[Ruang Semangat]: Meningkatkan Produktivitas Diri di Kala Pandemi

Oleh Norazita*

Pandemi Covid-19 menuntut kita semua untuk menjaga jarak dari keramaian, menjaga kebersihan dan kesehatan diri masing-masing, keluarga, dan lingkungan sekitar kita. Setidaknya sebelum vaksin antivirus benar-benar resmi beredar di seluruh rumah sakit, hal tersebut merupakan yang utama harus kita perhatikan sebagai awal pencegahan terinfeksinya virus ini. Pemakaian masker dan hand sanitizer juga sangat dianjurkan oleh pemerintah, jika masyarakat memang harus melakukan aktivitas outdoor. Tak luput juga, anjuran mencuci tangan dengan teknik-teknik handwash yang kerap kali sudah dibahas di berbagai media. Hal tersebut tentunya untuk melindungi diri kita dari tertularnya virus ini melalui sistem pernapasan dan kulit.

Begitu juga yang saya lakukan, ketika kampus mulai mengalihkan perkuliahan melalui daring (dalam jaringan). Saat tersebarnya  berita tersebut, sebagian besar teman-teman saya langsung memutuskan rencana untuk pulang ke kampung halaman mereka. Namun, saya sendiri masih memiliki kewajiban sehingga harus tetap di asrama kampus. Melaksanakan kegiatan asrama seperti biasa, meskipun dialihkan di kamar masing-masing. Mulai dari ditiadakan salat jamaah di masjid dan koridor asrama, wirid bersama, setoran Alquran dan beberapa kegiatan lain yang di-kamar-kan. Meskipun belum ada arahan untuk liburan ketika itu, pembatasan sosial tetap diterapkan, mahasiswa tetap di dalam ruangan kecuali jika ada keperluan di luar seperti berbelanja bahan makanan, olahraga di pagi hari, dan lainnya.

Beberapa hari semenjak disebarkan berita tersebut, Kopelma (Kompleks Pelajar Mahasiswa) Darussalam, benar-benar terasa sepi, tak diherankan lagi, daerah ini memang ramai dengan kegiatan dan kehidupan mahasiswa.

Meskipun begitu, pembatasan sosial ini juga membawa beberapa hal positif bagi kehidupan saya. Dua minggu terakhir di asrama, saya dan teman kamar lebih sering memasak dan makan sayur-sayuran, dibandingkan biasanya jadi mahasiswa yang agak malas-malasan karena kecapaian kuliah dan ikut kegiatan kampus lainnya. Setiap tiga hari sekali, kami berbelanja bahan masakan bersama di pasar terdekat, pastinya tetap memakai masker dan selalu mencuci tangan setelah beraktivitas. Hal positif lainnya selama di asrama di masa social distancing adalah lebih sering berolahraga, mulai dari joging, main badminton, dan senam pagi.

Setelah dua minggu saya menghabiskan masa social distancing di asrama, saya berencana pulang ke Pidie, seusai membaca berita yang diterbitkan pihak kampus bahwa pembelajaran online diperpanjang dan pihak asrama juga sudah meliburkan para mahasiswa.

Selama perjalanan dua jam lebih menuju kampung halaman dengan mengendarai sepeda motor, saya menjaga diri agar tidak berinteraksi lebih dengan penduduk lainnya sebagai bentuk kewaspadaan terhadap Covid-19 ini. Bahkan, saya tidak berani untuk membelikan buah tangan atau oleh-oleh makanan untuk keluarga karena alasan yang sama.

Hingga awal bulan Mei saya berada di rumah, social distancing dan physical distancing masih menjadi imbauan keras bagi keluarga saya. Terlebih lagi, saya memang jarang ke luar rumah jika masa liburan tiba, terkecuali ingin berbelanja dan ada kegiatan penting lainnya. Meskipun begitu, banyak kegiatan produktif dan menarik yang bisa saya lakukan dengan adik-adik di rumah. Kami menelusuri beberapa resep masakan, kue, dan minuman dan mencoba mempraktikkannya. Saya juga menghabiskan beberapa buku bacaan yang sudah saya pinjam dari teman kampus sebelum pulang kampung.

Kegiatan harian lainnya, saya menyelesaikan tugas-tugas kampus dan mengikuti berbagai kelas dan seminar online, ada kelas menulis, kelas marketing dan bisnis ,kelas desain grafis, kelas diskusi naskah, dan masih banyak lagi. Untuk kegiatan malam hari, saya isi dengan mengaji bersama dan ikut majlis taklim di pengajian samping rumah, dua malam setiap minggunya. Meunasah dan masjid di daerah saya memang masih menerapkan pengajian dan salat jamaah seperti rutinitas biasanya. Sehingga, lokasi rumah saya yang berada di dekat meunasah membuat saya juga ikut nimbrung kajian setelah solat jamaah Isya. Namun, masyarakat tetap waspada dengan membawa sajadah masing-masing, menjaga jarak tempat duduk, dan ada beberapa yang menggunakan masker.

Sudah dua bulan di rumah, beberapa kali saya sempat menggerutu kesal karna merasa tidak produktif dalam artian tidak dapat menghasilkan uang sepeser pun selama pulang ke rumah. Namun, hal tersebut sempat terbayarkan sebentar di pertengahan Mei. Petugas aparat desa mendatangi rumah saya dan membawa kabar baik, setiap desa akan membagi-bagikan masker gratis kepada setiap keluarga di desa kami, jumlah yang ditargetkan sebanyak seribu lembar. Kami mendapat orderan untuk menjahit masker sebanyak 600 lembar. Seketika saya tersenyum, dan langsung bersemangat untuk menjahit masker tersebut besok harinya.

Setelah saya melihat satu contoh jahitannya masker dari ayah, itu kelihatanya tidaklah rumit. Namun, proses yang diperlukan juga lumayan lama, apalagi ketika menjahit bagian tali yang harus menggunakan kain tersebut. Sehingga setelah menyelesaikan sekitar sebagian orderan, kami memutuskan mengganti tali kain dengan tali karet. Meskipun lebih cepat dalam penjahitannya, tali karet mulai susah didapatkan karena semakin banyak produksi masker di kota kami. Saya sampai kewalahan mencari tali karet tersebut ke berbagai kedai di Kabupaten Pidie hingga Pidie Jaya. Ditambah lagi dengan harga tali karet tersebut yang sudah melonjak harganya, tetapi saya masih beruntung mendapatkan beberapa gulungan tali karet untuk menyelesaikan sisa pesanan.

Semua orderan masker sudah terselasaikan di hari ketiga bulan Ramadan. Hal tersebut membuat saya tersenyum lega karena saya bisa ikut berkontribusi dalam kegiatan produktif ini, tetapi juga sedikit sedih karena saya akan kembali menganggur. Namun, saya tak pernah khawatir karena jalan rezeki sudah diatur Allah, kita hanya perlu berusaha dan berdoa.

Setiap hari, meskipun hanya di rumah saja, saya berusaha melakukan berbagai kegiatan positif dan bisa meningkatkan produktivitas diri seperti yang saya lakukan akhir-akhir ini membaca buku, menulis artikel, ikut beberapa lomba kepenulisan, menonton konten YouTube bermanfaat, mengerjakan tugas kampus, ikut pengajian, ikut berbagai webinar dan kajian islami, serta melakukan berbagai kegiatan lain yang bermanfaat dan bisa mengembangkan skill dan passion.

Saya berpikir bahwa masa pandemi Covid-19 ini adalah waktunya untuk hidup lebih santai, tapi tetap melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masa depan kehidupan dunia akhirat, bukankah begitu?[]

*Penulis adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent