Komunikasi (oleh) Polisi

Saifuddin Bantasyam. @ist

Oleh: Saifuddin Bantasyam*

Dalam proses komunikasi, ada empat unsur tercakup: pembicara, pesan, pendengar, dan media yang digunakan. Sedangkan dari segi bentuk pesan yang disampaikan, ada pesan-pesan verbal dan pesan nonverbal. Komunikasi verbal berupa kata-kata yang diucapkan, yang di samping memiliki kelebihan-kelebihan, sebenarnya juga memiliki keterbatasan (kadang tidak kontekstual, atau mengandung bias, pencampuradukkan antara fakta, penafsiran, dan penilaian). Keterbatasan itu dapat membuat pesan yang disampaikan disalahartikan.  

Sedangkan komunikasi yang berbentuk nonverbal mencakup semua rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi yang dihasilkan individu dan penggunaan lingkungan oleh individu yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim dan penerima. Fungsi komunikasi nonverbal ini antara lain dapat mengulangi perilaku verbal dan memperteguh, menekankan, melengkapi perilaku verbal, serta (dapat) menggantikan perilaku verbal. Tetapi, apa pun bentuk kegiatan komunikasi, tetap dibutuhkan keahlian, agar pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan benar–dan pada tingkat tertentu–juga dapat direspons dengan benar.

Lalu, bagaimana dengan komunikasi di kalangan kepolisian atau komunikasi oleh anggota polisi?  Alhamdulillah, suatu kali saya mendapat kesempatan berharga sebagai pembicara dalam acara yang diinisiasi anggota DPR RI M Nasir Djamil dan Kapolresta Banda Aceh AKBP Trisno Riyanto SH di Aula Polresta Banda Aceh. Hadir sebanyak 130 anggota polisi dari jajaran mapolresta dan polsek. Sesuai dengan peminatan maka saya diminta berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan komunikasi.

Seperti di berbagai organisasi lain, komunikasi dalam lembaga kepolisian berlangsung antara atasan-bawahan (downward) dalam bentuk pengarahan atau perintah, bawahan-atasan (upward) ketika menyampaikan laporan, dan sesama kolega di dalam lingkungan kepolisian (horizontal). Polisi juga berkomunikasi dengan: warga masyarakat (penyuluhan, pelayanan publik), dan dalam penyelidikan;  tersangka dalam proses penyidikan (pembuatan berita acara pemeriksaan—BAP), saksi-saksi; dan dengan pihak kejaksaan dalam proses penyerahan BAP.

Saat bencana alam maupun bencana buatan manusia dan dalam penanganan huru-hara, polisi juga melakukan komunikasi dalam bentuk perintah atau arahan untuk mencegah dampak yang tak diinginkan. Berkemungkinan juga komunikasi dalam bentuk bernegosiasi dengan penyandera atau dengan penanggung jawab suatu demonstrasi dan sebagainya, serta dengan berbagai kelompok strategis masyarakat, laki-laki dan perempuan, serta dengan anak-anak, dalam program penyuluhan. Polisi juga diundang menjadi pembicara dalam berbagai acara publik dan menulis press release kepada media massa cetak dan elektronik tentang kebijakan atau sikap lembaga terhadap hal-hal tertentu.  

Secara umum, komunikasi (oleh) polisi tidak berbeda dengan komunikasi oleh orang lain. Karena itu, teknik-teknik komunikasi yang umum dipakai, juga dapat diadopsi oleh polisi saat berkomunikasi. Demikian juga dalam hal proses komunikasi, tetap ada transfer informasi atau pesan (komunikator) dan ada yang menerima pesan (komunikan) dengan teknik penyampaian tertentu agar pesan-pesan yang disampaikan  dapat diterima dengan baik atau jelas.

Komunikasi yang efektif terjadi jika penerima pesan memahami keseluruhan isi pesan dengan utuh, bebas dari bias. Tetapi tidak seperti di luar lembaga kepolisian, maka di dalam lembaga kepolisian, keutuhan dan bebas dari bias itu hal yang teramat sangat penting. Mengapa? Hal ini tidak lain dan tidak bukan karena keputusan yang dibuat, tindakan (hukum dan fisik) yang diambil, adalah menyangkut dengan kepentingan umum dan–dalam kasus-kasus tertentu, bahkan mungkin berkaitan dengan keselamatan jiwa orang, serta keamanan bangsa dan negara.

Momentum HUT ke-74 Bhayangkara antara lain dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran bahwa kegiatan komunikasi kepolisian tak pernah berlangsung dalam suatu ruang hampa, melainkan dalam suatu konteks sosial. Dalam suatu konteks sosial, sekurang-kurangnya terdapat tiga hal penting, yaitu aktor (siapa saja yang terlibat dalam proses komunikasi), tempat di mana komunikasi berlangsung, dan waktu berlangsungnya komunikasi. Untuk yang terakhir ini, bisa saja orang (penerima pesan) tidak terperbaharui dengan situasi kekinian, atau anak zaman sekarang tak memahami konteks di masa lampau (sebelumnya).

Juga perlu ada peningkatan kesadaran mengenai persiapan berkomunikasi. Misalnya substansi yang akan disampaikan (perintah, klarifikasi, pertanyaan dalam pemeriksaan, materi dalam presentasi publik), durasi yang dipakai untuk berkomunikasi, perhatian terhadap penerima pesan (audiens, anak-anak atau perempuan, atau orang dengan kapasitas tertentu, kondisi fisik dan psikis mereka misalnya), situasi di mana komunikasi berlangsung (dalam ruang tertutup, ruang publik). Untuk tujuan komunikasi tertentu, memakai uniform kepolisian atau tidak, akan menentukan tujuan akhir komunikasi tersebut.

Di samping itu, perlu juga digarisbawahi bahwa komunikasi pada dasarnya bersifat dua arah, di mana pendengar adalah pembicara juga. Jika dengan publik untuk kepentingan penyuluhan misalnya, polisi harus meminimalisir komunikasi yang sifatnya instruktif atau intimidatif. Budaya mendengar juga perlu diperkuat. Kesamaan latar belakang sosial budaya biasanya dapat membuat komunikasi lebih efektif. Jadi mencari apa yang saja kesamaan itu adalah hal yang penting untuk diperhatikan.

Di antara berbagai bidang dalam lembaga kepolisian, maka bidang hubungan masyarakat (humas) adalah bidang yang berperan penting melalui komunikasi yang dilangsungkan, verbal dan tertulis. Pada level personel, polisi yang bekerja sebagai babinkamtibmas akan berpengaruh kepada bagaimana masyarakat mempersepsikan kinerja kepolisian. Karena itu, keahlian dalam berkomunikasi oleh polisi yang bertugas pada dua bidang di atas adalah suatu keniscayaan. Akhirnya, selamat HUT ke-74 Bhayangkara, semoga terus jaya untuk pengabdian terbaik kepada rakyat![]

Dosen Fakultas Hukum Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh

Editor : Ihan Nurdin