[Ruang Semangat]: Gaya Hidupku selama Pandemi

Oleh Nadia Darti*

Hai, namaku Nadia Darti. Orang–orang umumnya memanggilku Nadia, kebanyakan teman lainnya suka memanggil Nanad, sedangkan guru dan dosen lebih memilih memanggil Darti. It’s okay karena itu semua memang namaku. Nah, saat ini aku baru saja menyelesaikan kuliah daringku pada semester enam di Universitas jantong atee Rakyat Aceh yaitu Universitas Syiah Kuala (Ya, aku rasa kalian pasti sudah bisa menebaknya).

“Mahasiswa diperbolehkan kembali ke tempat asal masing-masing dan harus melakukan self-isolated selama 14 hari”. Begitulah bunyi dari poin ke-9, instruksi Surat Edaran Rektor Unsyiah tentang Perpanjangan Masa Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Lingkungan Universitas Syiah Kuala. Artinya, semua aktivitas akademik dan sejenisnya akan diganti dengan sistem daring, mulai dari kegiatan perkuliahan hingga organisasi.

Sekarang aktivitas-aktivitas yang biasanya membutuhkan tenaga dan waktu yang lebih maksimal telah digantikan hanya dengan duduk di sudut kamar hanya bermodalkan PC bahkan handphone saja. Terkait fenomena ini, aku yakin bahwa sama halnya seperti aku, banyak orang di luar sana yang belum terbiasa dengan perubahan yang terjadi di dalam aktivitas kesehariannya, entah itu bagi pelajar ataupun pekerja. Tidak mudah membiasakan diri di tengah wabah ini dengan segala keterbatasan, beberapa hal memang tidak bisa tergantikan dengan sistem online, dan banyak hal yang terpaksa harus dibatalkan.

Saat memasuki bulan Ramadan aku mulai merasa senang karena bisa melaksanakannya di rumah, aku juga bersyukur di daerahku masih bisa melaksanakan salat Tarawih berjamaah. Alhamdulillah juga rumahku dekat dengan musala sehingga semangat dalam beribadah semakin terjaga. Namun, ternyata semuanya tidak benar-benar berlangsung lancar.

Akhir-akhir ini aku sering merasa tidak fit, beribadah pun sering kesulitan dan tidak nyaman. Memang ini sebenarnya bukan pertama kali, sejak awal tahun 2020 ini kesehatanku sering kembali menurun. Aku tahu ini gara-gara aktivitas luar yang semakin berkurang dan gaya hidupku yang mulai berantakan karena terkadang aku merasa stres memikirkan semua rencana yang telah kususun banyak yang tertunda karena wabah ini. Kadang-kadang aku seperti merasa dejavu kembali ke masa-masa sekolahku dulu, waktu SMA aku sering berlangganan menjadi pasien rawat inap di RS daerahku karena asmaku sering kambuh. Penyakit alergi ini tidak akan sembuh, aku hanya bisa hidup berdampingan bersamanya dengan cara menjaga gaya hidup. Sedikit nostalgia semester awal kuliah dulu, aku pernah berusaha menjaga kesehatan karena orang tuaku hanya memberi izin untuk ke perguruan tinggi kalau aku berjanji untuk terus sehat. Dan kalau aku ingat-ingat lagi memang asrama tempat aku tinggal dulu cukup membantu membuat kesehatan membaik, karena kamarku ada di lantai empat, jadi naik turun tangga sudah jadi rutinitas sehari-hari (olahraga yang tidak disengaja wkwkwk).

Sekarang saat scroll layar HP, aku paling sering menjumpai meme-meme yang beredar di media sosial yang mana sekarang kaum rebahan dianggap pahlawan dikarenakan seruan social sistancing. Sebagian besar kaum rebahan tentu menjadikan bermalas-malasan sebagai kebiasaan yang paling tepat untuk dilakukan saat ini. Ya, awalnya aku juga begitu, tetapi aku semakin tidak bisa membiarkan kemalasan ini terus merajalela, sungguh sekarang rasanya malah sangat malas untuk bermalas-malasan. Aku percaya di rumah pun kita juga bisa membuat aktivitas harian yang berguna dan bermanfaat, begitu pikirku. Jadi setiap hari aku mengatakan pada diriku sendiri “Aku memilih berjuang!” Setidaknya itu motivasi kecilku yang berusaha kutanamkan dengan kuat di dalam hati.

