[Ruang Semangat]: Pandemi dan Fitrah Pendidikan Keluarga

Muazzah Muhammad

Oleh Muazzah Muhammad*

Pandemi Covid-19 ini masih terus membuat resah masyarakat dunia. Pasalnya, jumlah penularannya terbilang amat besar. Tak hanya menyebabkan hilangnya nyawa, pandemi ini juga turut melumpuhkan berbagai sektor kehidupan, mulai ekonomi, pariwisata, hingga sektor pendidikan terdampak oleh virus yang berkerabatan dengan SARS dan MERS ini.

Kendaraan umum, pabrik, dan berbagai perusahaan produksi berhenti beroperasi, sehingga banyak karyawan di rumahkan. Sekolah-sekolah pun terpaksa ditutup, pembelajaran dilakukan secara jarak jauh atau daring. Semua orang diminta melakukan pengurangan interaksi sosial dan sebisa mungkin berdiam di rumah.

Pemberlakukan jam malam hingga penutupan ruas-ruas jalan tertentu, penutupan tempat hiburan umum, pusat perbelanjaan, juga sekolah dilakukan bukan tanpa alasan. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona yang pertama kali ditemukan di China ini. Semua kalangan masyarakat wajib mematuhi kebijakan yang telah dianjurkan oleh WHO demi menjaga kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Karena jika tidak, maka kita akan terus mendengarkan berita kematian akibat Covid-19.

Tak ada yang senang dengan situasi seperti saat ini. Bahkan anak-anak merasakan efek yang sama seperti orang dewasa. Sebagaimana yang dirasakan oleh anak-anak saya, mereka lebih senang belajar langsung di sekolah bersama guru dan teman-temannya. Mereka merasa sangat bosan berdiam di rumah saja dan dibatasi interaksi sosialnya dengan teman-teman di sekitar lingkungan tempat tinggal.

Melihat sisi positif

Pandemi ini tak melulu memberikan efek negatif. Ada efek positif yang dapat kita ambil dari peristiwa ini. Bagi saya dan suami, yang bekerja di bidang publik, yang sebagian waktunya habis di tempat kerja, menjadi punya waktu berlimpah bersama anak-anak. Dengan adanya pandemi, ada banyak keluarga yang memiliki waktu bersama yang lebih banyak. Dan momen ini harusnya bisa meningkatkan ikatan orangtua dan anak.

Bagi para ayah yang biasanya menyerahkan seluruh urusan anak ada ibunya, inilah waktunya untuk membantu istri mengurus keluarga. Ayah bisa bermain bersama anaknya di rumah, membantunya belajar dan berkegiatan hal-hal postif lainnya bersama.

Menyiasati kejenuhan akibat pembatasan sosial juga dapat dilakukan oleh para orang tua. Mengembangkan bakat-bakat yang terlihat pada anak dapat dijadikan pilihan. Orang tua dapat memfasilitasi belajar anaknya dengan berbagai cara yang dianggap mudah. Anak yang punya bakat menggambar, bisa diajak untuk mengasah bakatnya dengan banyak berlatih melalui tutorial di Youtube ataupun cara lainnya.

Melakukan hobi yang disenangi juga terbukti efektif dapat mereduksi kejenuhan selama pandemi. Ini saya rasakan sendiri. Selama pandemi ini, saya sering mengajak tiga anak perempuan saya untuk mencoba berbagai resep masakan. Kami selalu mendiskusikan menu apa yang akan kami coba hingga memasaknya secara bersama-sama. Anak-anak sangat menikmati waktu bersama tersebut dengan suka cita. Saya juga mengajarkan mereka menjahit, mulai dari mengenalkan jenis tusuk dasar hingga menggunakan mesin jahit. Semua senang melakukan aktifitas yang disukai, sehingga meskipun seharian hanya di rumah saja, nyaris tak terlontar kata bosan dari mulut-mulut mungil mereka.

Menjadi pribadi pembelajar

Kegiatan lainnya yang sangat saya senangi selama pandemi ini ialah, keluangan waktu untuk membaca. Ada beberapa buku yang saya beli sebelumnya saat mengunjungi Gramedia di Banda Aceh, namun belum sempat dibaca karena rutinitas yang padat. Ketika pemberlakuan bekerja dari rumah, saya punya waktu untuk membaca buku-buku tersebut. Saya juga punya waktu membacakan buku untuk anak saya. Momen ini juga sangat disukai oleh mereka. Kami punya koleksi buku anak yang cukup banyak, sehingga setiap hari buku yang dibacakan bisa berbeda.

Pandemi ini menjadikan kita pribadi pembelajar jika kita mau. Mau melihat sisi positif dari adanya pembatasan sosial. Belajar untuk menerima dan berdamai dengan keadaan dan mengikuti arah perubahan dunia. Bukankah menyalakan sebatang lilin lebih bijaksana daripada mengutuk kegelapan. Maka mengisi waktu di rumah saja dengan berbagai kegiatan positif bagi orangtua dan anak adalah cara paling efektif menumbuhkan kembali fitrah pendidikan keluarga.

Perlu kita pahami bahwa keluarga tak sekedar kumpulan manusia dengan status orangtua dan anak. Namun, lebih dalam lagi, keluarga adalah miniatur sebuah negara. Ada pemimpin yang harus menjalankan wewenangnya dengan baik, ada anggota keluarga yang harus dipenuhi haknya dan menjalankan kewajibannya juga. Saat pandemi ini, sebenarnya ada kesempatan besar untuk memperbaiki fitrah keluarga yang mungkin selama ini terabaikan oleh banyak keluarga.

Jika pada keadaan biasa, sejak pagi buta banyak orangtua yang harus berangkat kerja, anak-anak menghabiskan waktunya di sekolah, dan hanya berkumpul sesaat menjelang istirahat malam. Rutinitas yang menjadikan jarak antara anggota keluarga kian besar seiring bertumbuhnya anak-anak.

Moment pandemi ini, akan lebih bermakna jika kita mengembalikan fitrah keluarga yang sesungguhnya. Menjadi pendidik utama bagi anak-anak di rumah, meluangkan waktu untuk bersenang-senang dengan mereka, mengerjakan hobi bersama mereka, hingga berdiskusi ringan sambil menikmati masakanan kesukaan mereka adalah aktifitas mahal yang jarang bisa kita lakukan di masa normal sebelumnya, namun mudah saat pandemi ini.

Semoga dengan adanya pandemi ini, semakin banyak keluarga yang kian harmonis. Kian banyak orangtua yang lebih mengenal anak-anaknya secara utuh. Kian banyak anak-anak yang merasa lebih dekat dengan orangtuanya. Dan pada akhirnya, pandemi ini juga membawa berkah pada penguatan karakter anak melalui pendidikan keluarga.

Saat kenormalan baru nantinya, semoga kasus kejahatan yang dilakukan ataupun menimpa anak kian menurun jumlahnya, atau bahkan tak akan pernah kita dengar lagi. Sekarang, tinggal bagaimana kita, selaku orangtua mau menyikapi pandemi ini. Mari jadikan pandemi ini sebagai momen mengikat kebersamaan dan menguatkan peran orangtua untuk menjadi keluarga tangguh. Selamat Hari Keluarga Nasional![]

Penulis adalah guru SMA Sukma Bangsa Sigli, Pidie

Editor : Ihan Nurdin

Program ini terselenggara berkat kerja sama antara aceHTrend dengan KPI UIN Ar-Raniry, Gramedia, dan PT Trans Continent