Mengubah Unsyiah Menjadi Universitas “Jantong Hate” Indonesia

Drs. Sulaiman Abda (tiga dari kiri), Mantan Wakasad Letjend TNI (Purn) Tatang Sulaiman (empat dari kiri), Ismail Rasyid dan Rektor Unsyiah (lima dan enam dari kiri) berfoto bersama seusai silaturahmi di Rumoh Aceh Tibang, Kamis (2/7/2020) pagi. [Muhajir Juli/aceHTrend]

Di bawah Rumoh Aceh Tibang, tempat peristirahatan politisi senior Aceh, Drs. Sulaiman Abda, Rektor Unsyiah Prof. Dr. Samsul Rizal, M. Eng, Kamis (2/7/2020) bercerita tentang universitas yang ia pimpin, yang awalnya berakreditasi C, akhirnya mampu menjadi universitas dengan akreditasi A. Banyak cobaan yang harus ia lampaui. Termasuk fitnah bahwa dirinya sedang mengkristenkan Unsyiah, karena menerima puluhan putera-puteri Papua menimba ilmu di Darussalam.

Alhamdulillah, sekarang ini Unsyiah bukan lagi perguruan tinggi yang dilirik sebelah mata. Tapi telah menjadi tujuan banyak anak bangsa dari berbagai provinsi di Indonesia. Bahkan untuk jurusan-jurusan yang dianggap elit, banyak mahasiswanya berasal dari berbagai wilayah di luar Aceh,” ujar Samsul Rizal di hadapan Letjend TNI (Purn) Tatang Sulaiman, mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) TNI-AD.

Sejak dilantik sebagai Rektor Universitas Syiah Kuala pada 2012, Samsul Rizal melakukan berbagai terobosan. Mulai dari menempatkan para Pembantu Rektor dari lintas fakultas, juga melakukan pembenahan manajemen. Alumnus Toyohashi University of Technology, Jepang, gelisah dengan akreditasi Unsyiah yang masih C. Padahal, dengan kondisi daerah yang masih tertinggal, Aceh membutuhkan pusat pengembangan sumber daya manusia yang memiliki kualitas mumpuni.

Bersama koleganya di Unsyiah, Samsul Rizal pun bergerak menerobos berbagai rintangan. Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) secara institusi resmi memperoleh nilai akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang diterima pada Kamis (6/8/2015). Nilai itu tertera dalam Surat Keputusan (SK) BAN-PT Nomor 736 Tahun 2015 tentang Nilai dan Peringkat Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi.

Setelah akreditasi tersebut terbit, berbondong-bondonglah anak negeri dari berbagai pelosok negeri, mendaftar sebagai calon mahasiswa Unsyiah. Hal tersebut menjadi berkah bagi Unsyiah, sekaligus tantangan baru bagi Samsul Rizal. Kehadiran calon mahasiswa dari daerah yang kualitas pendidikannya jauh lebih unggul, membuat anak Aceh mendapatkan pesaing yang tidak seimbang.

Rektor Universitas Syiah Kuala Prof. Dr. Samsul Rizal, M. Eng. [Teuku Hendra Kemala/aceHTrend]
“Anak-anak kita yang berasal dari berbagai kabupaten di Aceh, dengan kondisi kualitas pendidikan yang tertinggal jauh, tentu akan sulit bersaing, ujarnya.

Samsul Rizal gundah gulana. Dia pun mengajukan afirmasi pendidikan tinggi, demi menampung anak-anak Aceh yang berbakat tapi yang ada di seluruh Aceh. Jalur masuk ini merupakan jalur khusus undangan tanpa test dengan syarat-syarat tertentu.

“Unsyiah, selain harus membuka diri kepada siapa saja, tetapi tetap harus memberikan kesempatan kepada anak-anak Aceh agar berkesempatan menimba ilmu di universitas terbaik di negerinya. Segala macam cara kami tempuh untuk mewujudkan harapan itu, kata Samsul Rizal.

Dituding Negatif Karena Menampung Mahasiswa Papua

Sejak 31 Agustus 2012, Unsyiah juga menampung 29 mahasiswa asal Papua dan Papua Barat. Mereka bisa berkuliah di sana setelah adanya kerjasama melalui jalur afirmasi. Biaya belajar ditanggung pemerintah masing-masing. Akan tetapi kehadiran mahasiswa asal Papua sempat membuat Samsul Rizal dicap miring oleh beberapa orang.

“Pernah pada sebuah ceramah saya dituding akan mengkristenkan Unsyiah karena menerima mahasiswa asal Papua,” kata Samsul.

Pun demikian, lelaki kelahiran 8 Agustus 1962 itu bergeming. Dia tidak boleh rontok oleh hujatan orang-orang yang tidak memahami pendidikan secara utuh.

Kerja keras Samsul Rizal membuahkan hasil. Anak-anak Papua yang berkuliah di Unsyiah, semuanya mampu menamatkan kuliah dengan baik. “Alhamdulillah, mereka lulus semua. Ini anugerah sekaligus contoh. Dengan kelebihan Aceh di bidang syariat Islam, membuat anak-anak Papua bisa berkuliah dengan tertib, aman dan fokus pada tujuan.”

Apa rahasia sukses Unsyiah sehingga mampu membimbing seluruh mahasiswa asal Papua? Konsepnya adalah siapapun dia, mahasiswa Unsyiah tidak boleh mabuk. Tidak boleh menenggak minuman keras. Tidak peduli asal usul kebudayaannya. Intinya ketika memilih Unsyiah, maka harus siap dengan segala aturannya.

Bagi orang Papua, minum minuman keras merupakan kegiatan sehari-hari. Tapi Unsyiah tidak menolerir hal tersebut. Efeknya adalah, Unsyiah menjadi percontohan bagi pembentukan mental anak-anak Papua. Padahal, di berbagai universitas elit lainnya di Indonesia, anak-anak papua yang berkuliah dengan ragam jalur, [bahkan] seringkali gagal di tingkat II, karena sibuk dengan aktivitas mabuk-mabukan.

“Ini hikmah dari penerapan syariat Islam di Aceh dan konsistensi kami di Unsyiah.”

Samsul melanjutkan, hikmah dari konsistensi tersebut, kini Unsyiah menjadi salah satu kampus yang menjadi rujukan bagi Pemda Papua, untuk mendidik anak-anak mereka. Konsep pelarangan minuman keras yang diadopsi dari Aceh, kini pelan-pelan mulai diterapkan juga di beberapa tempat di sana. “Alhamdulillah, ini prestasi yang kita toreh.”

Pertemuan di Rumoh Aceh Tibang, merupakan ajang silaturahmi nonformal antara mantan Pangdam Iskandar Muda Tatang Sulaiman dengan Sulaiman Abda, Samsul Rizal dan sejumlah tokoh lainnya yang bermukim di Banda Aceh. Turut menghadiri  Letjend TNI (Purn) Tatang Sulaiman, yakni Irdam IM Brigjen TNI Ahmad Faisal, S. Sos, M. Soc, Sc, Kapoksahli Pangdam IM Brigjen TNI Bambang Indrayanto, Dandim 0101/BS (Banda Aceh) Letkol Inf Abdul Razak Rangkuti, Asintel Kasdam IM Kolonel Inf Ahmad Fikri Musmar, dan Dandenintel Mayor Inf Kurniawan Agung Sancoyo..

Ikut hadir Sekjend Partai Aceh Teungku Kamaruddin alias Abu Razak, CEO Trans Continent Ismail Rasyid, Dr. M. Gaussyah SH MH Kepala Pusat Riset Pertahanan Unsyiah, pengusaha muda asal Aceh yang bermukim di Jakarta Fuad Hadi, dan sejumlah tamu lainnya. []