Irwandi, The Lone Wolf

Nurlis E Meuko.

Oleh Nurlis E. Meuko

Mengurai politik Aceh kontemporer, rasanya kurang lengkap jika tak membahas Irwandi Yusuf. Sosok pemimpin yang berasal dari kalangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang pertama kali menjadi Gubernur Aceh pada periode 2007-2012. Dialah sosok petarung politik yang menjadi lawan berat bagi sahabatnya, Muzakir Manaf (Mualem), dan saling mengalahkan.

Menulis tentang Irwandi dan Mualem, saya bisa melihat dari dua sudut pandang berbeda. Tentang Mualem, saya memiliki pandangan jarak sangat dekat, sehingga akan menjadi bias. Saya akan subjektif dan tersajikan sudut pandang positif sebagaimana pengalaman bertahun-tahun bersamanya. Sebab, memang berawal dari Mualem saya memulai menapak politik Aceh dan saya tak ingin belajar menjadi kutu loncat yang pandai berpaling muka.

Sebaliknya, saya sangat bisa berada pada posisi objektif saat menulis Irwandi. Sepanjang saya berpolitik di Aceh, saya selalu berada pada posisi berseberangan dengan Irwandi. Sebab itu, saya memiliki sudut pandang yang bebas nilai. Saya merasa sangat menarik bersebarangan dengan Irwandi, tentu saja jika memiliki kemampuan mengaduk jiwanya dan melihat bagaimana dia meresponnya.

Pada Pilkada 2012, Irwandi kalah dari Mualem (Partai Aceh). Saya sengaja tak menempatkan Zaini Abdullah sebagai barometer, sebab penilaian subjektif saya bahwa kemenangan pilkada itu total faktor sosok Mualem. Kemudian pada Pilkada 2017, Irwandi bangkit dan mengalahkan Mualem yang telah compang-camping akibat menjadi korban kelemahan Pemerintah Aceh di masa itu.

Menariknya, setelah urusan pilkada mereka berdua tetap bersahabat. Usai Pilkada 2012, Mualem kembali bercanda dengan Irwandi walau sebelumnya tepatnya pada hari pelantikan Zaini-Muzakir sempat terjadi skandal pengeroyokan terhadap Irwandi di Gedung DPRA oleh Satgas Partai Aceh. Lalu, usai Pilkada 2017, Irwandi sering menerbangkan Mualem dengan pesawatnya. Dua mantan elit GAM ini memang sahabat lama yang memiliki karakter kepemimpinan yang berbeda. Satunya egaliter, satunya kalem.

Sayangnya, publik tak bisa melihat lagi kiprah Irwandi dalam memimpin Aceh di periode kali ini. Sepeninggalan Irwandi Yusuf, Aceh seperti kehilangan kepemimpinan. Hanya tersisa isu remeh-temeh, seremonial, program tidak konkrit, dan kementelan-kementelan di media sosial. Selebihnya, kehidupan rakyat Aceh berjalan auto pilot.

***

Mendeteksi kepemimpinan Irwandi, saya menelusurinya pada empat titik saja. Saya memulainya ketika ia menyelamatkan diri dari bencana tsunami menimpa Aceh pada 2004, menjadi titik pertama.

Ketika itu, ia memanjat dinding, menembus loteng dan atap metal di sebuah gedung dalam penjara Kedah, Banda Aceh. Ia masuk penjara lantaran keterlibatannya dalam GAM. Di sini, jelas Irwandi seorang yang tenang dan memiliki ilmu dalam menghadapi marabahaya. Sehingga, walaupun bangunan penjara hancur dan hanyut diterjang tsunami, ia selamat di atas atap bangunan penjara.

Titik kedua, setelah selamat dari tsunami, sebetulnya Irwandi mencoba keluar dari Indonesia dengan menggunakan paspor palsu. Ia mengurus paspor di Jakarta namun gagal kemudian ia coba memperolehnya di Batam, dan gagal lagi. Lalu, akhirnya berlayar ke Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Gagal lagi. Masalahnya, berkas identitas palsunya tertukar dengan map milik orang lain.

Sebab itu, Irwandi dimintai keterangan oleh petugas Imigrasi Tanjung Pinang. Akhirnya, Irwandi gagal mendapat paspor aspal. Terpaksalah ia menggunakan paspor aslinya menyeberang ke Johor, Malaysia, walaupun ia khawatir namanya masuk dalam daftar cekal. Ternyata Irwandi sukses keluar lewat pulau Karimun menggunakan identitas aslinya. Di Karimun Irwandi ditunggu satu regu TNA yang berdomisili di Johor dan mereka menyeberang ke Johor.

Pada saat proses perundingan damai GAM dengan Republik Indonesia di Helsinki, Irwandi berangkat ke sana dan menjadi drama titik ketiga. Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin (di masa itu) menolak kehadiran Irwandi di meja perundingan. Ia mengatakan, sebagai pejabat negara tak bisa berunding dengan buronan (Irwandi) yang keluar dari Indonesia dengan paspor palsu.

Tentu saja, Irwandi dimintai keterangannya oleh pihak Uni Eropa. Ia menjelaskan bahwa ia tak pernah kabur dari penjara, melainkan penjaranya yang kabur hanyut dilarikan tsunami. Mengenai paspor palsu, Irwandi menunjukkan paspornya yang memang asli. Setelah mengetahui itu, pihak UE menawarkan suaka politik di UE. Irwandi dipersilahkan menunjuk negara manapun dalam UE. Tetapi Irwandi menjawab bahwa ia akan memilih negara untuk suaka politik hanya jika perundingan gagal.

Sejak itu, Irwandi terlibat dalam proses perundingan. Pimpinan GAM mengambil kebijakan dengan tidak menampilkan Irwandi di meja perundingan untuk menjaga perasaan Hamid Awaluddin. Irwandi diberi tugas sebagai pengumpul informasi intelijen, yang memang tugasnya dari dulu, dari lapangan dan menabulasikannya untuk diserahkan kepada CMI sebagai mediator dan CMI mengatakan data yang diterima dari GAM sangat akurat.

Setelah perundingan ditandatangani tanggal 15 Agustus 2005, Irwandi ditunjuk untuk mewakili militer GAM dalam Aceh Monitoring Mission (AMM) dan ia pun berangkat pulang ke Aceh satu minggu setelah itu.

Setelah perjanjian damai ditandatangani, berlangsunglah proses pilkada di Aceh. Uniknya, Irwandi selalu menolak permintaan kalangan GAM agar ia ikut dalam pemilihan Gubernur Aceh. Ia justru mau ketika seorang wartawan yang memintanya mencalonkan diri saja, di sinilah titik ke empat. Dialah Zainal M Nur (wartawan yang kini telah menjadi Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia) yang berhasil membujuk Irwandi. Singkat kata, Irwandi pun terpilih menjadi Gubernur Aceh periode 2007-2012.

Empat titik itulah yang menjadi faktor penentu bagi Irwandi menjadi pemimpin di Aceh. Dari uraian tersebut, jelas terlihat bahwa Irwandi sebetulnya tergiring dengan sendirinya hingga menjadi Gubernur Aceh. Ia tak memiliki langkah politik, dan merancang sebuah nafsu untuk menjadi penguasa. Sehingga ketika memegang kekuasaan, ia menjadi sosok pemimpin yang natural tanpa beban, dan bersikap untuk kepentingan publik.

Kekuasaan yang terbangun seperti yang terjadi pada diri Irwandi ini tentu saja memiliki parameternya. Jika melihat ke buku berjudul “Kekuasaan Sebuah Analisis Sosial dan Politik” karya Betrand Russell, maka pola kekuasaan yang diperoleh Irwandi lebih dekat ke spesies kekuasaan individu yang masuk dalam sub-spesies gentlemen dan jenis individu baru yang disebut “sang eksekutif”.

Intinya, sosok penguasa dalam kategori tersebut memiliki ilmu dan kekuatan magis, dapat mengambil keputusan dengan cepat, juga tepat menyelami watak orang, dan mempunyai kemauan keras. Selain itu, ia bersifat tegas, pandai menyimpan rahasia, punya kebiasaan berbicara singkat-padat dan tegas. Ia harus dapat menimbulkan sikap hormat terhadap dirinya di kalangan koleganya.

***

Dari nilai-nilai intrinsik pada diri Irwandi itu tercermin dalam sejumlah program kepemimpinannya yang dirancangnya untuk membangun Aceh. Saya dapat mengatakan demikian, sebab bisa menangkapnya dalam beberapa kali diskusi yang intens dengan Irwandi. Termasuk setelah ia terpilih menjadi Gubernur Aceh periode 2017-2022.

Pada sebuah pertemuan, saya mengatakan padanya bahwa ia sangat mampu membangun Aceh. “Apa alasanmu mengatakan begitu, saya tidak suka dipuji, sejak kapan kamu belajar menjadi penjilat?” katanya. Kami tertawa. Namun, saya tetap melanjutkan analisis saya tentang dirinya itu.

Kemudian, saya memaparkan apa yang sudah dilakukannya selama ini. “Pertama, moratorium logging, yaitu penghentian penebangan hutan untuk seluruh Aceh sejak 6 Juni 2007,” kata saya. Kebijakan ini mengikat para pemegang konsesi penebangan, usaha dan kegiatan lainnya yang memiliki implikasi terhadap penebangan hutan. “Benar, itu rencana jangka panjang meletakkan pondasi pengelolaan hutan yang lestari dan adil bagi rakyat Aceh,” Irwandi memotong kalimat saya.

Saya melanjutkan yang kedua, membangun sumber daya manusia. Di antaranya memberi beasiswa untuk 130 ribu anak yatim di Aceh, dan juga beasiswa lainnya pada 2008. “Saya ingat itu, waktu meluncurkannya saya terkena stroke, khusus pulang dari Singapura untuk meluncurkan program ini, dan kembali lagi ke Singapura esok harinya,” Irwandi memotong pemaparan saya. “Bang Wandi, jangan potong-potong dulu kalimat saya, nanti malah kita bercerita tentang penyakit,” saya menyanggahnya dan ia diam.

Lalu yang ketiga tentang Dana Desa pada 2009. Irwandi mengambil kebijakan tentang Dana Desa senilai Rp100 juta per desa untuk seluruh Aceh. Kebijakan ini kemudian menjadi nasional, hingga Presiden Susilo Bambang Yudhono menggodoknya menjadi Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Hingga kini, Presiden Jokowi masih melanjutkan program dana desa secara nasional.

Terakhir mengenai program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) yang menjadi jaminan Universal Health Coverage pertama di Indonesia. Irwandi memperoleh penghargaan “Ksatria Bhakti Husada”. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri acara Pencanangan Program JKA ada, pada 29 Nopember 2010. Sejak itu, penduduk Aceh dari segala strata sosial dibebaskan dari biaya mengakses fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh Aceh dan luar Aceh.

Secara konsep dan penerapannya, Irwandi merancang bangun pondasi yang kuat untuk Aceh. Dimulai dengan pelestarian alam, sumber daya manusia, membangun pedesaan, dan kesehatan rakyat Aceh. Dan bahkan menerapkannya. Secara normal, seharusnya jika berjalan dengan baik dan berkesinambungan, dengan konsep itu saja rakyat Aceh sudah bisa bernafas lega dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Secara sederhana, biaya sekolah dan kesehatan sudah terjamin, hanya tinggal mencari nafkah untuk kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya Irwandi mencoba menjelaskan program barunya tentang Aceh Hebat. Saya memotongnya dengan mengatakan, bahwa semua program itu cuma menggoreng program-program lama. Jargon politik, selebihnya tetap saja empat intinya adalah program yang lama. Selebihnya masih merupakan program fiksi Aceh. Ia tertawa dan mengatakan “Tidak begitu. Periode ini adalah awal periode tinggal landas bagi Aceh.” Setelah itu, Irwandi tak melanjutkan ceritanya.

