Refocusing APBA 2020, Apa Kabar?

Muhajir Juli. (Ist)

Oleh Muhajir Juli*

Sudah berbilang bulan, sejak Covid-19 ikut menyerang Aceh, proses refocusing APBA 2020, belum kunjung selesai. Asisten II Pemerintah Aceh Bidang Pembangunan dan Ekonomi, Teuku Ahmad Dadek, Jumat (19/6/2020) mengatakan bahwa dokumen refocusing sedang dalam tahapan penyusunan Rencana Kerja dan Angggaran (RKA). Menurut Dadek, sekitar dua minggu dokumen tersebut sudah bisa diakses oleh publik. Bila benar apa yang disampaikan Dadek, maka, Kamis (2/7/2020) dokumen refocusing tersebut sudah bisa diakses oleh khalayak.

Aceh adalah negeri yang unik, tingkat penularan covid-19 yang awalnya tidak begitu massif–dengan dalih Aceh adalah daerah yang dicintai oleh Tuhan– kini menampakkan gejala berbeda. Penularan via transmisi lokal mulai terjadi. Pun demikian, hoaks bahwa Covid-19 merupakan manipulasi bisnis lembaga dunia bekerjasama dengan insutri medis, pun tetap gencar. Di medsos, kabar yang tidak terferivikasi berseliweran. Bahkan tidak jarang, pelakunya adalah orang-orang yang memiliki tingkat intelektual mumpuni.

Menindaklanjuti mandat dari Pusat, Pemerintah Aceh melakukan penyesuaian anggaran daerah yang disebut refocusing.
Refocusing APBA 2020 sempat menimbulkan gejolak. Anggaran semua dinas dipangkas untuk penanganan Covid-19. Diawali dengan pembagian bahan makanan pokok melalui Belanja Tidak terduga (BTT) 2020 senilai 57,5 miliar–yang sampai saat ini laporan pengunaannnya belum diumumkan ke publik– konflik terus terjadi antara ragam pihak yang menyoal transparansi. Pemerintah Aceh dinilai tidak terbuka mengelola anggaran daerah. Pengadaan bahan makanan pokok untuk Covid-19 via Dinas Sosial Aceh dinilai penuh dengan ketidakjelasan. Termasuk harga 60.000 lembar goodiebag yang dalam pagunya senilai Rp20.000/lembar. Hingga kini belum terjawab, berapa harga pastinya.

Sejauh ini, menurut hemat penulis Pemerintah Aceh belum menerjemahkan secara utuh apa yang dimaksud refocusing anggaran. bilapun sudah diterjemahkan, tetapi belum disampaikan secara detail kepada publik. Ketepatan menerjemahkan definisi akan mempengaruhi penentuan ruang lingkup. Definisi akan sangat menentukan indikator. Ruang lingkup akan sangat menentukan kriteria. Demikian juga memampuan menjelaskan ke publik, sangat menentukan lancar tidaknya perjalanan refocusing.

Secara lebih detail lagi, ketepatan menentukan definisi dan ruang lingkup akan menentukan Standar Operasional Procedure (SOP) yang akan ditetapkan, yang kemudian akan melahirkan program, kegiatan, penerima manfaat, serta monitoring dan evaluasi.

Secara umum, penangangan Covid-19–sejauh pengetahuan penulis– haruslah melalui dua pendekatan. Direct (langsung) maupun tidak langsung (indirect). secara direct, penanganananya dilakukan secara preventif dan kuratif. Penanganan preventif seperti pengadaan masker, hand sanitizer, APD, dll. Juga soal status daerah, PSBB, Lockdown, dll. Juga sosialiasi dan supervisi.

Sedangkan dari segi kuratif, yang harus dilihat adalah ketersediaan RS rujukan, obat dan perawatan, SDM paramedis, ventilator, SOP penanganan pasien, dll.

Secara tidak langsung (indirect) penanganan adalah dampak ekonomi akibat Covid-19. Seperti pembagian sembako, subsidi/stimulus untuk dunai usaha, modal usaha dan equipment untuk menunjang dunia usaha.

Ada satu hal lagi yang harus menjadi perhatian bersama. Bilapun semua langkah yang penulis sampaikan tadi terpenuhi, apakah Pemerintah Aceh memiliki keseriusan untuk melakukannya? Ataukah sekadar menghabiskan anggara daerah. Carut-marutnya pengelolaan BTT 2020 untuk pengadaan bahan makanan pokok, menjadi tolok ukur untuk meragukan. Menurut penulis, hingga saat ini, pengelolaan BTT tidak terbuka dan rawan penyelewenangan. Serta belanja yang tidak perlu, sekadar menghabiskan anggaran negara.

Saat ini, semua orang sedang menunggu dokumen refocusing APBA 2020. Seperti apa telah disusun? Dapatkan menjawab persoalan inti rakyat di tengah Covid-19. Atau seperti yang sudah-sudah. Hanya sekadar memenuhi kriteria BPK, demi tercapainya WTP di tahun berikutnya.

Semoga, sesuai janji Teuku Dadek, Kamis (2/7/2020) dokumen tersebut sudah dapat diakses oleh publik. Minimal sudah berada di tangan wakil rakyat. Semoga kita tidak seperti menunggu boh ara hanyot. (menanti hanyutnya telur itik liar, perbuatan yang sia-sia). []

Penulis adalah CEO aceHTrend.