Manusia Kepiting

Ilustrasi The Manila Times

Oleh Ahmad Mirza Safwandy*

Pada fase tertentu manusia hidup seperti mesin, ia dikendalikan tanpa mengikutsertakan pikiran dan enggan melibatkan perasaan.

Erich Fromm mencoba mendeskripsikan tentang keadaan dua puluh tahun lalu. Saya coba kaitkan sedikit agar berasa kontekstual dengan ulasan pendek ini.

Dia mengatakan, manusia berjuang dengan keras demi kebebasan dan kebahagiaan, tetapi menurutnya hal itu justru awal dari sebuah periode di mana manusia berhenti menjadi manusia serta bertransformasi menjadi mesin yang tidak berpikir dan tidak merasa.

Maka muncul pertanyaan oleh kita, apa yang tersisa dari kita sebagai manusia seandainya perubahan yang dikatakan oleh penulis buku The Revolution of Hope itu benar terjadi. Ketika manusia tidak lagi berpikir dan merasa, maka sesungguhnya ia telah punah. Ia memang hidup–tetapi mati dalam mengisi kebebasan sebagai hak dasarnya. Ia tak mampu lagi mengendalikan diri saat dihadapkan pada persoalan yang membutuhkan rasa sebagai seni dalam menyelesaikan masalah.

Maka, manusia punya sejuta dalih saat pandangan tak lagi di lajur yang sama. Coba lihat kehidupan di alam politik atau dalam kehidupan sehari-hari saja, keinginan untuk merebut atau mempertahankan sebuah pengaruh cenderung menggunakan langkah pragmatisme, sekalipun belum sampai dilekatkan dengan ajaran machiavellianism, walau masih ada yang tersisa dari politik yang sehat dan tindakan politik itu masih renyah untuk didiskusikan.

Namun, tiap-tiap ambisi tidak lagi selinear dengan idealisme, katakan pernah dimiliki pada masa lalu. Kini bukan lagi menjadi aib, bahwa rasa hormat yang mendalam pada akal dan pikiran telah raib ditelan kepentingan sesaat.

**

Di lain sisi, kehendak untuk menempatkan manusia-manusia yang terampil dan berkompeten masih menyisakan ruang, kalau belum layak disebut harapan untuk mewujudkan meritokrasi. Tanda ingin menjadi lebih baik belum sepenuhnya menjadi sirna.

Ancaman terhadap perubahan tentu saja ada, untuk menembus ke dalam situasi yang ideal memang tidak mudah. Selama keberpihakan atas nama kampung halaman masih terlihat subur, menjadi bukti bahwa primordialisme masih juara. Bagaimana jika ada yang berkata tentang hal yang menghantui birokrat, politisi, pengusaha, dan akademisi–adanya sikap yang tumbuh dalam menilai saling suka dan tidak suka karena menjadi bagian dari “rezim” yang telah purna. Sebab itulah yang mengancam orang-orang yang berkompeten, tetapi terjebak dengan politik rezim.

Lakab politek seperti, “nyan ureung pulan“, “nyan ureung pulen“, atau lantas esok akan ada streotip lain lagi seperti menjadi tabiat baru dalam pergaulan sosial.

Kedengkian, perilaku côt gateh (menjegal) semakin watak dan terus menerus teregenerasi secara alamiah. Sikap seperti itu mengingatkan saya dengan tabiat kepiting dan kelompoknya. Perhatikan kepiting, bila ada satu dari kawanannya yang nyaris mencapai puncak kala mendaki sebuah ember, yang lainnya akan berusaha menjegal. Apakah cara tersebut wujud pelampiasan sikap untuk merawat kesetiaan? Jikapun harus mati, maka pilihannya mati bersama, kita tidak tahu apakah kawanan kepiting itu terideologi dengan adagium hudep beusaree matee beusajan?

***

Sikap ku’eh (culas) yang menimbulkan perasaan iri melihat kesuksesan orang lain atau dalam istilah psikologi disebut Crab Mentality. Kisah kepiting yang tidak rela jika di antara anggota kelompok yang mencoba untuk survive. Banyak manusia merasa iri dan dengki atas keunggulan manusia lain, sulit menerima kelebihan orang lain, tidak move on dengan masa lalu dan parahnya senang dengan kehancuran orang lain.

Bila kita dijepit oleh lingkungan yang seperti itu–apa yang dapat dilakukan? Kita tidak boleh menyerah pada keadaan yang seperti itu, nasihat John Robert Wooden ada benarnya, mantan pelatih kepala di Universitas California Los Angeles (UCLA) pernah berujar, “Jangan biarkan apa yang tidak dapat Anda lakukan mengganggu apa yang bisa Anda lakukan”.

Kita tidak boleh surut dalam menghadapi penyebab permasalahan tersebut, juga tanpa perlu berlebihan dalam menanggapi kawanan penjegal itu. Kewajiban kita adalah melakukan apa yang dapat kita lakukan. Hajat yang hendak kita tunaikan tidak boleh takluk hanya karena harapan pembenci yang setia mengganggu terhadap apa yang bisa kita lakukan.

***

Muncul lagi pertanyaan lain. Mengapa perasaan dendam bisa muncul, masih saja ada orang-orang yang menata dendam dalam hati, hanya karena masa lalu. Misalnya, dia yang tidak berada dalam barisan pendukung harus ditumpas kesempatannya pada masa depan, itu sekelumit kecil penampakan dendam sebagai penghukuman atas perbedaan jauh sebelum hari ini, balasan yang ingin dia setarakan di kemudian hari. Ia menunggu momen untuk membalasnya.

Intelektual, baik organik maupun non-organik sama saja kalau dilanda dendam. Amarah dendam telah memicu manusia berbuat egois, memadamkan pikiran keadilan. Akibatnya, pikiran demokratis dan perubahan yang menjadi isi ceramah dalam berbagai forum tidak lagi berguna.

Seharusnya, di saat keringnya intelektual yang layak dihormati, kita butuh kesadaran saling memaafkan. Setiap kebaikan akan menguap menjadi kebaikan, seperti kuasa angin yang tulus menyeret awan hujan di tengah-tengah kemaraunya kemajuan, kebaikan digerakkan bukan hanya karena perintah tetapi juga karena keikhlasan.

Kita sering mendengar bahwa ketidakcukupan terhadap materi, gilanya penghormatan adalah akibat ia belum selesai dengan diri sendiri. Ia terlalu lama berperang dengan diri sendiri dan selalu kalah tanpa perlawanan.

Seorang psikoterapis dan penulis yang bernama Sheldon Kopp percaya, semua peperangan yang besar berlangsung di dalam diri kita sendiri, ketika kita memeriksa diri, kita akan menemukan pertempuran apa yang sedang berlangsung.

Sebelum menutup tulisan ini, saya mengutip apa yang pernah di tulis oleh John C. Maxwell. Dia memberikan pilihan untuk menyelesaikan problem itu dengan berhenti menyalahkan orang lain, melihat ke dalam diri sendiri, dan berusaha keras menyelesaikan hal-hal yang menjadi penyebab timbulnya masalah bagi kita.

“Jika Anda ingin memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain, berhentilah sejenak, berkacalah di depan cermin, dan mulailah membereskan diri Anda sendiri,” katanya dalam The Maxwell Daily Reader.

Penulis adalah Founder Media aceHTrend

Editor : Ihan Nurdin