Lhob Mate Corona (20): Kota dan Pandemi: Antara Sareuk dan Bui (1)

Ahmad Humam Hamid. [Ist]

Oleh Profesor Ahmad Humam Hamid*

Istilah sareuk-binatang kecil- yang berada di pohon dan mempunyai bunyi khas -dan bui, babi hutan- dalam kehidupan masyarakat awam Aceh adalah sebuah istilah asosiasi. Kiasan ini menggambarkan keterkaitan, ketika a hadir di sebuah tempat, baik nyata maupun abstrak, maka b juga akan ada di situ. Dalam penjelasan biasa misalnya disebutkan ketika sareuk berbunyi di atas pohon, maka hampir dapat dipastikan bui –babi ada di sekitar kawasan itu. Kiasan itu kemudian menjadi lazim digunakan dalam metafora ekonomi, kemalangan, kekerasan, dan bahkan politik kedai kopi.

Agaknya  kiasan Aceh itu dapat membantu kita dalam memahami keterkaitan antara keberadaan kota dengan hadir dan merebaknya pandemi seperti yang kini sedang terjadi dengan Covid-19. Tentu saja keterkaitan itu tidak saja berurusan dengan asosiasi antara keduanya, akan tetapi lebih kepada proses, mekanisme, dan dampak yang ditimbulkan secara lebih luas, sosial, ekonomi, budaya bahkan kepada peradaban sekalipun.

Pandemi yang kita sebut ini sesungguhnya adalah virus atau bakteri yang berubah statusnya tergantung luasnya kawasan dan jumlah manusia yang dijangkiti. Ia dapat saja berasal dari kawasan pedesaan, tempat terpencil,  bahkan tempat yang terisolir sekalipun. Ketika itu ia baru muncul status namanya endemi dan itu dapat terjadi terus menerus di suatu kawasan, bahkan bisa berabad-abad. Namun, ketika sang virus itu hijrah ke kota, masuk ke gedung pemerintah, berkeliaran di pasar, dan mulai merebak ke pemukiman, permainan tahap pertama baru dimulai, dan sang virus atau bakteria mempunyai status dan nama baru, epidemi.

Ketika virus telah mulai berjalan jauh, dibawa atau terbawa, diekspor atau terekspor ke kota-kota lain, maka ia telah mulai menjadi calon pandemi. Makhluk kecil itu baru sah menjadi pandemi, kalau ia telah merebak secara regional atar global, umumya melalui kota-kota besar, berjangkit, dan membunuh manusia dalam jumlah yang banyak. Karena itu ketika disebut istilah pandemi, itu artinya ada banyak kota, dan mungkin banyak sekali kota dijangkitinya. Walupun tidak sangat mirip, kiasan sareuk dan bui dalam bahasa Aceh dapat menolong kita dalam memahami keterkaitan kota dengan pandemi, terutama Covid-19 ini.

Wabah Antoninus yang berasal pada di Kota Seleucia, di tepi sungai Tigris, kawasan Baghdad, Irak hari ini, menurut catatan sejarah lama berstatus sebagai endemi dan epidemi, karena hanya berkeliaran di sekitar Mesoptomia, di sepanjang delta subur sungai Tigris, Irak Timur. Wabah campak ini baru naik pangkat menjadi pandemi setelah tersebar di kota-kota jajahan Romawi pada masa Raja Marcus Aurelius Antoninus yang memerintah pada 160-181 SM. Adalah tentara Romawi yang membawa pulang penyakit itu setelah Kota Seleucia ditaklukkan. Penyakit itu kemudian tiba di Roma, melewati kota-kota Yunani, untuk seterusnya masuk dan menyebar ke hampir remua kota-kota di Perancis, Jerman, Belgia, Belanda, dan Swiss. Karena Mesir pada saat itu juga takluk dengan Romawi, kota-kota yang terikat dengan jaringan transportasi Romawi juga terkena wabah campak itu. Total korban wabah ini  tidak tanggung, diperkirakan sekitar 5 juta jiwa.

Butuh waktu tahunan bagi penyakit campak untuk “terkirim” dari Irak Timur ke Roma, dan kemudian terus menyebar ke sebagian besar Eropa. Campak itu  dibawa dengan jalan darat oleh tentara Roma dari Irak, kemudian secara umum oleh pedagang ke seluruh Eropa. Itulah sebabnya wabah Antonin disebut sebagai sebuah “tragedi” bagi sang raja.

Visi dan kerja Raja Antoninuslah yang  memungkinkan itu terjadi dengan capaian mega infrastruktur jalan raya yang pertama kali terbesar dalam sejarah pada masa itu. Virus yang pada awalnya hanya berkembang di sekitar di sekitar delta Tigris telah “terekspor” ke seluruh kota-kota kawasan jajahan Romawi via tentara yang menggunakan angkutan kuda, caravan, dan kapal layar.

Ketika Belanda pada agresi kedua menyerang Aceh dan membawa penyakit kolera yang membuat kematian 100.000 rakyat Aceh, saat itu kolera sudah menjadi pandemi juga via kota-kota di Asia dan Eropa. Padahal kolera sudah ada bahkan berabad-abad sebelum Nabi Isa lahir, dan berkisar di sekitar delta Sungai Gangga, dan baru terekam oleh Gaspar Corea, sejarawan Portugis pada tahun 1543, yang kemudian ditulis olehnya.

Kolera baru dianggap sebagai pandemi ketika mulai menjarah Kota Jesore pada tahun 1817, berlanjut ke Kalkuta, Dhaka, dan kota-kota lain India. Kolera komplit menjadi pandemi ketika menembus  ke kota-kota di Myanmar, Thailand, untuk kemudian sampai ke kota-kota di Indonesia, dan kemudian ke berbagai kota lain di dunia.

Tidak salah ketika Anies Baswedan dalam sebuah wawancara TV terpaksa “menggurui“ beberapa pejabat tinggi pemerintah pusat via televisi untuk mempelajari sejarah pandemi Indonesia, sembari menunjuk Jakarta, pelabuhan Banten, dan Kota Sampang di Madura ketika mengalami musibah kolera pada pertengahan abad ke-19. Dan yang dibicarakan Anies adalah kota-kota pada masa itu yang berhubungan via pelabuhan laut dengan dunia luar.

Kenapa kota? Kenapa kota yang selalu menjadi fokus dalam penanganan pandemi?  Jawabannya sangat sederhana, pertama konetivitas fisik, dan yang kedua adalah kepadatan manusia. Kota adalah pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat ekonomi, dan “titik hubung” dengan berbagai kota dan tempat lain yang berbeda secara administratif, geografis, bahkan negara. Kota kemudian menjadi basis sebagai “pengirim” dan “penerima” pandemi yang dibawa atau terbawa oleh manusia melalui alat transportasi.

Perkembangan penyakit menular menjadi lebih dinamis ketika terjadi penemuan teknologi, terutama kapal api yang memungkinkan transportasi antarkota, bahkan antara kota dari benua yang berbeda dan berjarak jauh. Bersamaan dengan itu, dengan menggunakan prinsip teknologi yang relatif sama, kereta api mesin uap juga semakin mempercepat mobilitas manusia dan barang-barang.

Wabah Pes – akibat bacterium Yersinia pestis, yang terjadi di Kota San Francisco pada tahun 1900-1904 hanya dimungkinkan karena tikus yang menjadi pembawa penyakit ikut menumpang dalam kapal api yang berlayar dari Jepang melewati Hawai. Sebelumnya, pada tahun 1890 flu Rusia yang menyerang kota Liverpool di Inggris, Berlin, dan Hamburg juga merupakan penyakit yang terbawa dengan kereta api dari kota Saint Petersburg, Rusia. Tidak berhenti di situ, flu Rusia itu juga ikut “numpang” kapal api Eropa ke Brazil, yang membunuh lebih dari 20.000 warga Kota Buenes Airies.

Dunia hari ini yang sudah menyatu dalam sebuah “hiperkonekvitas”, baik darat, laut, maupun udara, dan telah memungkinkan seluruh titik pemukiman manusia di muka bumi terintergrasi dalam jaringan transportasi global. Bayangkan seorang pemuda Samarkilang yang menggunakan kenderaan motor roda dua menuju bandara Rembele Bener Meriah untuk berangkat mengunjungi adiknya di kota kecil Girdword, daerah pedalaman Alaska, AS. Tempat yang dekat Kutub Utara itu hanya memakan waktu kurang dari dua hari perjalanan, walaupun  judul perjalanan itu lebih mengambarkan sebagai sebuah pengembaraan dari pelosok ke pelosok.

Dengan hanya menggunakan pesawat Wings dari lapangan terbang Rembele, sang pemuda hanya singgah sebentar di Medan untuk kemudian dilanjutkan ke Kuala Lumpur. Dari Kuala Lumpur ia hanya butuh waktu 21 jam 59 menit untuk mencapai Pantai Amerika dan mendarat di Seatle, negara bagian Washington. Dari Seatle sang pemuda akan melanjutkan penerbangannya ke Anchorage, Alaska, hanya butuh waktu 3 jam 33 menit. Ia kemudian dapat melanjutkan perjalanan darat 30 menit ke Kota kecil Girdword, sekitar 60 km dari Anchorage.

Walaupun Girdwood kota kecil di negara moderen dan maju, dalam konteks konektivitas, sang pemuda Gayo tadi hanya butuh waktu 36 jam untuk terbang dari Samarkilang Gayo, Aceh, Indonesia, ke “Samarkilang Alaska”- kota Girdwood, Amerika Serikat. Bayangkan saja dari daerah pedalaman benua Asia ke pedalaman benua Amerika, manusia dan alat transportasi yang bergerak-motor, pesawat,dan mobil- melewati 16,575 kilometer jarak terbang, dan 99,4 km jalan darat dan itu di capai dalam waktu kurang dari dua hari.[](Bersambung)

Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Editor : Ihan Nurdin