Pasee Bukan Janda Tua Miskin

Teuku Murdani. dosen UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Oleh Teuku Murdani

Sebuah narasi yang sangat indah dibangun oleh Usamah El-Madny dengan judul “Menyeimbangkan Selera dan Gagasan di Pasee.” Tulisan tersebut dipublikasikan di salah satu situs online (29/6/2020). Tidak mungkin saya berdusta, hampir semua narasi yang dibangun saya sukai dan sangat sependapat kecuali satu hal. Ketika penulis mengibaratkan Pasee itu bak seorang janda “Ya, seperti seorang janda. Sudah janda, miskin, wajahnya tidak cantik, dan kondisinya sakit-sakitan.” Terus terang saya sedikit terganggu dengan kesimpulan ini.

Mengapa Pasee harus diumpamakan seperti janda miskin? Kapan Pasee itu pernah gadis? Pertanyaan tersebut langsung timbul di benak saya. Mungkinkah kita menganggap masa petro dollar sebagai masa keemasan dan keperawanan Aceh Utara? Mudah-mudahan Usamah bersedia menjawabnya di kemudian hari.

Dengan peluang berbeda pendapat yang dibuka dalam tulisan tersebut, sebagai salah seorang putra Pasee saya melihat Aceh Utara belum melakukan apa-apa untuk mewujudkan kesejahteraan sosial masyarakatnya yang merupakan cita-cita dari pembangunan sebuah bangsa.

Pemerintahnya belum memiliki rencana kerja yang jelas terhadap upaya memberdayakan masyarakat, sehingga mereka memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menjadi masyarakat yang mandiri dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Jadi bagi saya Pasee masih gadis perawan yang secara sumber daya alam masih sangat sehat. Sepakat kalau untuk itu dibutuhkan seorang pemuda yang sehat pula untuk mengawini perawan Pasee agar menghasilkan keturunan yang unggul di kemudian hari.

Pengeboran minyak dan gas yang telah dilakukan di beberapa titik di Pasee yang sekarang meninggalkan berbagai masaalah sosial terhadap masyarakatnya, tidaklah menjadikan Pasee itu janda. Karena ada pasangan yang kawin lari menetap di Pasee yang kemudian sang suami dengan alasan tersendiri meninggalkan pasangannya menjadi janda di Aceh Utara.

Saya sangat setuju kalau apa yang dibutuhkan Pasee hari ini dan ke depan adalah memahami dirinya dengan berbagai potensi yang ada agar mahar perkawinan menjadi mahal.

Pertama adalah posisi Pasee yang strategis dengan fasilitas si janda yang sudah bangkrut. Pasee adalah daerah pesisir yang berbatasan langsung dengan Bener Meriah. Berbeda dengan Bener Meria,h sumber daya alam Aceh Utara dalam bidang pertanian belum pernah digali secara maksimal. Padahal kondisi kesuburan tanahnya sama.

Kelebihan Pasee, selain memiliki kawasan yang sangat strategis untuk industri pertanian juga memiliki wilayah pesisir. Sebagai wilayah pesisir Pasee semestinya menjadi kawasan industri dan pusat perdagangan yang sangat strategis sebagaimana masa keemasan Kesultanan Shalihiyyah–Samudera Pasai.

Di samping itu, Pasee juga memiliki fasilitas plus, pelabuhan yang bertaraf internasional dan lapangan terbang yang merupakan warisan si janda kawin lari. Aceh Utara ke depan hanya butuh elit yang visioner untuk melihat berbagai peluang dari warisan ini.

Calon lintobaro Aceh Utara kedepan tidak mesti kaya raya, tetapi harus memiliki cara pandang yang berbeda terhadap keperawanan Pasee ini serta gaul dalam artian memiliki banyak teman dari berbagai kalangan di berbagai level.

Selama kehadiran pasangan kawin lari, rakyat Pasee hanya menjadi penonton dan berharap uang yang mereka bawa bisa kecipratan sedikit kepada masyarakat Pasee yang hanya mampu melihat semua peukateun mereka.

Tidak ada upaya pasangan kawin lari tersebut untuk memberikan ilmu atau metode bagaimana menghasilkan uang di tanah yang subur. Tetapi itupun dapat dipahami karena pasangan kawin lari tersebut tidak mengutak ngatik keperawanan alam Pasee yang sangat subur.