Well, ketika mulai perlahan mengubah kebiasaanku yang kurang baik menjadi lebih baik memang sebenarnya lebih sulit dari ekspektasi. Usaha pertama yang kulakukan adalah tidak begadang lagi sehingga aku tidak perlu mengantuk sepanjang hari. Dulu aku sering begadang untuk mengerjakan tugas, dan karena sudah terbiasa ketika di rumah aku mencoba untuk tidur cepat terasa sangat sulit sekali. Seringkali aku tertidur hanya setelah 2-4 jam memejamkan mata. Sekarang sebisa mungkin aku tidur malam 7–8 jam per harinya. Kemudian, minum air putih yang cukup. Aku biasanya memang sangat suka minum, namun salahnya aku hanya suka dengan air yang berasa entah itu soda, kopi, dan minuman-minuman berasa lainnya. Sekarang aku beralih untuk lebih banyak mengonsumsi air putih, karena air putih memiliki banyak manfaat terutama untuk kesehatan dan kecantikan.

Aku juga berolahraga 3–5 hari perminggunya dengan durasi waktu olahraga minimal 30 menit per hari. Untuk makanan aku hanya mengonsumsi sampai sore hari dengan porsi masih seperti biasanya. Boleh kuakui dalam proses perubahan gaya hidup ini aku sama sekali nggak pernah memaksakan diri, semuanya aku lakukan secara bertahap dan tentunya dengan cara-cara yang masih aku sukai. Contohnya, mengenai workout aku selalu memilah-milah jenis latihan yang kujalani dan juga durasinya, karena aku waspada dengan bobotku yang seberat ini dan juga pengalaman exercise yang tidak seberapa yang membuatku bisa mengalami cidera apabila tidak berhati-hati. Aku tidak mau gegabah, karena goals utamaku adalah kesehatan dan meningkatkan stamina.

Akhir Mei menjelang satu bulan aku berusaha mengubah aktivitas harianku, aku merasakan ada yang berbeda pada diriku, staminaku bertambah, rasa kantuk di pagi hari berkurang dan yang paling menyenangkan adalah baju-baju lamaku mulai banyak yang muat kembali! Ketika pergi ke apotek bersama kakak untuk membeli persediaan obat yang telah habis, iseng-iseng aku menaiki timbangan. Angka yang biasanya aku lihat tetap atau malah semakin ke kanan kini berbalik arah kali ini jarumnya mundur, benar-benar pemandangan yang jarang aku lihat.

Perasaanku haru, pasalnya perjuanganku selama ini berbuah hasil dan juga bonus. Aku memang mengalami yang namanya overweight, tetapi karena kesehatan adalah tujuan utamaku, aku tidak pernah berekspektasi yang tinggi tentang penurunan berat badan ini. Tidak drastis memang, tapi tetap saja menyenangkan karena aku melakukannya untuk kebaikanku sendiri (maksudnya, bukan karena nyinyiran netizen hehe) dan kini aku semakin sadar sebesar apa pun kesulitan yang kita alami, insyaallah ada kemudahan. Yang harus kita perbuat adalah mencari solusi dari kesulitan itu. Selalu berada di garda terdepan untuk melakukan perubahan, dan tentunya yang menuju ke arah lebih baik.

Sembari melanjutkan proses perjuangan ini, aku tidak henti-hentinya memotivasi diri dengan tiga kunci utama andalanku yaitu komitmen, konsisten, dan sabar. Aku mau momen ini tidak hanya sekadar ada di ingatanku saja, agaknya menuliskannya membuat perjuangan ini menjadi lebih bermakna apalagi kalau bisa kubagi dan juga mampu memotivasi siapa pun kalian yang membacanya. Dengarkan hatimu, buat pilihan, dan jemputlah kebahagiaan!

Salam Semangat – Nadia.

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Syiah Kuala

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent