Muncul #GerakanSejutaKupiahAceh di Medsos, Inisiatornya Dosen FH Unsyiah

Dr Teuku Muttaqin (baju hitam) Mansur bersama dua koleganya @ist

Dalam sepekan ini jagat media sosial diramaikan dengan promosi kopiah Aceh yang bisa dibilang masif. Beredar foto-foto kaum pria Aceh duduk di kedai kopi atau di berbagai kesempatan mengenakan kopiah yang dominan dengan warna kuning dan merah. Rupa-rupanya, promosi yang masif ini merupakan bagian dari #GerakanSejuta KupiahAceh yang diinisiasi oleh dosen Fakultas Hukum Unsyiah, Dr Teuku Muttaqin Mansur.

Awalnya ini merupakan gerakan spontan yang dipromosikan di media sosial Facebook. Di luar dugaan, gerakan ini ternyata mendapat sambutan luar biasa dari rekan sejawatnya yang lain. Dengan sendirinya tagar-tagar serupa mulai bermunculan di unggahan-unggahan foto yang lain.

“Ide melahirkan tagar ini awalnya memang dari saya setelah melihat semangat teman-teman membumikan kupiah Aceh di berbagai tempat. Ini sejalan dengan hasrat untuk mempersatukan masyarakat dalam satu napas kesatuan, bahwa kita harus cinta pada identitas budaya bangsa sendiri, salah satunya ya dengan kupiah Aceh ini,” ujar Teuku Muttaqin kepada aceHTrend, Sabtu (27/6/2020).

Gerakan ini, walaupun usianya baru seumur kecambah, tetapi diyakini akan berhasil. Untuk memasifkan gerakan ini, siapa pun bisa menjual kupiah dengan corak yang sama dengan harga yang pantas ke masyarakat. Kalau ingin membeli produk kopiah dengan harga premium juga tak masalah, yang terpenting katanya, kopiah ini bisa terus terdistribusikan di semua kalangan masyarakat Aceh.

“Harapannya, kopiah ini bisa dimiliki oleh setiap masyarakat Aceh, baik di Aceh mau di luar Aceh. Jika sudah ramai yang memakai, berharap bisa ditetapkan uroe kupiah Aceh,” katanya penuh antusias.

Teuku Muttaqin punya alasan tersendiri mengapa begitu bersemangat mempromosikan kopiah Aceh ini yang notabenenya merupakan bagian dari ciri khas kebudayaan Aceh. Pasalnya, sebagai dosen di Fakultas Hukum yang mengampu mata kuliah mengenai hukum adat, ia memang punya keseriusan khusus dalam hal adat dan kearifan lokal di Aceh.

“Walaupun ini awalnya dari saya inisiatifnya, tetapi ini akan menjadi gerakan bersama karena ini kan khas Aceh, bukan ciptaan individu. Beberapa hari lalu saya duduk dengan teman-teman LSM dan kami diskusikan seperti itu, kami malah terpikir nantinya bisa didaftarkan ke UNESCO sebagai warisan budaya tak benda Indonesia sebagai intangible culture seperti halnya batik Jawa.

Sebagai sebuah niat baik, gerakan ini setidaknya sudah mendistribusikan seribuan kupiah Aceh dengan kualitas yang bervariasi.

“Semoga ini menjadi kupiah pemersatu ureung Aceh, tidak membedakan kelompok dan golongan,” katanya lagi.

Dukungan ini terus mengalir dari berbagai elemen masyarakat seperti birokrat, ASN, akademisi, LSM, hingga mahasiswa, dan masyarakat umum lainnya. Teuku Muttaqin mengajak agar #GerakanSejuta KupiahAceh bisa terus menyebar. Kupiah Aceh menurutnya merupakan salah satu identitas Aceh yang perlu dilestarikan dari generasi ke generasi. Coraknya terdiri atas empat warna, yakni hitam, merah, kuning, dan hijau. Ke empat warna tersebut memiliki makna yang sarat dengan nilai-nilai sejarah perjuangan rakyat Aceh. Melambangkan di antaranya simbol keteguhan dan keberanian.

Dengan semangat ini, Teuku Muttaqin berharap pada saatnya nanti akan hadir semacam Hari Kupiah Aceh Sedunia.

“Seluruh masyarakat Aceh di mana pun berada akan memakai kupiah Aceh, sebagai penciri pemersatu dalam ikatan warisan budaya lokal yang dilindungi UNESCO dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ini cita-cita besar,” katanya.

Ia juga menekankan apabila #GerakanSejutaKupiahAceh merupakan gerakan budaya sebagai pemersatu identitas bangsa. GSKA bukan gerakan politik, ideologi, dan sejenisnya yang muncul karena rasa cinta pada identitas bangsa yang merupakan bagian dari warisan budaya yang tiada ternilai.

“GSKA kami cetus untuk menanamkan kembali rasa cinta tanah air, cinta produk lokal, kearifan budaya, warisan indatu yang diharapkan menjadi pemersatu dari generasi ke kegerasi. GSKA pertama sekali kami cetuskan pada hari Senin, 22 Juni 2020 bakda salat Magrib melalui akun Facebook pribadi @teukumuttaqien. Alhamdulillah, setelah kami cetuskan, GSKA mendapat respons positif dari berbagai kalangan,” ujarnya.[]