Euforia Zona Hijau

Saiful Akmal

Oleh Saiful Akmal*

Penambahan jumlah warga yang teridentifikasi positif Covid-19 semakin hari menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Pemerintah dan warga Aceh harus semakin meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan. Jika tidak bergerak cepat, tepat, dan lugas tren ini akan semakin meningkat dan menyebabkan semakin banyak korban dan dampak yang lebih luas hanya dalam hitungan waktu.

Saat kasus meninggal hanya satu orang, serta ODP dan PDP tidak banyak, warga dan masyarakat awalnya memiliki kesadaran tinggi serta kedisiplinan ekstra khusussnya di awal masa pandemi. Pemda juga siaga dan sigap dengan pemberlakuan jam malam. Namun, setelah euforia zona hijau dan siaran televisi nasional yang menampakkan image Aceh sebagai daerah yang sukses menangani Covid-19 membuat semua pihak terlena. Bahkan beberapa daerah yang dinyatakan hijau dan merah dan kuning membuat normalisasi aktivitas semakin terasa berdenyut.

Di sisi lain, arus transportasi dan mobilitas warga Aceh dari dan ke provinsi tetangga, demikian juga pasokan kebutuhan pokok juga semakin intens dari hari ke hari. Sementara protokol kesehatan cenderung diabaikan ataukan malah tidak ada sama sekali (?). Protes akan pembagian zona seperti yang dilakukan Kota Banda Aceh sepertinya malah membuat kondisi semakin tidak menentu, mengingat kategorisasi itu secara metodologi juga perlu penjelasan dan bersifat sementara, mengingat dinamika kasus yang terus berubah. Di sisi lain Pemerintah Aceh sepertinya semakin gamang, dan ini membuat tingkat kekhawatiran akan kemampuan kita memitigasi dampak yang tidak terhindarkan dari wabah kian hari kian bertambah.

Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota perlu lebih tegas terhadap mobilisasi orang dan barang, dan segera mengevaluasi kondisi terkini, dan jika perlu menutup sementara arus orang dan barang dari dan ke provinsi tetangga. Jika bertambah parah, pemberlakuan jam malam sementara perlu dikaji jika penyebaran transmisi lokal, karantina mandiri dan physical distancing diabaikan, kedisiplinan warga, dan protokol kesehatan dan sanitasi sudah semakin melonggar atau tidak diindahkan.

Aceh memang daerah terujung di Sumatra, mungkin ini yang membuat warga awalnya merasa aman, karena posisi kita awalnya tidak rentan, karena mobilitas ke Aceh sudah pasti minim, beda halnya dengan daerah lain seperti Sumatera Utara, Sumatera Selatan, atau Lampung sebagai daerah transit ekonomi dan juga transportasi, tidak heran angka Covid-19 positif di mereka meningkat, layaknya Jakarta dan Jawa Timur.

Namun, berhubung tranmisi lokal sudah terjadi dan peningkatan korban meningkat drastis dari hari ke hari, perlu kesigapan dan respons cepat dari pihak pemerintah dan dinas terkait serta masyarakat untuk sama-sama saling mengingatkan. Budaya dan edukasi bahwa saya ODP, PDP dan karantina mandiri perlu terus digencarkan, dan stigma negatif terhadap korban dan sikap paranoid terhadap penderita Covid-19 juga menjadi catatan penting sebagai tantangan kita ke depan. Jika tidak tunggu saja tanggal mainnya, warga abai, pemerintah lalai. Efeknya akan semakin buruk, semoga saja tidak.[]

Penulis adalah dosen UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan pendiri padebooks.com

Editor : Ihan Nurdin