Beredar Percakapan Almarhum Cekgu Zaki yang Bikin Hati Bergerimis

Almarhum Cekgu Zaki dengan sejumlah anak-anak Papua @ist

Nama almarhum Muhammad Zaki atau yang sering disebut sebagai Cekgu Zaki dalam beberapa hari terakhir menjadi perbincangan hangat di kalangan publik Aceh. Setelah sebelumnya diberitakan sakit parah di lokasi pengabdian nun di Tanah Papua sana, Cek Gu Zaki lantas dikabarkan telah mengembuskan napas terakhirnya di sana. Guru honorer yang berasal dari Aceh Utara itu kembali ke haribaan Ilahi dengan meninggalkan seorang ibu yang telah melahirkannya di Gampong Mane Tunong, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara.

Cekgu Zaki sempat dirawat lima hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nabire dan akhirnya menghadap Sang Pencipta karena menderita infeksi pernafasan pada Senin (29/6/2020) sekitar pukul 01.55 WIT. Di sana Cekgu Zaki mengajar di salah satu SD di Intan Jaya sebagai guru kontrak daerah. Sebelumnya Zaki juga berstatus Guru Penggerak Daerah Terpencil (GPDT), Kabupaten Intan Jaya, Papua, tahun 2016-2018.

Tak lama setelah kepergiannya, beredar percakapan Cekgu Zaki dengan salah seorang temannya di Messenger Facebook yang diunggah oleh akun Arif Sang Pemimpi pada 30 Juni 2020. Percakapan-percakapan yang sangat menyentuh hati hingga tanpa sadar membuat hati kita bergerimis saat membacanya.

Cekguh Zaki mengisahkan dirinya menderita infeksi pernapasan sejak Desember 2019. Penyakitnya itu pun semakin parah pada 14 April 2020. Pada saat itu dirinya tidak melakukan rawat inap rumah sakit, melainkan bhanya erobat jalan. Sedangkan biaya pengobatan itu dia dapatkan dari hasil sumbangan teman-temannya yang ada di Papua.

Namun, Cekgu Zaki merahasiakan penyakit yang diderita dari ibunya dengan alasan supaya ibunya tidak gelisah memikirkan kondisinya di perantauan. Kondisinya saat itu sempat membaik atas dukungan dan perjuangan teman-teman alumni GPDT seluruh Indonesia dan teman-teman kerja.

“Meskipun saya beda agama dengan mereka, tapi saya tidak pernah ditinggalkan dan mereka selalu mendampingi saya di sini,” katanya.

Kisah Cekgu Zaki Menjadi Guru Honor di Nabire

Pada tahun 2014 Cekgu Zaki lulus dari Universitas Al Muslim Bireuen. Saat itu dibuka program guru kontrak oleh Universitas Gadjah Mada Jogyakarta. Cekgu Zaki pun mencoba mengikuti tes tersebut terpilih sebagai satu-satunya perwakilan dari Provinsi Aceh yang lulus. Menjelang akhir tahun 2015, dia diberangkatkan ke Papua.

“Semua biaya pemberangkatan ditanggung sepenuhnya dan saat itu saya hanya memiliki uang Rp700 ribu di dalam dompet,” katanya kepada sang teman.

Dia juga menjelaskan, pada tahun 2018 guru kontrak itu habis masa tugas, kemudian pemerintah daerah setempat kembali meminta beberapa guru yang berkinerja baik untuk kembali diperpanjang kontraknya menjadi guru honor hingga sekarang.

“Saat pertama dikontrak di sini kami digaji Rp5 juta, kemudian digaji Rp3,5 Juta. Sedangkan kebutuhan selama di sini sangat mahal,” katanya.

Dia menceritakan daerah yang ditempatinya sangat terpencil jalannya pun sangat sulit dilalui. Jaringan telepon tidak ada, bahkan listrik pun tidak ada. Transportasi darat juga tidak ada, yang ada hanya pesawat. Namun, untuk sekali carteran pesawat dari tempatnya berdomisili di Nabire ke wilayah tugas di Intan Jaya bisa mencapai 35 juta untuk 45 menit penerbangan.

Kisah Kehidupan Almarhum Cekgu Zaki

Pada tahun 1992, ayah Cekgu Zaki meninggal dunia dan pada saat itu kehidupan mereka sangat susah. Dia menceritakan, pada saat dia kecil ketika tidur malam hari sering diselimuti dengan plastik supaya tidak kebasahan saat hujan turun, mengingat kondisi rumah yang bocor.

Saat masih sekolah dasar, ibunya merebus pisang muda untuk sarapan karena saat itu tidak ada uang untuk membeli beras. Kemudian, ketika sudah sekolah tingkat SMP, Cekgu Zaki malamnya tidur di Dayah Blang Khutang. Selesai SMP ia tidak sempat melanjutkan ke tingkat SMA, mengingat saat itu Aceh masih dalam konflik dan rumah sekolah pun dibakar.

“Setelah lulus SMP, saya langsung dititipkan di dayah pengajian di Gampong Teugoh, Sawang oleh ibu saya,” katanya.

Lalu, Cekgu menjelaskan akhirnya dirinya keluar dari dayah tersebut mengingat butuh biaya dan akhirnya dirinya bekerja di salah satu toko fotocopi yang ada di Pasar Inpres Krueng Mane. “Saya ingin pergi kuliah, lalu saya mencoba mengikuti ujian Paket C yang dilaksanakan pemerintah,” katanya.

Zaki menjelaskan selama kuliah dirinya juga bekerja untuk mengelola data administrasi di dua sekolah sekaligus, pagi hingga sore kuliah, setelah itu dirinya bekerja hingga pagi. “Hal itu saya lakukan selama empat tahun,” katanya.

Dia juga menceritkan hingga saat ini ibunya belum memiliki rumah dan kini masih menumpang di rumah keluarganya di Gampong Mane Tunong, Kecamatan Muara Batu. Namun, ia tak ingin hal itu diketahui publik karena tak ingin beban hidupnya diketahui oleh orang lain. Akan tetapi, ia berharap kepada orang tersebut, bila ada jaringan pada donatur ia hanya meminta satu hal: membantu agar ibunya bisa mendapatkan bantuan rumah layak huni.

Kini sang pengabdi pendidikan itu memang telah pergi. Jasadnya telah dikubur di ujung timur Indonesia. Beribu-ribu kilometer jarak dari tanah kelahirannya, Aceh. Bahkan sang ibu tak sempat melihat wajah dan senyum terakhir sang buah hati. Seperti halnya Cek Gu Zaki yang memiliki harapan terakhir, sang ibu pun memendam keinginan agar suatu hari bisa berziarah ke makam anaknya.[]

Editor : Ihan Nurdin