Lhob Mate Corona (16) : Dari Pulau Santorini Yunani ke Iboih-Gapang Sabang

@aceHTrend/Hendra Keumala

Oleh Prof. Ahmad Humam Hamid

Santorini dan Sabang-Pulau Weh adalah dua pulau unik yang sama-sama mempunyai gunung berapi dengan keindahan alam tersendiri. Kedua pulau ini memiliki iklim dan cuaca yang relatif sama, tidak dalam artian yang sesungguhnya. Yang dimaksud adalah kedua pulau ini dapat dikunjungi dan dinikmati sepanjang tahun, kecuali pada akhir dan awal tahun. Pasalnya, di Santorini, Desember dan Januari adalah puncak musim dingin, sedangkan di Pulau Weh akhir dan awal tahun adalah musim angin Monsoon Barat yang banyak membawa hujan dan angin kencang.

Kedua pulau ini relatif kecil, Santorini memiliki luas wilayah 73 km persegi, setengah dari luas Sabang yang mempunyai 153 km persegi. Sabang berjauhan dengan daratan Sumatera sekitar 17 km, terletak di mulut Selat Malaka yang tersambung dengan Samudera Hindia, sementara Santorini terletak di laut Agea yang merupakan sambungan dari Laut Mediterania, berjarak 200 km dari pantai Yunani Timur. Perbedaan yang paling mencolok adalah jumlah penduduknya, Sabang mempunyai sekitar 35,000 orang, sementara Santorini hanya mempunyai sekitar 15.000 penduduk.

Kedua Pulau pada dasarnya mempunyai basis ekonomi yang relatif sama, yaitu wisata. Bedanya, Santorini sudah memulai kegiatan wisata sejak zaman baheula, sedangkan Sabang baru beberapa dekade saja mencoba “hijrah” dari ekonomi pelabuhan dan perdagangan kepada ekonomi wisata. Perbedaan yang paling mencolok adalah jumlah turis yang berkunjung ke dua pulau itu. Santorini mempunyai pengunjung sekitar 2 juta pengunjung pertahun, sementara Sabang pada tahun 2018 pernah dikunjungi hampir 800,000 pengunjung -dalam negeri dan manca negara, sementara pada tahun 2019 angka itu kembali melorot, di mana tidak sampai setengah dari kunjungan tahun 2018. Sabang tentu saja tidak perlu berkecil hati dibandingkan dengan Santorini, karena kelasnya Santorini sedikit di bawah Bali, relatif sama dengan Lombok.

Kini, kedua pulau itu dipertemukan oleh nasib yang relatif serupa. Andalan ekonomi lokal kedua pulau itu kini dihantam oleh makhluk halus yang bernama Covid-19. Dalam enam bulan terakhir kejadian sehari-hari di kedua pulau tersebut seperti siang dan malam dibandingkan dengan keadaan sebelum Covid-19 bertebaran dimuka bumi.Hotel, pantai, cafe dan restoran, home stay, dan berbagai kegiatan ekonomi kecil dan informal wisata ambruk. Jalan sepi, angkutan laut morat marit, penerbangan dihentikan, dan tentu saja ekonomi lokal menjadi sangat terpukul. Pemerintah dan rakyat di kedua pulau, dan mungkin di manapun tempat lain di belahan bumi yang serupa dapat dengan mudah diterangkan bahwa kehidupan manusia abad ini sudah sangat saling tergantung dan terkait. Keadaan tertentu di satu kawasan akan berpengaruh terhadap kawasan lainnya, apalagi kalau kejadian itu terjadi secara merata di seluruh dunia seperti halnya Covid-19.

Harus diakui, sektor yang paling rentan dan yang pertama menjadi korban keganasan Covid-19 adalah sektor wisata, seperti apa yang dialami oleh Santorini dan Sabang. Di kawasan Asia Pasifik saja ribuan hotel dan berbagai usaha yang berurusan dengan wisata ditutup, menyebabkan ratusan ribu,bahkan mungkin jutaan pekerja-langsung dan tidak langsung- kehilangan pendapatan dan pekerjaan. Kota-kota dan pemerintah juga kehilangan pendapatan, terutama untuk negara dan kawasan-kawasan yang ekonominya di dominasi oleh sektor wisata.

Sebuah perhitungan yang dibuat oleh organisasi PBB untuk wisata,UNWTO memperkirakan pada tahun 2020 ini saja akan terjadi penurunan wisatawan global antara 20-30 persen, yakni dari 1,46 milyar pada tahun 2019, menjadi hanya 1,02 miliar pada tahun ini. Akibatnya sektor parawisata diperkirakan akan kehilangan antara 300 millar US dolar sampai dengan 450 miljar US dolar. Skenario yang lebih pesimis dikeluarkan oleh Dewan Perjalanan dan Wisata Dunia yang memperkirakan akibat Covid-19, sektor wisata global kehilangan sekitar 2,1 triliun US dolar pada tahun 2020 saja.

