[Ruang Semangat]: Bentakan Kek Syukur saat Kami Bertadarus

Gusti Wahyudi

Oleh Gusti Wahyudi*

Tahun 2019 dan 2020 merupakan tahun yang bersejarah bagi dunia. Menggemparkan seluruh penghuninya. Tidak ada kegiatan yang dapat dilakukan secara formal di luar rumah. Ke mana saja tujuan hendak dicapai, harus menggunakan masker, berhati-hati  dan selalu membawa hand sanitizer. Ini semua disebabkn oleh virus yang merambah, menggerogoti hampir seluruh pelosok dunia. Dia dikenal dengan sebutan Covid-19. Konsekuensi yang ditimbulkan olehnya juga sangat bervarisi. Mulai dari lockdown daerah, dunia pendidikan harus dilakukan secara online, seluruh destinasi wisata ditutup, dan tentunya kerugian yang sangat besar. Yang paling menyedihkan adalah ibadah salat Tarawih harus dijalani di rumah masing masing.

Alhamdulillah, aku bersyukur karena kampung halamanku masih menjalankan ibadah seperti biasa. Meski kondisi masjid sangat memperihatinkan karena jamaah yang hadir hanya satu saf saja. Ramadan tahun ini sangat jauh berbeda dibandingkan tahun tahun sebelumnya. Biasanya di kala Ramadan tiba, masjid selalu menjadi destinasi peribadatan, selalu dipenuhi oleh para jamaah, mulai dari kanak-kanak, remaja hingga lansia. Kini yang tersisa hanya para lansia saja yang memikirkan kehidupan mereka selanjutnya. Para masyarakat berdalih yang tidak menghadiri masjid mereka berdalih dengan alasan “ada korona di mana- mana” entah itu memang karena rasa waswas mereka, atau hanya alasan saja.

Kini menginjak tahun kelima aku menjadi santri di salah satu pesantren terbesar di Aceh. Pondok tempatku menuntut dikenal dengan nama Dayah MUDI Mesra Samalanga, Bireuen. Kebiasaannya, jika santri telah menduduki kelas lima, maka mereka diwajibkan oleh dayah untuk menjalankan ibadah suluk, guna untuk menyelesaikan Tarikat Naqsabandiyyah yang diberikan ijazah langsung oleh pimpinan pesantren, sekaligus membersihkan hati yang telah berlumur dosa bagi yang menjalankanya dengan ikhlas. Lagi-lagi perihal Covid-19, suluk yang seharusnya diselesaikan tahun ini, harus ditunda pada tahun yang akan datang. Tepatnya di kelas enam.

Selama Covid-19 melanda nusantara, pemerintah menganjurkan masyarakat untuk melakukan social distancing. Dan aku menikmatinya dengan senang hati saja. Pasalnya, dengan adanya pandemi, relasi keluarga semakin harmonis, waktu bersama lebih banyak, dan aku bisa menulis dan membaca lebih banyak lagi. Tentunya aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Di luang waktu aku juga berbagi ilmu yang telah kutimba selama di pondok kepada adik-adik dan ibu di rumah. Memang benar apa yang dikatakan orang “Tidak selamanya musibah itu berefek keburukan”. Itulah yang kurasakan.

Sebagai santri satu-satunya di kampungku, pandemi tidak menghalangiku untuk menjalankan rutinitas ibadah ke masjid. Hampir setiap malam aku dipercayakan menjadi imam salat Tarawih, meski hanya dengan jamaah beberapa orang. Seusai Tarawih para jamaah langsung bergegas pulang menuju rumahnya masing-masing. Tidak ada tausiah dan tidak ada tadarus. Pernah suatu malam aku mencoba mengajak teman-teman bertadarus di masjid, mereka pun setuju dan kami pun menghidupkan pelantang suara masjid. Lalu mengaji. Temanku memulai bacaan ayat-ayat suci dengan alunan suaranya yang pas-pasan. Beberapa ayat berjalan, lalu tiba-tiba terdengar suara decitan pintu kaca yang menggesek lantai. Tampak sosok orang tua dengan tongkat di tangan kanannya. Ternyata Kek Syukur.

Ia menuju ke arah kami, tanpa basa-basi ia langsung mematikan stop kontak pelantang suara itu. Dengan nada tinggi ia berkata, “Kalian ini, sudah tahu lagi masa masa korona, masih aja kalian membangkang peraturan pemerintah. Sudah pulang sana!”

