Lhob Mate (21): Kota dan Pandemi: Antara Sareuk dan Bui (II)

Ahmad Humam Hamid. [Ist]

Oleh Profesor Ahmad Humam Hamid

Sulit membayangkan perbandingan penyebaran pandemi ketika dunia sudah menjadi bak sebuah “gampong”, di mana apapun yang terjadi pada sebuah rumah segera akan didengar dan bahkan akan menyebar ke seluruh pelosok gampong. Teknologi yang pada hakikatnya dianggap mempunyai posisi “netral” kepada manusia, kini menjadi sarana mesin pembunuh manusia dengan menjadi pembawa dan penyebar pandemi ke seluruh pelosok bumi. Sulit membayangkan berpindahnya virus dari satu pelosok bumi ke pelosok bumi lainnya dalam hitungan belasan atau puluhan jam tanpa ada jet supersonik atau pesawat pengangkut manusia canggih.

Kecepatan mobilitas manusia antar ibu kota negara, antar kota-kota besar atau menengah di berbagai titik di belahan bumi saat ini berada pada sebuah fase yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Pada awalnya, dalam ilmu epidemologi, sang vektor- pembawa kuman hanya terbatas pada tikus, lalat, nyamuk atau makhluk lain yang perkembangannya hanya secara lokal. Kini alat transportasi itu sendiri telah menjadi vektor. Yang terjadi kemudian adalah pesawat, bus, mobil, kereta api, dan angkutan laut menjadi ”vektor” besar, ciptaan manusia yang mempercepat penyebaran kuman dan melipagandakan penularan seperti apa yang terjadi di Wuhan.

Kasus Wuhan seperti yang dijelaskan dalam The Geography of Transport System (Rodrigue et al 2020) adalah refleksi dari hebatnya konektivitas Cina dan konsekuensinya kepada penyebaran Covid -19 di Cina dan ke seluruh Dunia.

Covid-19 disebutkan mulai terjadi pada bulan Januari -tahun baru Cina yang merupakan masa puncak mobilitas penduduk. Catatan tahun 2019 saja menunjukkan tidak kurang 415 juta penduduk Cina berpergian domestik pada saat itu, baik dengan kereta api maupun dengan pesawat. Jumlah penumpang pesawat tahunan domestik di Cina pada tahun 2019 adalah 659 juta penumpang. Kunjungan luar negeri masyarakat Cina, baik untuk keperluan bisnis maupun melancong berjumlah sekitar 166 juta orang. Hal ini sejalan dengan perkembangan perjalanan udara global dimana pada tahun 2018 saja terdapat 4.3 miliar penumpang pesawat.

Kasus Amerika saja menyebutkan antara Desember 2019 sampai dengan Maret 2020 terdapat 761,000 penumpang pesawat dengan jumlah penerbangan dari Cina, baik warga negara AS maupun Cina, dengan sebaran terbanyak di tiga kota besar AS- New York, Los Angeles, San Fransisco-yang kemudian menjadi episentrum Covid-19 di AS. Pada waktu yang sama AS juga mendapatkan lebih dari 800.000 penumpang pesawat dari dua negara yang kemudian menjadi episentrum Covid-19 di Eropa. Italia 353.000 penumpang, dan Spanyol 456.547 penumpang. Untuk diketahui Italia dan Spanyol adalah negara-negara yang mendapat kunjungan paling tinggi baik untuk urusan ekonomi perdagangan maupun untuk tujuan pelancongan dari negara Cina. Dua negara ini pula, terutama kota-kotanya yang mengalami tingkat kematian tertinggi akibat Covid 19, per Juni awal.

Keterkaitan kota dengan pandemi juga sering dikaitkan dengan tingkat kepadatan manusia, yang jauh sangat berbeda dengan kawasan pedesaan. Contoh yang paling anyar adalah 11 negara terbesar di dunia yang mengalami angka Covid tertinggi merupakan negara-negara yang mempunyai tingkat urbanisasi tertinggi di dunia (Worldometer 2020). Enam di antara negara-negara itu berada di Eropa; Italia, Spanyol, Perancis, Inggris, dan Rusia. Ditambah tiga negara dari Asia-Cina, India,dan Iran, dan dua dari benua Amerika- AS dan Brazil.

Enam negara di Eropa memiliki sekitar 75 persen penduduknya tinggal di perkotaan. Sementara itu, AS memiliki 70 persen, dan Cina mempunyai 60 persen penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan. Kalau saja kita telusuri perkembangan pandemi di semua negara urban itu, maka 100 persen episentrumnya adalah kota-kota besar, baru kemudian diikuti oleh kota sedang dan kecil di bawahnya.

Nampaknya alasan utama mengapa kota menjadi penting bagi pandemi adalah “tingkat kepadatan” manusia yang hidup di kota, baik dalam konteks pemukiman yang padat, konsentrasi mobilitas harian, utamanya tarnsportasi massal, dan kosentrasi ekonomi harian seperti pabrik, industri,dan pasar. Membayangkan hidup di kota secara “lenggang” seperti pedesaan, dan menghindari “kerumunan” adalah sesuatu yang mustahil, dan ini adalah wahana tempat sang virus menjalar dan berkembang kepada siapa saja. Pendek kata, membayangkan “ social distancing alami “ di kawasan perkotaan secara massal tanpa “law enforcement” tidak hanya aneh, tetapi juga melawan hakekat kehidupan perkotaan yang memang “ramai”

Untuk melihat signifikansi kota, terutama dari aspek kepadatan penduduk dikaitkan dengan perkembangan pandemi, menarik untuk memngambil hasil survey koran The New York Times awal April lalu. Tingkat kematian Covid-19 berbeda menurut status pemukiman dan kepadatan manusia per 100.000 penduduk, di mana kematian wilayah pedesaan 0,43, kota kecil 0,72, kota ukuran sedang 0,85, kota besar dengan daerah pinggiran jarang penduduk 0,94. Selanjutnya ditemukan perbedaan signifikan ketika angka itu dilihat di kawasan kota besar dengan daerah pinggiran padat penduduk 1.59 kematian, daerah perkotaan gabungan dari beberapa kecamatan mencapai 3.98 kematian per 100.000 penduduk.

Angka-angka yang dibeberkan oleh The New York Times adalah angka-angka awal ketika mulai merebaknya Covid-19 di AS, pada Maret dan April. Dengan angka-angka ini pula kita bisa membayangkan apa yang sedang terjadi di DKI Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, Denpasar, Samarinda, berikut dengan kota-kota sedang dan kecil yang berdekatan dengannya.

Perkembangan Covid-19 di Amerika Latin, Asia, Australia, dan Afrika tentu saja terjadi secara berurutan tengan kejadian di Eropa, AS, dan Amerika Latin sesuai frekuensi dan skala mobilitas manusia dari kantong-kantong, maksudnya kota-kota di Cina, Eropa, AS, dan bahkan sesama kota-kota Asia sendiri. Itulah sebabnya Brazil, Mexico, Peru dan negara-negara Amerika Latin kena belakangan setelah AS. Sedangkan kota-kota di AS terpapar Covid-19 sekaligus dari Cina dan Eropa.

Kini gelombang Covid-19 itu sedang memulai gelombang barunya di Asia dan Afrika, terutama negara-negara yang jumlah penduduk perkotaannya besar dan padat seperti India, Bangladesh, Turki, Iran, Pakistan, dan Indonesia. Selanjutnya kota-kota besar di negara-negara ini juga dicirikan ole pemukiman yang sangat padat, kurang bersih, banyak penduduk miskin, banyak kawasan kumuh,dan menonjolnya ekonomi informal.

Kondisi ini sangat berbeda dengan kota-kota di negara “penderíta awal” di Eropa dan Amerika Serikat, yang relatif lebih siap secara infrastruktur, sumberdaya, dan sistem. Banyak ahli memperediksikan, dengan pengecualian beberapa negara. secara teoritis kota-kota dan negara di kawasan di Asia dan Afrika akan mengalami kejadian yang lebih buruk daripada apa yang telah terjadi di kota-kota di Eropa dan AS.

Kejadian di kota-kota di Indonesia juga mengikuti logika konektivitas dan kepadatan penduduk seperti apa yang terjadi pada tingkatan global. Dimulai dengan kota-kota yang tingginya konektivitas tarnsporatasi, kepadatan tinggi, konsentrasi dan mobilitas manusia tinggi, untuk kemudian menyebar secara perlahan ke kota-kota propinsi rendah konektivitas dan yang kurang maju secara ekonomi. Pandemi itu lalu menurun lagi ke kota kota kecil, dan tidak berhenti di situ, akan terus berjalan sejauh manusia bisa berjalan. Akhirnya walaupun status terpencil dan kecil seperti Samarkilang di Bener Meriah, Sibigo di Simeulu, Haloban Pulau Banyak di Singkil, Sikundo, Pantai Cermin Aceh Barat, dan Blang Pandak, Tangse Pidie, selama manusia dari kota berjalan ke situ, secara ilmu kesehatan publik, virus itu akan juga sampai ke sana. (Tamat)

Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.