhan. Adalah dosa besar semua pemangku kepentingan kalau sempat terjadi pembiaran Covid-19 meluluhlantakkan hidup dan kehidupan masyarakat Gayo.[]

Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh