Kolom: Kekuatan Mimpi

Muhajir Juli, CEO aceHTrend. Foto: taufik Ar-Rifai/aceHTrend.

Oleh Muhajir Juli

Seorang anak kecil nun di Eropa, pada suatu hari dibawa ayahnya berkeliling. Sang ayah yang berpofesi sebagai supir truk tangki gandéng, menghabiskan hari-harinya di balik kemudi menyusuri jalan aspal antar negara di benua biru. Dia ingin menunjukkan kepada puteranya tentang apa yang dia lakukan ketika tidak berada di rumah. Di luar, sebagai ayah lelaki tersebut berjuang demi keluarga.

Di perjalanan si anak bertanya kepada ayahnya. “Ayah, truk besar ini punya siapa?” Sembari tersenyum dan matanya tetap awas menatap jalanan yang padat, sang ayah menjawab. “Truk yang ayah kendarai ini milik bos. Orang kaya yang mempekerjakan ribuan orang.”

“Jadi, truk ini bukan milik Ayah?”

“Bukan,” jawab sang ayah.

Sejenak bocah itu diam. Dia menatap ke luar jendela. Jalanan Eropa yang tidak kunjung sepi sepanjang lintasan yang mereka lalui diperhatikannya dengan saksama. Dia menarik nafas agak dalam.

“Nanti, ketika aku besar, Ayah akan saya belikan sebuah truk besar, agar tidak perlu lagi bekerja pada orang lain.”

Sang ayah tersenyum.

Apa yang bocah itu lihat dari pekerjaan ayahnya, telah memantik sebuah kesadaran. Lebih tepatnya, alam bawah sadarnya terpacu untuk memiliki impian besar. Untuk ukuran bocah SD, bercita-cita membelikan satu unit truk untuk sang ayah, tentulah sebuah cita-cita yang teramat besar.

22 tahun kemudian lelaki kecil yang berkeliling Eropa bersama ayahnya itu, duduk satu meja dengan berbagai pengusaha transporter internasional. Lintas bangsa, lintas agama dan lintas ideologi. Lelaki itu menjadi pengusaha termuda di antara para pelaku bisnis transportasi angkut antar benua. Usianya sekitar 35 kala itu. Menjadi CEO yang paling junior di antara yang lain.

Kepada kolega bisnisnya dia mengatakan. “Dulu aku bermimpi membelikan truk untuk ayahku. Tuhan menjawab doaku lebih dari itu. Kini aku menjadi pemimpin perusahaan besar dengan ratusan karyawan inti. Bisnisku di mana-mana. Untuk ayah, aku belikan sebuah mobil mewah yang tidak pernah masuk ke dalam listing impiannya.”

Cerita itu saya dapatkan dari seorang pengusaha asal Aceh, Ismail Rasyid, CEO Trans Continent, kala kami hangout di atap kantor cabangnya di Banda Aceh, Kamis (2/7/2020). Lelaki muda itu adalah mitra bisnisnya.

35 tahun, itulah usia saya pada tahun ini. 26 Februari 2020 saya berulang tahun ke- 35 tahun. Berkesempatan duduk dan mendengar cerita sukses dari pelaku bisnis tentu sebuah anugerah. Sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Ada hal yang sama selalu saya dapatkan tiap kali bertemu dan bincang-bincang dengan para pelaku usaha. Mereka selalu menekankan tiga hal yang harus kita miliki dalam mengarungi lautan kehidupan. Pertama, untuk mewujudkan sebuah keberhasilan di bidang yang kita geluti, setiap kita harus ahli di bidang tersebut. Kita harus menguasai bidang usaha yang digeluti sesempurna mungkin. Orang Inggris menyebutnya expert.

Kedua, integritas. Seahli apapun kita pada sebuah bidang, tanpa ditumpu oleh integritas, maka keahlian tidak akan berguna. Di dalam membangun bisnis, kejujuran, ketelitian, bertanggung jawab serta komit pada komitmen, adalah kunci yang tidak boleh ditawar.

Ketiga, jejaring. Bisnisman yang andal di seluruh dunia tentu memiliki jejaring. Di sini, jejaring akan semakin kuat ketika mereka mengetahui bila kita ahli dan berintegritas dalam bisnis yang kita geluti. Jejaring akan hilang bila dua hal di awal tadi tidak mampu kita penuhi sesuai dengan SOP yang telah dibuat.

Satu hal dasar yang menjadi pijakan adalah kekuatan merawat impian. Untuk meraih apa yang ingin kita dapatkan, setiap individu harus berjuang keras, berurai air mata, berpeluh dan harus sabar melalui titimangsa. Kita tidak akan pernah bisa menjadi besar dalam tempo yang singkat. Intelektual, integritas dan jejaring yang kuat tidak bisa direngkuh dalam waktu yang pendek. Tidak bisa dikarbit. Apalagi dibalut dalam bentuk pariwara. Kualitas terbentuk seiring dengan perjalanan waktu.

Waktu menjadi kunci. Setiap detik begitu berharga. Mereka yang kini telah menjadi orang-orang besar di dunia ini, adalah mereka yang selalu menghitung waktu sebagai investasi hidup. Bila terlambat kita akan kehilangan momentum. Kehilangan momentum akan menghilangkan kesempatan. Kehilangan kesempatan akan menjauhkan kita dari gerak menuju kemajuan.

Saya teringat dialog di dalam sebuah sinema Tollywood. Seorang bocah kecil berkata kepada ayahnya. “Ayah, terlahir dalam keadaan miskin merupakan takdir. Tapi mati dalam keadaan miskin adalah kesalahan.”

Banda Aceh, Jumat dinihari (3/7/2020).

Penulis adalah CEO aceHTrend.