Dalam catatan sejarah wisata internasional, telah terjadi berbagai bencana yang cukup hebat, namun Covid-19 kali ini menjadi bencana yang paling besar dan tak pernah terbayangkan. Stefan Gossling, Profesor pada Sekolah Bisnis dan Ekonomi Universitas Lund Norwegia dkk (2020) mencatat antara tahun 2000 sampai dengan tahun 2015 beberapa peristiwa besar yang mengganggu sektor parawisata, seperti serangan terhadap gedung WTO New York Osama Bin Laden (2001), wabah SARS (2003),krisis ekonomi dan keuangan global (2008/2009) dan ledakan wabah MERS (2015). Tidak satupun dari kejadian besar itu berpengaruh secara berkepanjangan terhadap aktivitas wisata global, kecuali SARS yang mempengaruhi pengurangan arus wisata 0,4 persen dan krisis ekonomi dan keuangan global tahun 2008/2009 yang sempat menurunkan kedatangan wisata sekitar 4 persen (Bank Dunia 2020). Sebelum Covid-19 terjadi hampir ada semacam kesimpulan umum, bahwa sektor wisata sangat tahan terhadap berbagai peristiwa besar global, akan tetapi dengan kejadian COvid-19 ini kesimpulan itu terpaksa direvisi kembali.

Kehilangan pendapatan di semua kawasan wisata di dunia terdiri dari berbagai bentuk, bisnis pariwisata, penerimaan pemerintah, aktivitas rantau pasok barang yang berhubungan dengan wisata, industri kerajinan, dan yang paling utama adalah jutaan manusia yang bekerja di sektor ini. Ketika babak awal penyebaran Covid-19 terjadi, pada akhir Februari dan awal Maret , banyak negara Asia dan Eropa membatasi penerbangan, menetapkan lhobmate-lockdown, atau setengah lockdown. Pada periode itu setiap hari, satu juta pekerja wisata global mengalami PHK. Perhitungan awal yang menyebutkan sektor ini akan kehilangan 75 juta pekerjaan terpaksa direvisi karena belum ada tanda-tanda ditemukan pengendalian yang efektif, terutama vaksin.Pada awal minggu kedua bulan Juni jumlah PHK pekerja sektor wisata diproyeksi oleh Dewan Perjalan dan Wisata Dunia akan mencapai 197 juta.

Kawasan Asia Pasifik, di mana Indonesia termasuk di dalamnya adalah kawasan terbanyak yang mengalami PHK, yakni sekitar 49 juta pekerja, dengan nilai 800 miliar US dolar. Potensi kehilangan pekerjaan yang terkait dengan wisata di Eropa diperkirakan mencapai 10 juta orang dengan nilai 552 miliar US dolar. Tidak berhenti di Asia dan Eropa, Covid-19 juga menyebabkan tiga negara,AS, Canada, dan Meksiko kehilangan 570 miliar US dolar akibat PHK terhadap 7 juta pekerja.

Di Indonesia, sektor wisata memegang peranan penting dalam menyerap tenaga kerja. Sekitar 12 juta orang-10 persen dari total tenaga kerja nasional bekerja di sektor ini,dengan komposisi terbanyak berada di Bali, beberapa tempat di Pulau Jawa, Lombok, Sumatera Barat, dan kepulauan Riau. Perhitungan paling sederhana saja pada minggu awal Covid-19, 7000 tour guide dan 5,000 fotographer perkawinan wisata kehilangan pekerjaan di Bali. Cukup banyak hotel dan restoran yang ditutup, dan seluruh jaringan jasa wisata di Bali praktis tidak beroperasi. Agaknya tidak berlebihan klaim yang dibuat organisasi wisata -ASITA- Bali, bahwa lebih dari 80 persen penduduk Bali terancam pendapatannya akibat Covid-19. Jumlah itu mencerminkan gabungan dari masyarakat yang memperoleh pendapatan langsung dan tidak langsung dari perekonomian wisata Bali.
Pada level nasional, angka PHK yang disebut oleh Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) per akhir Maret sekitar 1,4 juta orang. Ditambah dengan pekerja informal yang berhubungan dengan wisata sekitar 400 ribu orang, maka jumlah total orang yang kehilangan pekerjaan mencapai 1,7 juta.

Cukup banyak hotel dan ratusan retoran telah ditutup, yang juga akan memeberikan dampak terhadap berbagai pekerjaan lain yang terkait dengan usaha jasa ini. Sebuah perkiraan awal yang dibuat oleh PHRI mdenyebutkan hanya sub-sektor hotel dan restoran saja berpotensi untuk kehilangan pendapatan sedikitnya 4 miliar US dolar atau sekitar 60 triliun rupiah.

Sekalipun Aceh tidak atau belum mempunyai angka-angka yang lengkap tentang situasi tengah kerja di sektor wisata dalam kaitannya dengan Covid-19, beberapa pengamatan yang dilaporkan media juga mencerminkan apa yang sedang terjadi pada tingkat global dan nasional. Sabang, Banda Aceh, Dataran Tinggi Gayo yang merupakan destinasi favorit wisatawan lokal dan mancanegara di Aceh praktis lumpuh dan tidak beroperasi. Hotel, homestay, dan berbagai jasa wisata lainnya tidak beroperasi.Padahal sektor ini berkontribusi besar dalam perekonomian Aceh. Bank Indonesia kantor perwakilan Aceh pernah melaporkan sektor ini berkontribusi sebesar 10,87 triliun pada tahun 2017.

Walaupun tidak ada angka-angka statistik yang memperlihatkan parahnya ekonomi sektor wisata di Sabang, akan tetapi peran sektor ini sebagai salah satu mesin penting ekonomi lokal tidak dapat dianggap enteng. Lebih atau sekitar 70 persen Pendapatan Asli Daerah (PAD) kota Sabang diperoleh dari sektor wisata. Gambaran tidak lengkap tentang statistik usaha jasa yang ditulis oleh media lokal Indojaya News (Maret 2020) mengungkapkan terdapat 120 hotel, 60 homestay, 200 mobil rental,50 sepeda motor rental,100 becak, 30 boat wisata, 230 guide, 10 diving center, dan 30 kios souvenir. Dari angka ini saja sudah tergambar ribuan tenaga kerja yang berhubungan langsung dengan sektor wisata kehilangan pekerjaannya, belum lagi ribuan pekerjaan lain yang terganggu secara tidak langsung, tetapi sangat ditentukan oleh apapun kejadian yang terjadi di sektor ini.

Lambat atau cepat, Covid-19 ini akan berakhir, dan ketika itu berakhir Sabang dan Santorini akan kembali melayani wisatawan dan akan kembali bergantung pada ekonomi jasa. Yang pasti, sektor wisata pasca Covid-19 tidak akan pernah sama lagi dengan wisata pada masa sebelumnya, dan akan terjadi transformasi besar-besaran. Istilah new normal yang turut disebut dalam keterangan media oleh Walikota Nazarudin di Sabang hanyalah babak pendahuluan dari sebuah tata kelola dan perilaku baru sektor wisata global.

Perkembangan baru itu mesti selalu dipantau, dan diterapkan sesuai dengan kondisi objektif daerah, kalau Sabang ingin mengambil peluang ketika pandemi telah berakhir. Sementara itu sejumlah “paket stimulus lokal” kepada pelaku sektor bisnis wisata ini mesti dicari dan diberikan untuk membuat mereka bertahan menunggu pandemi ini reda. Dengan jumlah penduduk sekitar 35,000 orang, dan dengan anggaran APBK sekitar 800 miliar rupiah-yang mungkin masih tersisa dan akan disisip di APBK Perubahan- Walikota Nazarudin pasti tahu apa yang mesti dilakukan untuk membuat sektor wisata Sabang bertahan, sekaligus menyiapkan ketika sistuasi pandemi telah selesai.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya Sabtu 13 Juni, Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsosakis memberikan pidato peresmian pembukan kembali wisata Yunani di Pulau Santorini. Dengan podium yang dipasang dipinggir pantai Kamari yang indah, latar belakang Laut Agea dan dibawah lembayung mentari akhir musim semi menjelang senja, Mitsosakis mendeklarasikan Yunani siap untuk menerima wisatawan, berikut dengan seluruh protokol terbaik untuk menjamin kenyamanan dan keamanan wisatawan.

Wisata Sabang tidak mesti dibuka oleh Presiden Joko Widodo, menteri, atau pejabat struktural manapun, tetapi kesiapan pemerintah dan masyarakat Sabang uituk menerapkan protokol terbaik yang akan memberi kenyamanan dan keamanan kepada wisatawan mesti diwujudkan terlihat dan terbukti. Di zaman teknologi informasi ini, semua orang mesti tahu pantai Iboih dan Pantai Gapang tidak kalah indah, tidak kalah nyaman, dan tidak kalah aman seperti yang ada di pantai Kamari, pantai Perissa, ataupun pantai Perivolos di Pulau Santorini, Yunani.

Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.