Inilah tantangan linto baroe yang sebenarnya dalam meminang si dara Pasee yakni bagaimana meningkatkan kapasitas keluarga si darabaro agar tidak hanya menguras kantong sang linto. Dia harus memiliki visi meunyo carong tapeulaku, boeh labu jeut keu asoe kaya.

Kekayaan alam Pasee yang melimpah membutuhkan kemampuan yang setimpal untuk mengonversinya menjadi kemakmuran dan kesejahteraan. Di sini sangat dibutuhkan pemimpin yang memahami konsep capacity building dan community empowerment. Seorang pemimpin yang tidak takut status dan kepentingannya terganggu kalau terjadi perubahan.

Pengembangan kapasitas masyarakat (rakyat) merupakan kunci utama, agar Pasee menjadi kawasan yang unggul. Pengembangan adalah upaya meningkatkan kemampuan masyarakat, sebuah proses penguatan kemampuan rakyat agar menyadari nilai-nilai di sekitar mereka dan mampu mengatur prioritas dan bertindak bersama secara sistematis.

Kapasitas merupakan ide-ide, baik kemampuan untuk berfikir maupun bertindak. Jika kata kapasitas dikaitkan dengan suatu komunitas, maka akan menggambarkan kemampuan komunitas tersebut dalam bertindak dengan cara tertentu, memiliki kemampuan khusus untuk melakukan hal-hal tertentu khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan mereka.

Di samping itu pemimpin yang memiliki program pemberdayaan masyarakat yang jelas dan terukur. Pemberdayaan merupakan berbagai proses atau upaya meningkatkan kapasitas individu atau kelompok agar mereka mampu membuat pilihan yang bertujuan untuk mengubah pilihan itu menjadi tindakan dan hasil yang diinginkan.

Pengembangan kapasitas dan pemberdayaan harus diarahkan agar Pasee dengan berbagai kekayaan alamnya menjadi pelopor dalam bidang industri pertanian dan peternakan untuk Aceh. Seorang pemimpin yang memiliki konsep ini akan mampu meningkatkan martabat rakyatnya agar tidak menjadi pengemis di negeri orang.

Dengan berbagai modal yang ada, sejatinya Aceh Utara menjadi hub ekonomi bagi Aceh, di mana Pasee harus menjadi pengontrol berbagai barang kebutuhan dasar. Jalur Gunung Salak yang sudah dibangun pada masa kepimimpinan dokter Zaini dan Muallem harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Bagaimana produksi pertanian di Dataran Tinggi Gayo atau dihasilkan sendiri di kawasan Nisam Antara dan sekitarnya, harus dikumpulkan terlebih dahulu di Aceh Utara yang kemudian didistribusikan ke seluruh Aceh atau setidaknya pesisir utara baik melalui darat maupun laut.

Tidak salah juga kalau bermimpi untuk mengirimnya ke provinsi lain di Indonesia melalui Pelabuhan Krueng Geukueh, atau malah ke negeri jiran Malaysia.

Pengembangan pertanian dan peternakan skala industri di Aceh Utara ini akan menjadi primadona yang akan mampu menarik berbagai kumbang dari belahan dunia. Kemampuan Bappeda, Dinas Pertanian, Dinas Peternakan, dan Dinas Perdagangan akan dipertaruhkan di sini.

Siapapun yang menjadi linto nantinya tidaklah mesti memiliki berbagai skill dan pengetahuan tetapi wajib memiliki kemampuan managerial yang mumpuni. Kemampuan untuk mengatur dinas-dinas terkait untuk melakukan tugasnya secara baik dan benar.

Mengistirahatkan mereka yang selama ini hanya mampu mengkopi-paste dalam membuat program dan membuat laporan sebatas untuk menyenangkan pimpinan. Mampu melihat potensi putra-putri Aceh Utara dan kemampuan mereka dalam membangun daerahnya.

Tetapi satu hal yang pasti, teori dan praktik bagai umpama jauh panggang daripada api. Namun inilah pandangan saya terhadap tulisan kanda Usamah dan perawan Pasee serta peluang menjadi sang ratu di Aceh ke depan.

Canberra, 30 Juni 2020.

Penulis adalah mahasiswa program Doktor dalam bidang International Development, Fakultas Art & Design, University of Canberra, Australia, mengajar pada jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh.