Transformasi Digital di Era Kenormalan Baru

Ilustrasi

Oleh Elviyanti*

Pandemi global Covid-19 telah mengubah segala aspek kehidupan. Selama berada di rumah, pelajar terbiasa dengan kelas daring, karyawan mulai menikmati kerja jarak jauh (remote working) dan “zooming” adalah kata kerja baru yang populer di era Covid-19.

Presensi pertemuan virtual memudahkan setiap orang berjumpa, meskipun fisik terpisah oleh batas wilayah. Kajian agama bersama syekh dari Arab Saudi, kuliah daring ke California, dan temu maya milenial seluruh dunia menjadi kegiatan wajar, asalkan jumlah kuota internet mencukupi.

Berada di kota kecil, bukanlah sesuatu yang mengecilkan hati lagi. Dunia berada dalam genggaman. Dalam sehari saja kita bisa bertemu lebih dari seribu orang, menghadiri lebih dari lima seminar virtual tanpa harus memusingkan jarak.

Siapa pun yang menolak perubahan atau menganggap korona tidak ada di antara kita, mungkin perlu mengubah pola pikir. Paling tidak “korona” telah menjadi variabel baru yang kita masukkan ke dalam percakapan sehari-hari.

5 Tahap Menghadapi Krisis

Dr. Elisabeth Kubler-Ross dalam bukunya On the Death and Dying (1969) menyebutkan ada lima tahap kesedihan yang dirasakan individu ketika kehilangan atau menghadapi situasi krisis dalam hidupnya. Pertama, denial (tolak menolak), seseorang yang mengalaminya akan berpikir ini tidak mungkin terjadi, tidak ada korona di antara kita, tidak perlu upgrade diri, work from home (WFH) mustahil, situasi genting hanya terjadi di tempat lain.

Kedua, anger (marah), sebuah kondisi meredupnya penolakan, dengan rasa sakit yang belum pulih, sehingga rentan untuk melampiaskan amarah. Dalam situasi seperti ini, seseorang akan gampang tersulut emosi gara-gara sulit bekerja, tidak bisa berkumpul, dan lain-lainnya. Enyahlah kau, wahai korona dari bumi.

Ketiga, bargaining (tawar-menawar), seseorang menumbuhkan harapan bahwa peristiwa yang terjadi bisa diundur, mengingat persiapan yang belum memadai. Tiba-tiba pesona e-commerce meningkat, banjir tawaran kursus virtual ke luar negeri, pengajar mengubah sistem belajar secepat kilat, dan lain-lainnya.

Ruang digital hadir di setiap rumah. Populasi dunia maya (cyberspace) semakin ramai saja. Dan, yang minim persiapan mulai tawar-menawar, andai saja waktu bisa diundur sejenak, agar amunisi bisa dipersiapkan dengan sebaik mungkin.

Keempat, depression (depresi), saat ini segala emosi mulai mereda, dan kita terpaksa melihat kenyataan yang terjadi, terkadang bingung dan sedih. Sebuah fakta menyakitkan terpampang nyata di hadapan mata. Meskipun berat, jalan terjal berliku harus dilalui. Jika merasa tidak berdaya, berbicaralah dengan teman dekat atau psikolog. Barangkali bisa meringankan beban.

Kelima, acceptance (penerimaan). Pada tahap ini akhirnya kita menerima kenyataan yang sudah terjadi. Mulai berdamai dengan keadaan, meskipun masih dirundung kesedihan. Contohnya, mulai membiasakan diri belajar secara virtual, terlibat dalam diskusi daring, dan mengembangkan keahlian yang kira-kira dibutuhkan di era terkini.

Setiap tahap membutuhkan waktu, dan mekanisme koping setiap orang berbeda-beda. Tetapi, jangan pernah berlarut-larut, karena dunia selalu menawarkan harapan baru. Dan, waktu tidak akan mungkin menunggu. Jika memang tak mampu, carilah yang bisa membatu, setidaknya mengurangi sendu yang semakin pilu.

Dunia Baru

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat hingga Jumat (10/04/2020), sudah ada 1,506 juta masyarakat yang kehilangan pekerjaan. Jumlah ini tercatat sejak awal tahun dan meningkat setelah terjadinya pandemik virus korona atau Covid-19. (cnbcindonesia.com/13/04/2020).

Pandemi Covid-19 yang datang tiba-tiba tanpa menunggu siap, membuat siapa pun harus berpikir lebih cepat. Kita tidak bisa hanya tinggal diam, dan berharap semua akan baik-baik saja. Peningkatan keahlian bidang digital sangat diperlukan, bukan perkara yang bisa ditawar atau sibuk berandai-andai kapan Covid-19 akan minggat.

Sebagai contoh, pemilik Zara akan menutup sebanyak 1.200 toko di seluruh dunia, karena pengecer pakaian mencoba meningkatkan penjualan online selama kekacauan yang ditimbulkan oleh pademi Covid-19 (theguardian.com/10/06/2020).

Saham aplikasi Zoom mengalahkan tujuh perusahaan maskapai terbesar dunia. Kapitalisasi Zoom meroket menjadi 48, 8 miliar dolar. Zoom menjadi salah satu aplikasi yang paling banyak diunduh di Google Play dan Apple App Store (thenational.ae/21/05/2020). Sepertinya pertemuan virtual sudah menjadi salah satu pilihan bahkan ketika wabah sudah berlalu.

Generasi milenial, generasi Z atau generasi di bawahnya adalah generasi yang terhubung dengan digital. Bonus demografi Indonesia, di mana 63 juta milenial atau penduduk usia produktif 20-35 tahun seharusnya memberi angin segar untuk kebangkitan bangsa (mediaindonesia.com/19/01/2020). Pemerintah juga harusnya memberikan proteksi terhadap start up karya anak bangsa, agar mampu menguasai pasar dalam negeri.

Konsekuensi logis dari sebuah perubahan adalah yang bertahan atau punah, seperti dinosaurus yang hilang jejaknya kerena tak mampu beradaptasi terhadap cuaca atau iklim yang sangat ekstrem. Pun mesin ketik, yang tidak digunakan lagi semenjak adanya komputer.

Beberapa profesi masih menunjukkan presensinya di tengah badai Covid-19, seperti perawat, ahli gizi, pendorong pasien, satpam rumah sakit, manajer penjualan online, pembuat laman website, pengacara, dan lain-lain. Meskipun, tenaga medis berisiko terpapar virus, bekerja jarak jauh adalah kemewahan yang tak mungkin direngkuh.

Dan sejumlah profesi lain mulai menurun eksistensinya, seperti pramugari, pemain sinetron, kasir, resepsionis hotel, petugas kebersihan di bandara, dan lain-lain. Bisa jadi nanti akan ada profesi yang tak mampu bertahan atau harus menyesuaikan diri dengan kehidupan digital sesegera mungkin.

Sembari berharap pemerintah menelurkan kebijakan pro-rakyat di tengah wabah yang semakin menyengsarakan. Semoga tulisan ini menambah insight baru bagi sesama milenial, untuk terus mencari pijakan atas setiap gagasan.

Sebentar lagi, kita memasuki era politik digital, semoga banyak milenial yang terpilih menjadi pemimpin bangsa. Karena sekarang adalah era kita. Biarkan yang sudah tua beristirahat. Saatnya yang muda melakukan percepatan dalam segala bidang, baik pendidikan, ekonomi, politik, dan lain-lain. Semoga![]

Penulis adalah perawat milenial. Email: elvi.chayo@gmail.com

Editor : Ihan Nurdin