Pengamanan di Perbatasan Aceh akan Kembali Diperketat

Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah

ACEHTREND.COM, Jakarta – Pemerintah Aceh akan kembali memperketat pengamanan di pintu perbatasan Aceh-Sumatera Utara, seiring adanya lonjakan angka kasus positif Covid-19 di Aceh beberapa hari yang lalu.

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah mengatakan, ada empat pintu masuk yang akan menjadi titik pengamanan, yaitu Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Kota Subulussalam, dan Aceh Singkil. Namun, Pemerintah Aceh juga akan mengkaji aspek hukum serta aspek sosial ekonomi.

“Saya sudah sepakat dengan forkompimda (forum koordinasi pimpinan daerah) dan stakeholder yang lain agar keluar sebentar dari zona nyaman, dan kita ketatkan kembali. Karena memang transmisi dari daerah merah yang membuat maraknya kasus positif di Aceh,” ujarnya di Jakarta, Selasa, 23 Juni 2020.

Menurut Nova, setelah berkoordinasi dengan forkompimda, skema penyekatan tersebut paling sangat efektif untuk mengantisipasi naiknya grafik positif Covid-19 di Aceh.

“Tapi kita juga nanti akan tanyakan ke stakeholder terlebih dahulu, jadi tidak memutuskan dengan terburu-buru. Satu atau dua hari menyusun skemanya. Sehingga penyekatannya nanti ada yang ketat, sedang dan relatif soft (ringan), tergantung daerah,” kata Nova.

Apalagi, tambahnya, Aceh sudah memiliki pengalaman dalam hal pengamanan di perbatasan Aceh-Sumatera yang dilakukan selama bulan puasa Ramadan hingga Idulfitri lalu.

“Jadi masyarakat sudah terbiasa dengan protokol filter di perbatasan itu, yakni dengan mulai memeriksa surat menyurat, periksa suhu tubuh, pakai masker, cuci tangan, dan kebiasaan itu sudah dilakukan masyarakat sebulan lebih waktu itu. Sehingga menurut saya penyekatan ini tidak lagi menimbulkan shock,” ujarnya.

Dalam hal ini, Pemerintah Aceh juga mencoba menjaring aspirasi masyarakat. Sehingga penyekatan setingkat apa yang akan dibutuhkan dan diterapkan.

“Simulasi itu sedang kita coba dan kerja sama dengan TNI/Polri, serta stakeholder yang lain. Saya lebih melihat penyekatan ini merupakan kebutuhan dan permintaan dari bawah sebenarnya,” katanya.

Untuk itu, ia berharap semua stakeholder, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) mendukung program Pemerintah dalam mengantisipasi Covid-19. Karena, keberhasilan tidak mungkin terjadi tanpa dukungan semua pihak.

“Termasuk dari kerelaan masyarakat untuk keluar dari zona nyaman, seperti tidak duduk di warung kopi secara berdekatan, ke pasar secara berbarengan,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan laporan Gugus Tugas Covid-19 kabupaten/kota, per tanggal 23 Juni 2020, pukul 15.00 WIB, jumla angka positif COvid-19 di Aceh mencapai angka 50 orang.

Pasien positif Covid yang masih dirawat sebanyak 28, sudah sembuh 20 orang, dan 1 orang meninggal dunia, pada 23 Maret 2020.

“Kita imbau masyarakat menahan diri dulu dari keinginan berpergian dari dan ke zona merah Covid-19. Mari menerapkan ‘kunjungan’ melalui teknologi informasi—meski tidak bertemu fisik namun tanpa mengurangi esensi silaturahmi dalam kehidupan kita,” kata Jubir Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani, Selasa (23/6/2020).

Jumlah orang dalam pemantauan (ODP) di seluruh Aceh hari ini sebanyak 2.241 orang. Ada penambahan ODP baru sebanyak 10 orang dibandingkan data kumulatif sebelumnya, yang sebanyak 2.231 orang.  

“ODP yang masih dalam pemantauan Gugus Tugas Covid-19 kabupaten/kota saat ini sebanyak 29 orang. Sedangkan sebanyak 2.212 orang sudah selesai menjalani proses pemantauan atau isolasi secara mandiri,” jelas SAG.[]

Editor : Ihan Nurdin