Kami benar-benar takut dan bingung karena apa masalahnya mengaji di masjid? Apa suara mengaji itu menyebarkan virus? Padahal kami mengajinya cuma berlima dan menjaga jarak satu sama lain. Dan kami takut karena lantang suaranya yang membuat mental kami ciut. Lagi pula ia orang tua, tidak pantas untuk dilawan. Aku sempat berpikir buruk kepada Kek Syukur, “Apa orang tua itu benci mendengar alunan ayat suci itu?” gumamku sendiri dalam keheningan malam. Tapi sesaat aku membatain, ada benarnya juga Kek Syukur, barangkali kami yang terlalu mengedepankan ego diri kami sendiri.

Malam-malam selama Ramadan tahun ini benar-benar sunyi dari suara orang mengaji yang biasanya menggema di loudspeaker toa meunasah. Hanya ada jeritan jangkrik dan binatang malam yang saling membalas. Meski di masjid tidak ada tadarus, di rumah aku selalu mengajak adik-adikku untuk bertadarus bersama. Hal itu kami lakukan secara rutin pada malam hari di bulan Ramadan. Sebelum tidur aku juga rajin membuat diri tenggelam dalam bacaan novel yang dari dulu telah menjadi hobiku. Kadang-kadang aku menyempatkan untuk menulis cerpen yang akan dimuat di Wattpad pribadiku.

Di pagi hari sebelum berangkat ke ladang, aku meluangkan waktu untuk membuka Instagram untuk mengikuti pengajian bersama Abi MUDI, guru yang saya kagumi. Setiap pagi beliau memberi materi disiplin ilmu tasawuf. Seandainya tidak ada pandemi, mungkin saat itu aku duduk di dalam masjid dan bertatap muka langsung dengan Abi, mengikuti pembelajaran langsung dari jarak dekat. Puluhan kilometer yang membentang bukanlah sebuah problem untuk tetap belajar di era modern ini. Aku terus mendengarkan apa yang disampaikan oleh Abi dengan saksama, meski tidak lama setidaknya aku mendapatkan siraman rohani yang memotivasi diri agar selalu memprioritaskan kebaikan.

Pukul sembilan aku berangkat ke ladang. Memanen kopi yang sudah mulai merah. Anehnya ketika aku keluar rumah, aku ditegur oleh tetangga samping rumahku. Ia berkata, “Kamu kalau mau keluar pakai masker! Kalo enggak mau, kamu di rumah saja!” 

Lagi-lagi aku dikagetkan dengan sapaan yang tidak lazim. “Apa hubungannya korona dengan ladang?” ucapku dalam hati. Aku tidak menghiraukan ucapannya, aku hanya mengangguk dan mengambil kain dengan sembarang, menutup mulut lalu pergi. Separah inikah keadaan?

Bulan Ramadan pun berlalu dan pergi meninggalkan kesedihan. Digantikan oleh bulan Syawal, bulan yang menjadi hari kemenangan bagi umat muslim sedunia. Salat Idulfitri 1441 H kali ini sangat berbeda suasananya. Masih dengan masker yang melekat menutupi hidung dan mulut, hand sanitizer di kantong baju dan menjaga jarak. Tak ada salam-salam. Permintaan maaf hanya sebatas ucapan tanpa berjabat tangan. 

Lalu tibalah masa balik ke pondok, keadaan memang belum begitu pulih, tetapi masa libur sudah berakhir. Hari kembali pada sepuluh Lebaran. Tapi aku masih di kampung karena urusan ini itu. Setelah selesai beberapa hari sesudahnya, barulah aku balik ke dayah, pondok yang aku rindui, belajar leluasa, beribadah juga leluasa. Walaupun kami juga wajib memakai masker dan rajin mencuci tangan.

Di akhir tulisan ini keinginan dan harapanku, semoga pandemi lekas hilang dari muka bumi ini. Harapanku juga kepada kita kita semua untuk mengambil iktibar bahwa kedatangan Covid-19 untuk mengajarkan kita hidup bersih, menjaga jarak dengan orang sekitar dan tetap peduli terhadap sesama meski dalam keadaan sempit.[]

Penulis adalah santri Dayah MUDI Mesra Samalanga, Bireuen

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent