Lhob Mate Corona (17) Covid-19 dan Negara Berkembang :Kita Belum Setengah Jalan

Bagian I

Oleh Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid

Ketika gelombang pertama Covid-19 menyerang Wuhan, berlanjut ke Eropa dan AS, langkah yang umumnya diambil oleh pemerintah di negara-negara itu adalah lhobmate-lokcdown, atau sebagian penutupan partial lockdown dan sejumlah kebijakan lain seperti social distancing,kampanye masker, karantina, dan test. Ada yang mengerjakan dengan sangat serius, kurang serius, dan bahkan ada yang main-main. Cina, Vietnam, Taiwan, New Zealand, Jerman, dan beberapa negeri keil lainnya di Eropa di nilai relatif berhasil. Sebaliknya, Italia, AS, dan Inggris dinilai kurang berhasil, dan bahkan dianggap tidak berhasil jika dibandingkan dengan sumberdaya yang dimiliki dan dicurahkan.

Ketika pandemi itu menyerang negara-negara berkembang, termasuk negara berkembang papan atas seperti Meksiko, Brazil, India, walaupun tidak sepenuhnya dilakukan seperti di negara maju, akan tetapi tetap dilakukan berbagai kegiatan pencegahan dengan tingkatan,skala, dan intensitas yang berbeda. Hanya India yang sangat serius melakukan pencegahan dengan tiga gelombang lhob mate-lockdown, yang membuat ekonomi India terasa goyang. Brazil dan Meksiko hanya menganjurkan social distancing dan beberapa kebijakan kecil lainnya.

Indonesia dinilai tidak sangat memadai melakukan upaya-upaya pencegahan ditandai dengan posisi pemerintah yang diwakili oleh Menteri Kesehatan yang sangat buruk, Sejumlah “pertengkaran” Pemerintah Pusat dengan daerah -terutama dengan Pemda DKI dalam berbagai hal semakin memperburuk suasana, walaupun pada akhirnya apa yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat nyaris seperti strategi yang dilakukan DKI, yang pada awalnya ditolak.

Ada beberapa negara yang kecil yang maju seperti Singapura yang bekerja sangat keras dan sistematis dan sampai hari ini dinilai relatif berhasil. Hal yang sama juga dilakukan oleh Taiwan, yang sudah bekerja jauh lebih awal dari semua negara lain, sehingga korban Covid-19 hampir tidak ada, dan kerugian ekonominya yang dialaminya nyaris tidak terjadi. Vietnam negara berkembang yang juga mengetahui dan mengikuti “virus wuhan” lebih awal dari negara-negara lain melakukan langkah-langkah yang cepat, tegas, dan bahkan keras dengan korban nol, dan tidak membuat ekonomi negaranya terguncang. Di Eropa, negara tidak kaya yang dianggap berhasil melakukan pencegahan adalah Yunani, yang saat ini baru saja membuka kembali “mesin besar” ekonomi satu satunya, pariwisata.

Penerapan lockdown di negara-negara berkembang pada periode awal mempunyai konsekuensi ekonomi yang sangat berbeda dengan negara-negara maju yang mempunyai kekuatan ekonomi dan sistem kesehatan yang cukup mumpuni. Selain kebijakan itu tidak atau kurang berhasil, kecepatan penyebaran Covid-19 kini mulai menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Tanpa harus terlalu jauh melihat ke Brazil dan Meksiko, apa yang sedang terjadi di India dan Indonesia hari ini adalah sebuah gambaran yang mungkin membuat kita cemas, tetapi juga dapat mendorong kita untuk lebih realistis, dan bersiap untuk menghadapi kondisi biasa saja, bahkan terburuk sekalipun.

Pada awal terjadinya Covid-19 di Cina , nama India belum disebut-sebut dalam diskusi tentang pandemi itu. Walaupun India dan Cina berbatasan fisik sejauh ribuan kilometer, batas itu menjulang tinggi di “awan” di kawasan tinggi Pegunungan Himalaya yang tingginya ribuan meter dari permukaan laut. Praktis tidak terjadi lintasan manusia yang berpeluang membawa Covid-19 dari Cina ke India lewat darat.

India baru ramai diperbincangkan ketika Perdana Menteri Modi mengumumkan lhob mate-lockdown Covid pada awal Maret 2020 yang dilanjutkan dengan tiga kali perpanjangan. Dengan luas India yang hampir menyerupai benua, jumlah penduduk 1,3 miliar, keragaman suku, budaya,ekologi, dan sosial ekonomi masyarakat, sulit untuk mengatakan India berhasil atau tidak berhasil membendung Covid-19.

Ketimbang turun kasus Covid-19, jumlah penderita positif yang dilaporkan justru bertambah setelah lhob mate-lockdown. Pada perpanjangan kali ke tiga, jumlah kasus yang dilaporkan justeru 6 kali lebih banyak dari pada saat dimulainya lhobmate-lockdown tahap pertama. Apakah ini berarti keputusan Perdana Menteri Modi salah atau tidak berhasil? Penilaian objektif yang dibuat oleh 600 akademisi yang bergabung dalam kelompok ilmuwan India Peduli Covid-19 (ISRC 2020) menyebutkan kebijakan Perdana Menteri Modi menerapkan lhobmate-lockdown, telah menyelamatkan antara 8.000-32.000 kematian dibandingkan dengan tidak mengerjakan apa-apa.

Hari ini penderita Covid-19 di India terus melonjak, dan bahkan kini menduduki peringkat ke 4 global setelah Amerika Serikat, Brazil, dan Rusia. Sampai dengan minggu ke tiga Juni jumlah kasus India sudah melebihi 350.000 kasus, dengan penambahan belasan ribu kasus perhari. Bahkan pada hari Minggu, tanggal 14-6 yang lalu yang merupakan hari angka tertinggi global peningkatan Covid-19, India menjadi penyumbang terbesar, sebanyak 15.400 kasus.

Saat ini India kewalahan meghadapai Covid-19. Cukup banyak pasien yang tidak lagi tertampung di rumah sakit, bahkan kini gerbong kereta api pun telah dijadikan sebagai ruang rawat pasien Covid-19. Angka kematian India sampai saat ini masih berada di kisaran belasan ribu, padahal penularan Covid-19 India diperkirakan akan mencapai puncak tertingggi pada bulan November tahun ini, sebuah perjalanan yang masih panjang dan mendebarkan.

Secara konvensional, jika vaksin Covid-19 belum ditemukan, atau belum sempat disuntikkan kepada masyarakat India, tidak ada yang bisa membayangkan berapa korban yang akan terjadi di India. Apalagi bila dikaitkan dengan kesiapan sistem dan infrastruktur kesehatan publik yang dimiliki oleh India yang sangat tidak memadai bila dibandingkan dengan potensi, skala, dan intensitas pandemi yang sedang berlangsung.

Skenario puncak pandemi India diproyeksi akan terjadi pada November tahun ini, dan kesiapan sistem kesehatan publik ramai didiskusikan di kalangan pemerhati kesehatan global. Kepedulian itu tumbuh karena India berada pada ranking ke 57 dari index kesiapan menghadapi pandemi (Global Health Security Index 2019), dibandingkan dengan ranking negara-negara “penderita” Covid terparah global, Amerika Serikat 1, Inggris 2, Brazil 22, dan Italia 33. India hanya memiliki 1 dokter untuk11,082 penduduk, (standar WHO 1;1000). Selanjutnya ranjang rumah sakit yang tersedia hanya 0,53 ranjang untuk 1,000 penduduk dibandingan dengan Indonesia 1,1, Turki 1,8, Chilli 2,1. Cina 4,3, dan Rusia 8,05. Dengan jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 1,3 milyar dan perkembangan kasus Covid yang terus menaik, India juga menghadapi persediaan yang sangat terbatas- paling kurang sampai dengan saat ini yakni 35,699 Unit Gawat Darurat, 17,850 ventilator, dan 713,968 ranjang rumah sakit ( Princeton University & CDDEP India 2020).

Sekalipun jumlah korban dan pasien Covid-19 Indonesia tidak sebesar India, akan tetapi ketidak pastian tercapainya kurva datar nasional sampai hari ini masih mengkhawatirkan. Berbeda dengan India yang mencapai pertambahan belasan ribu pasien Covid-19 perhari, Indonesia hanya mencapai seribuan kasus atau lebih perhari sampai dengan saat ini. Namun hal itu belum menjadi jaminan bahwa Indonesia aman. Angka 1.000-an kasus perhari ini tidak dapat dipercaya seratus persen, karena terjadi perbedaan ratio jumlah test antara India – 4530 test per satu juta penduduk dan Indonesia-2123 test per satu juta penduduk (Worldmeter 2020).

Angka-angka terakhir yang disajikan oleh pemerintah juga perlu ditelisik secara lebih dalam. Data pertambahan pasien pada Kamis 18 Juni yang mendapat 1,331 passien baru dari hasil 10,831 test menunjukkan sedikitnya mendekati 13 persen. Secara uji statistik ini adalah angka yang tidak boleh dianggap enteng, apalagi dengan dimulainya relaksasi mobilitas penduduk dan aktivisasi kegiatan sosial ekonomi yang diketegorikan sebagai era new normal. Selanjutnya, walaupun Indonesia mempunyai penduduk lebih 270 juta, jumlah test harian yang dilaksanakan secara nasional relatif rendah, 10.000 per hari, dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia misalnya,30,000 per hari dengan jumlah penduduk yang lebih sedikit lebih besar dari sepersepuluh penduduk Indonesia, 31,5 juta.

Dari beberapa ilustrasi di atas, kini semakin jelas gambaran, atau tepatnya sejumlah model yang memprediksikan situasi tercapainya garis datar kurva normal sampai dengan hari ini belum satupun terbukti. Berbagai prediksi tentang kapan Indonesia akan mengalami puncak pandemi juga sama saja. Pada awalnya masa puncak pandemi diprediksi akan terjadi bulan Mei, dan baru beberapa minggu yang lalu diduga pada bulan Juni ini. Beberapa hari yang lalu muncul lagi prediksi baru yang menyatakan bulan Juli yang akan datang ini sebagai puncak. (Bersambung)

Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.