***

Suatu hari, Irwandi menelepon dan mengajak minum kopi di Jakarta. Gubernur yang mengajak, tentulah saya bersedia. Setelah memilih lokasi yang cocok, di sana kami bertukar cerita. Hingga, saya mengulas persoalan ekstrinsik yang ada pada diri Irwandi sebagai seorang Gubernur Aceh, yaitu faktor-faktor orang-orang sekitarnya yang bisa menyebabkan program-programnya tak bisa sepenuhnya berjalan lurus.

Faktor-faktor pengaruh luar diri Irwandi tak melulu para pendukungnya, namun juga termasuk efek dari kebijakannya. “Saya memiliki satu pertanyaan saja. Abang pernah dianggap menghalangi sebuah upaya bisnis tambang raksasa di Aceh. Boleh dikata walaupun tak setara akan seperti pertambangan di Papua. Ini menyangkut bisnis dan politik yang tak biasa. Ada investor luar negeri juga. Akibatnya, saham perusahaan itu rontok dari 8 dolar AS sampai ke 8 sen. Abang menyadari risikonya dan siapa di balik bisnis itu?”

Irwandi diam, ia tak menjelaskannya. “Mari kita berpikir tentang kemajuan dan kesejahteraan Aceh secara adil,” katanya mengalihkan pembicaraan.

Selanjutnya, Irwandi mengatakan ingin bercerita prihal ekstrinsik yang ada pada diri saya. Dimulai dengan seorang model cantik berkulit putih bertubuh tinggi semampai tinggal di Banda Aceh. “Ia berasal dari keluarga broken home, dan waktu itu masih sekolah di SMA,” katanya. “Saya kenal ayahnya dan beberapa kali berjumpa saya, ia bercerita tentang anak gadisnya itu.”

Saya memotongnya, “Bang Wandi sedang bercerita tentang apa ini, dan arahnya ke mana?” Ia menjawab, “dengar dulu, setelah saya bertanya baru di jawab.” Saya kembali memotong ceritanya. “Baiklah Bang Wandi, cerita itu sejak kapan Abang mengetahuinya?”

Dia menjawab, cerita itu sudah diketahuinya sejak saat proses politik sedang panas-panasnya pada Pilkada Aceh 2012. “Bisa dibayangkan, jika saya menggunakan cerita itu untuk kepentingan politik ya kan, dan sangat menguntungkan”.

Saya bertanya, mengapa ia tidak melakukannya? “Saya tahu batas normal dan etika politik yang hendak saya jalankan. Saya tidak mau persoalan personal menjadi mainan politik. Lagipula di situ ada masa depan anak-anak orang, saya tidak mau menghancurkannya hanya untuk kepentingan politik saya untuk kekuasaan,” kata Irwandi.

Lalu saya bertanya lagi, “Apakah Bang Wandi tahu, bahwa untuk mengalahkan Abang secara politik maka harus bekerja keras untuk itu?” Ia menjawab, “saya tahu, tetapi yang perlu kita pahami bahwa ukuran baju kita berbeda-beda, begitu juga jalan pikiran kita tak selalu sama, dan tak harus seragam. Dan saya adalah sahabatmu.”

Duh, saya jadi merindukan Irwandi. Suatu hari nanti, saya akan berkunjung ke Sukamiskin, Jawa Barat. Semoga ia membaca tulisan ini. Irwandi memimpin Aceh tak sampai selesai periode. Ia seorang tokoh Aceh yang sangat banyak rintangannya. Ia bukan serigala yang hidup bergerombol, Irwandi laksana srigala penyendiri, The lone wolf.

Penulis adalah kolumnis aceHTrend.