Organisasi Sipil Serukan Implementasi Respons Kemanusiaan untuk Pengungsi Rohingya

Kapal yang mengangkut 94 warga Rohingya di perairan Lancok, Kec. Syamtalira Bayu, Aceh Utara, Kamis (25/6/2020). @aceHTrend/Mulyadi Pasee

ACEHTREND.COM, Lhokseumawe – Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil Indonesia sangat mengapresiasi inisiatif masyarakat Aceh Utara dalam menyelamatkan pengungsi Rohingya dan penanganan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara.

“Tindakan menyelamatkan pengungsi Rohingya di perairan Aceh Utara patut diapresiasi,” kata Direktur Yayasan Geutanyoë, Rima Shah Putra, kepada aceHTrend, Sabtu (27/6/2020).

Dia menyebutkan, penanganan pengungsi Rohingya di Punteut, Kota Lhokseumawe sejak Kamis (25/06/2020), tidakbisa ditangani sendiri oleh masyarakat dan Pemkab Aceh Utara. Maka, pelibatan dan kerja sama antarunsur dan elemen lain dalam penanganan pengungsi ini harus dilakukan, terutama oleh Pemerintah Pusat.

“Sebagian dari pegungsi Rohingya merupakan perempuan dan anak-anak, saat ini ditempatkan di penampungan sementara di bekas kantor imigrasi yang juga pernah dipakai pada 2016 lalu untuk para pengungsi Rohingya,” katanya.

Dia mengatakan sebelumnya para imigran tersebut dievakuasi ke darat oleh masyarakat di Pantai Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu yang sempat terombang-ambing di lautan sejak 22 Juni 2020. Kemudia menjelang magrib, pengungsi itu dibawa ke tempat penampung sementara.

“Mereka dibawa ke daratan oleh para nelayan setelah mendapat desakan dari para penduduk sekitar. Saat ini, sesuai dengan protokol kesehatan penanganan pandemi Covid-19, seluruh pengungsi Rohingya telah menjalani rapid test dan hasil seluruhnya dinyatakan nonreaktif,” katanya.

Menurut Rima, kedatangan pengungsi Rohingya bukanlah situasi yang terjadi untuk pertama kalinya, namun telah terjadi sejak pecahnya konflik di Myanmar pada tahun 2015, yang mengakibatkan masyarakat Rohingya terpaksa menyelamatkan diri dan meninggalkan tempat tinggalnya.

Pada awalnya pemerintah menolak dan ingin mengembalikan mereka ke laut, namun masyarakat berinisiatif untuk membantu, karena adanya hukum adat yang berlaku terkait dengan pertolongan dan solidaritas kepada sesama manusia. Inisiatif ini bukanlah yang pertama kalinya dilakukan oleh masyarakat Aceh kepada pengungsi Rohingya.

Bertepatan dengan diselenggarakannya KTT ASEAN ke-36, perhelatan ini seharusnya menjadi momentum bagi para pemimpin ASEAN untuk mendesak Myanmar agar segera menyelesaikan konflik dan menghentikan kejahatan terhadap kemanusiaan yang terjadi di Myanmar.

Dia mengatakan, penyelesaian konflik ini juga sejalan dengan hasil rekomendasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Resolusi Dewan Keamanan PBB sebagai bentuk tindak lanjut Tim Pencari Fakta Independen PBB untuk Myanmar.

“Kami meminta negara-negara di ASEAN juga perlu menerima para pengungsi Rohingya dan tidak saling menolak menghadapi kelompok rentan yang nyawanya kian terancam di tengah laut. Seluruh negara anggota ASEAN harus pula mengedepankan hak asasi manusia termasuk hak pengungsi, sehingga KTT ASEAN ini tidak hanya menjadi ajang pertemuan dan dialog kerja sama yang mengedepankan ekonomi, namun juga situasi krisis kemanusiaan, demokrasi dan keadilan yang terjadi di wilayah regional Asia Tenggara.”

Rima kembali menjelaskan bahwa penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak asasi manusia terhadap para pengungsi tercakup dalam banyak instrumen hukum internasional, secara spesifik Konvensi 1951 tentang, Pengungsi. Indonesia, meskipun bukan negara pihak Konvensi 1951, telah memiliki Perpres No. 125/2016 tentang Penanganan Pengungsi dari Luar Negeri yang merumuskan secara spesifik terkait penanganan dan pertolongan termasuk penyediaan tempat penampungan.

“Indonesia juga memiliki dan menjadi pihak dalam beragam instrumentasi Hak Asasi Manusia yang harus dihormati dan dipenuhi,” katanya

Maka dari itu, Koalisi Organisasi Masyarakat Sipil terdiri atas Perkumpulan SUAKA, Yayasan Geutanyoë, KontraS, Jesuit Refugee Service, Sandya Institute, Amnesty International Indonesia, The Asian Forum for Human Rights and Developmen,t dan Dompet Dhuafa, memberikan tujuh rekomendasi kepada Pemerintah Indonesia, yaitu segera membuat regulasi turunan yang bersifat teknis untuk penanganan pengungsi, terutama setelah Perpres 125/2016 dikeluarkan namun belum dapat diterapkan sepenuhnya, dari sisi teknis penganggaran dan pembiayaan; mendorong pemerintah Indonesia untuk segera mengaksesi Konvensi 1951 agar pemerintah Indonesia dapat lebih komprehensif dan efisien dalam melindungi hak-hak pengungsi sesuai dengan komitmen pada konvensi internasional yang telah disepakati.

Selanjutnya membuat aturan teknis tambahan yang dibutuhkan termasuk mekanisme karantina, tes, dan penerapan penjagaan jarak fisik guna menjamin keselamatan warga dan pengungsi, dikarenakan pandemi Covid-19; segera menetapkan lokasi penempatan pengungsi yang lebih layak, mengingat lokasi penampungan saat ini yakni bekas kantor imigrasi kurang memadai dari sisi fasilitas. Sementara fasilitas penampungan pengungsi di Aceh Utara sebelumnya telah beralih fungsi menjadi fasilitas rawat inap pasien Covid-19. Merekomendasikan untuk mempertimbangkan berbagai opsi yang ada termasuk Langsa;

Berikutnya, memberikan solusi jangka panjang yang bersifat inklusif termasuk akses pengungsi untuk mengakses penghidupan secara mandiri; mendorong penyelesaian situasi di Myanmar dan mendorong tanggung jawab negara ketiga untuk memenuhi komitmennya dalam meningkatkan penempatan Pengungsi ke negara ketiga.

Terakhir mendorong pemerintah untuk dapat mengambil pelajaran-pelajaran penting dari pengalaman penanganan pengungsi Rohingya di Aceh tahun 2015, dimana masyarakat sipil dan organisasi kemanusiaan berkolaborasi dengan pemerintah untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan di lapangan. Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia pada Sustainable Development Goals dan Global Compact on Refugees[].

Editor : Ihan Nurdin