Jalan Terjal Sang Pengusaha; Membaca Biografi Mukhlis Takabeya

Oleh Muhajir Al-Fairusy

Dalam konteks sekarang, setidaknya ada tiga jenis pekerjaan yang kerap dipandang terhormat dan mendapat kedudukan istimewa sebagai elit bagi masyarakat Aceh, yaitu menjadi politisi, pengusaha (kontraktor) dan terakhir adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Seorang teman yang menyelesaikan pendidikan tinggi di luar negeri berceloteh, jika tiga jenis ini tak bisa disandang di tengah percaturan relasi sosial, lebih baik angkat kaki dari Aceh. Artinya, kedudukan menjadi elit di Aceh dapat dilihat dari tiga nilai dan jenis kesibukan di atas yang dilekat pada seseorang. Meskipun, celoteh seorang teman tersebut tak selamanya linear dengan kehidupan realitas manusia di sana.

Dalam satu kesempatan, saya bertemu Muhajir Juli (MJ) di sebuah warung kopi di Banda Aceh. Jurnalis yang tak hanya piawai menyusun kata dalam tulisan, ternyata berbakat “melawak” pula dengan segudang satir. Kondisi politik dan kebudayaan yang sedang melanda Aceh, ia bungkus dalam satu tarikan nafas dan dibentur dengan beberapa peristiwa lain, seperti dunia perfilman India (selatan) misalnya, ia begitu runut bercerita dengan melakukan komparasi pada arena tertentu, karena menurut MJ ada banyak kemiripan antara Aceh dan India (selatan), terutama soal watak dan karakter kumpulan manusianya. Spontan, saat ia bercerita banyak hal tentang Aceh, tak terlalu formal melainkan penuh sindiran kocak. MJ menjiwai betul dunia jurnalis, ragam info (data) ia susun rapi, lalu dengan santai ia mengeluarkan satu persatu data tersebut dengan analisa sebagai seorang jurnalis.

MJ baru saja menerbitkan buku baru yang diproduksi oleh Kawat Publishing, sebuah buku bergenre biografi, berjudul Biografi Mukhlis Takabeya ; Petarung dari Selatan. Buku setebal 252 halaman ini, ia tulis dengan gaya bercerita seperti alur sebuah novel, di mana karakter Mukhlis Takabeya dan perjalanan hidupnya dibungkus dalam alur cerita yang mengalir. Meskipun, adakalanya, cerita tersebut tiba-tiba terputus, dan kita dibuat penasaran keberlanjutannya. MT digambarkan, benar-benar sedang berjalan di atar rel tiga jenis pekerjaan pembuka di awal paragraf tulisan ini, ia mengawali hidupnya sebagai seorang pelajar di sebuah perguruan tinggi, selanjutnya menjadi pengusaha dan merambah dalam dunia politik kemudian hari.

Buku Mukhlis Takabeya, adalah potret perjalanan seorang pengusaha asal Bireuen. Bireuen merupakan sebuah kota persimpangan yang amat strategis, letaknya menghubungkan Banda Aceh-Medan sekaligus jalur tengah Aceh. Layaknya pengusaha lain, MT memulai mimpinya mencapai puncak tertinggi dengan mimpi dan kesungguhan. Belakangan saya tahu, jika sosok pengusaha yang diangkat ke permukaan oleh MJ adalah adik kandung mantan bupati Bireuen yang baru saja wafat, Saifannur. Ia memiliki jaringan kuat antar-elit, termasuk para mantan kombatan yang begitu akrab dengannya.

Buku yang terdiri dari lima bagian ini, mengisahkan secara sempurna potret seorang pengusaha dari Aceh. Dimulai dari kisah orang tua MT yang bernama Cut Hasan, ia memiliki garis keturunan langsung dengan Hadramaut dari marga Al-Habsyi. Kakeknya adalah penasehat Ampon Chiek Peusangan. Sayangnya, di Aceh pengkultusan terhadap keturunan Hadrami tidak seketat di Pulau Jawa, yang terus diwarisi turun temurun. Faktor ini pula yang menjadi jawaban atas teka-teki, mengapa Habib di Aceh seperti tak berbekas dalam konteks kultur masyarakat Aceh. Kondisi ini dapat dipahami, karena masyarakat Aceh adalah masyarakat yang egaliter pada sisi tertentu.

Perjalanan MT memulasi usaha terlebih dahulu diawali oleh semangatnya bersekolah hingga ke jenjang perguruan tinggi di Lhokseumawe. Pasang surut semangat dan tantangannya bersekolah dikisahkan MJ dengan alur cerita yang apik. Mulai dari MIS Alue Krueb, melanjutkan sekolah ke SMPN 2 Matang Geulumpang Dua, Peusangan. Dilanjutkan upaya mengumpulkan pundi rupiah hingga ke Aceh Tengah, dilanjutkan ke SMP 1 Peusangan, SMAN 2 Kandang, hingga kemudian melanjutkan ke Politeknik di Lhokseumawe.

Di bangku kuliah, MJ menceritakan bakat usaha MT yang mulai berpacu, mulai dari menjadi agen diktat, Joki ujian di perguruan tinggi tersebut, hingga potret MT yang terus berjibaku dengan seabrek usaha dari era konflik dan pascatsunami di Aceh, hingga mimpi membangun CV Takabeya yang kemudian pada tahun 2004 berubah nama menjadi PT Takabeya, sebuah perusahaan yang konsen dengan konstruksi, dan kini memperkerjakan ratusan orang. Ada pesan menarik dari cara MT merintis usaha tulis MJ, di mana ia menghindari kredit bank. Ia lebih memilih berutang pada keluarga istrinya, yang selanjutnya dicicil dibayar tanpa bunga. Ada banyak kisah unik dan menjadi pelecut bagi generasi Aceh yang ingin merambah dunia usaha ditulis MJ dalam buku ini, tentu tak saya urai tuntas di sini, karena membaca buku ini langsung menjadi keniscayaan bagi publik.

Terakhir, dari bukunya, MJ tampaknya sedang menyampaikan pesan penting bagi para pengusaha di Aceh, bahwa jejak hidup mereka memang harus direkam dan didokumentasikan, tak hanya sebagai sebuah perjalanan sejarah seorang anak manusia mengejar mimpi, pun bagaimana pengusaha Aceh dapat mengembangkan ekonomi mereka di tengah kondisi daerah yang tak stabil, mulai dari konflik yang melanda hingga tantangan pascakonflik. Saya ingat, bagaimana jejak perjalanan hidup Muhammad Saleh salah seorang saudagar besar dari Pariaman, ia tulis sendiri dalam catatan auto biografinya. Kemudian, lewat sentuhan piawai tangan sejarawan Universitas Andalas, Mestika Zeid, kisah Muhammad Saleh dibukukan dengan gaya bercerita yang mengalir seperti sebuah karya sastra.

Aceh punya segudang saudagar dan diplomat yang telah berhasil menguasai dunia perekonomian, baik di tingkat lokal, nasional hingga luar negeri. Tentu, amat penting merekam dan mendokumentasikan perjalanan hidup mereka, yang akan menjadi pelecut semangat bagi generasi muda. Paling penting, untuk menunjukkan sisi lain wajah Aceh, bahwa Aceh tak pernah kekurangan pengusaha, hanya perhatian yang serius berkurang, sampai-sampai ada pengusaha dan investor dari Aceh yang harus hengkang kaki di kawasan KIA Ladong akibat kurangnya penghormatan pada peran mereka.

Penulis adalah Pensyarah di STAIN Meulaboh. Seorang antropolog.