Menggodanya Aroma Sie Manok Reubong Kala di Cot Goh Aceh Besar

Bang Baka mengaduk gulai ayam reubong kala @aceHTrend/Ahmad Mirza Safwandy

Ahmad Mirza Safwandy*

Cuaca tak cerah di seluruh penjuru, awan gelap menutup matahari dengan tipis, angin seakan irit untuk berembus. Puncak siang memang belum tiba, butuh seratus menit lagi menunggu waktu zuhur tiba.

Saya kembali menatap arloji yang usianya lebih muda tiga tahun dari MoU Helsinki, jarak waktu masih terlalu cepat untuk ukuran makan siang. Tetapi, saya harus menunaikan penasaran rasa untuk menyicip kuliner yang direkomendasikan oleh seorang teman.

Agar tidak mengganggu jalan, kendaraan saya parkir sebelum tanjakan Pasar Cot Goh, Montasik, Aceh Besar, tepatnya sebelum Puskesmas Montasik, Rabu (17/06/2020).

Perjalanan ke Montasik memang tidak direncanakan, sambil lewat saja. Masih searah menuju Indrapuri, tempat yang kami tuju untuk mengunjungi seorang teman yang juga bekerja di aceHTrend.

Setelah bertanya ke warga yang berjualan ikan di dekat masjid, tiba juga di warung yang kami cari. Seperti warung makan Aceh umumnya, rak nasi ditaruh di depan kedai, di sampingnya ada belanga besar khas untuk memasak kuah beulangong.

Tampak dua lelaki usia lanjut sedang mengaduk kuah dalam beulangong, seorang di antaranya sedang melipat daun pisang yang dipakai sebagai alas pembungkus nasi.

Di kampungnya, Abu Bakar dikenal dengan panggilan Bang Baka. Kami disambutnya dengan ramah, “Piyoh (singgah),” sapanya, sambil memutar bungkusan plastik transparan berisi gulai ayam yang diikat dengan karet gelang berwarna merah.

Yummiiiii…. dijamin bikin selera makan langsung melonjak @aceHTrend/Ahmad Mirza Safwandy

Ia masih sibuk melayani pembeli yang mengantre lebih awal dari kami. Pun Bang Baka masih tidak lupa untuk mempersilakan duduk, keramahan yang mulai langka kita dapatkan di warung-warung atau kafe. Menu yang tersedia hanya dua, ayam masak dan telur rebus yang dilumuri kuah ayam. Bang Baka masih juga terlihat gesit, walau telah berusia 64 tahun ia tak kalah untuk bergerak cepat. Pria berambut putih dan berpeci hitam itu bergegas menghidangkan nasi putih dan gulai ayam, sesuai dengan pesanan saya dan istri.

Harganya terjangkau untuk berbagai kalangan, satu porsi sekitar 15 ribu rupiah, ayam yang digunakan ayam kampung. Di luar sana banyak juga penjual yang mengaku menggunakan ayam kampung. Tapi saya yakin ayam kampung Bang Baka lebih otentik. Rasa memang tidak boleh bohong, walau kita tak tahu asal usul dan riwayat hidup ayam kampung itu, jelas bedanya antara manok gampong, manok mirah, manok arab, sekalipun peternakannya di kampung, tak menjamin ayamnya ayam kampung. Lebih khas lagi, gulai ayama Bang Baka ini diberi campuran reubong kala atau kecombrang.

Masakan ayam reubong kala salah satu kuliner yang begitu menggoda, makanan ini paling nikmat disuguhkan dalam berbagai hajatan. Sudah menjadi tren, dalam agenda silaturahmi atau ketika acara kumpul-kumpul berbagai komunitas di Banda Aceh dan Aceh Besar ayam reubong kala menjadi menu andalan.

Bumbu ayam reubong kala dikenal kaya dengan rempah khas kuliner Aceh, harumnya tak perlu menambah pengharum ruangan beraroma makanan yang mengundang rasa lapar.

Kunyit, ketumbar, halia, bawang, cabai, masing-masing saling berbagi peran, andai ini yang dinamakan koalisi maka ini koalisi yang sempurna. √ô neulheue alias kelapa gongseng juga ikut andil memperkuat kelezatan.

Di tubuh saya, hormon ghrelin mulai bekerja, ia mengirim sinyal ke hipotalamus agar tidak menunda mencicipi masakan yang telah tersaji di meja. Bismillah, slurrpp, saya coba kuahnya, ladzhis! nikmatnya ayam reubong kala ala Bang Baka.

Kecombrang memiliki aroma yang kuat dan rasa yang khas untuk membuat gulai menjadi lebih nikmat.

Bagi penikmat kuliner, reubong kala alias kecombrang adalah kunci, komposisi bumbu tanpa reubong kala membuat masakan terlalu biasa. Karena aromanya yang kuat, umbi-umbian ini sering dijadikan pelengkap untuk mengurangi anyir pada ayam.

Dikutip dalam jurnal BMC Research Notes, ternyata kecombrang mengandung antioksidan yang sangat tinggi. Senyawa flavonoid yang terdapat di dalamnya membantu menangkal kerusakan sel dalam tubuh. Efek antioksidan bukan hanya pada bunga, bahkan juga terdapat pada batangnya.

Aroma reubong kala di Cot Goh, sudah nikmat, ternyata berkhasiat pula. Mankyusss![]

Founder Media aceHTrend

Editor : Ihan Nurdin