Lhob Mate Corona (22): Matematika, Tajul Muluk & Pandemi

Ahmad Humam Hamid. [Ist]

Oleh Prof Ahmad Humam Hamid*

Siapa tidak kenal Boris Johnson dan reputasinya? Mantan wartawan The Times, The Daily Telegraph, redaksi Spectator, anggota parlemen Partai Konservatif, Menlu Inggris Raya, dan kini menjadi Perdana Menteri. Ia adalah sosok kontroversial. Semenjak muda dan jadi wartawan ia adalah individu keras anti Uni Eropa, dan itu diwujudkannya dalam tulisan, dan kegiatan politik selama puluhan tahun, dan akhirnya dia sendiri yang mengeluarkan Inggris Raya dari Uni Eropa. Bermacam predikat baik dan buruk disandangnya, homophobia, jago debat, keras kepala, rasis, dan seperti biasa, penyakit politisi, tidak punya rasa malu.

Betapapun canggih, hebat, dan keras kepalanya Boris Johnson, akhirnya ia harus menyerah dengan matematika. Pasalnya, kebijakan awal Covid-19 yang diambilnya diprediksi akan membawa korban rakyat Inggris sekitar 510.000 kematian. Kalau dia tidak melanjutkan kebijakan itu ia akan menghindari tragedi kematian sebesar itu, dan mungkin akan menyelamatkan banyak lagi nyawa rakyat Inggris Raya. Apa yang membuat dia mengubah keputusannya? Hanya ada tiga alasan kuat; pertama, matematika, yang kedua matematika, dan yang ketiga? juga matematika.

Adalah Profesor Neil Ferguson, matematikawan epidemologis dari salah satu kampus terhebat di dunia, The Imperial College London, yang bekerja keras dengan timnya untuk melihat arah perkembangan pandemi Covid-19 dengan menggunakan model matematika, dengan memberi perhatian khusus kepada Inggris dan Amerika Serikat. Sama halnya dengan pandemi,penggunaan model matematika dalam berbagai sektor kehidupan adalah sesuatu yang lazim dilakukan, baik dalam dunia usaha, risiko bencana, persaingan, berbagai perencanaan, dan bahkan dalam perang sekalipun.

Neil Ferguson sebenarnnya sangat geram melihat cara Boris Johnson menangani pandemi Covid-19 di Inggris. Kebalikan dari pendekatan Johnson yang cenderung menerapkan relaksasi manajemen pandemi dengan tujuan akhir akan tercapainya ‘kekebalan kelompok”, Ferguson dari awal sangat cenderung dengan pengetatan gerak masyarakat, terutama dengan metode karantina.

Dengan menggunakan model matematika yang cukup kompleks, Ferguson memprediksikan seandainya Johnson tetap “keras kepala” dengan pendekatan relaksasinya, tidak kurang dari 510.000 rakyat Inggris akan tewas akibat Covid-19. Prediksi itu tentu saja membuat pemerintah Johnson kalang kabut dan panik, karena prediksi itu dibuat oleh sebuah tim yang sangat canggih dan diketuai oleh seorang ilmuwan ternama, dari lembaga pendidikan terhebat pula.

Akhirnya keyakinan Johnson terhadap kekebalan alami pudar dan Inggris kemudian menerapkan kebijakan ketat, mulai dari karantina wilayah sampai dengan penerapan lhob mate–lockdown . Karena memang Johnson adalah “kembarannya” Trump di Eropa, bocoran temuan model Ferguson juga sampai ke Gedung Putih AS. Prediksi kematian AS tidak tanggung-tanggung, terutama jika Trump masih tetap bersikeras dengan kebijakan “remeh temeh” terhadap Covid-19.AS akan mengalami 2.2 juta kematian. Trump kemudian mengbah kebijakannya dan membiarkan negara bagian mengambil kebijakan tersediri untuk pembatasan sosial.

Jawaban terhadap kenapa Johnson berubah sikap dari sebelumnya sangat sederhana. Matematika pertama adalah kalau dia jalan terus dengan idenya, maka korban rakyat Inggris kemungkinan besar akan bergelimpangan. Matematika kedua adalah jika tragedi kematian itu terjadi, akan terjadi “bala” politik besar kepada rezim yang dipimpinnya. Secara politik Johnson akan mempunyai dua musuh sekaligus dan akan menjadi “trauma” karir politiknya seumur hidup. Kedua musuh itu adalah pandemi Covid-19 dan juga rakyat Inggris Raya. Dia akan dibenci, dihujat, dan disumpah serapahi oleh masyarakatnya.

Matematika ketiga adalah soal legacy dan sejarah. Kalau tragedi kematian 510,000 itu terjadi maka sejarah Inggris akan mencatat sampai kiamat, akibat salah urus Johnson, padahal sudah ada peringatan ilmiah sebelumnya. Kalau itu terjadi Johnson hanya dikalahkan oleh Churchill karena kebijakan kerasnya dalam perang Dunia ke II yang menyebabkan kematian antara 2-3 juta rakyat India di Benggala Barat pada tahun 1943. Churchill membiarkan kelaparan dan penyakit merajalela di kawasan itu. Tetap saja dia lebih buruk dari Churchill, karena 2-3 juta itu bukan rakyat Inggris, tetapi negara jajahan, dan yang kedua, situasi Perang Dunia ke II membuat Churchill harus lebih fokus pada perang dibandingkan rakyat negara jajahan.

Model yang dikemukakan oleh Ferguson dan kawan-kawannya banyak sekali mendapat reaksi keras dari berbagai kalangan, terutama dari kalangan akademik, baik di Inggris, Eropa, dan Amerika Serikat. Ferguson dan timnya dituduh oleh sebagian ilmuwan telah melemparkan “statistik kepanikan”, karena tidak hanya AS dan Inggris saja yang percaya dengan model yang diajukan, Perancis dan Jerman juga ikut menerapkannya. Lebih dari itu kini dia bahkan dihujat, seandainya terjadi resesi besar ekonomi- sedang terjadi sesungguhnya, maka pihak yang paling bertanggung jawab adalah Neil Ferguson beserta timya dari Imperial College London.

Dan seperti biasa, debat ilmiah untuk kasus seperti penyakit influenza ”model baru”Covid-19 ini tidak akan pernah selesai. Namun, satu hal yang harus diingat bahwa pembuatan model telah memudahkan Johnson, sebagai pemegang dan pelaksana tangung jawab publik untuk menangani pandemi. Imaginasi dan gambaran keadaan pandemi beserta keterkaitannya dengan berbagai hal lain yang telah, sedang, dan akan terjadi yang diformulasikan secara matematis akan dapat dijadikan panduan kerja selanjutnya.

Apa yang dimaksud dengan model matematika dalam kaitannya dengan pandemi Covid-19? Model sesungguhnya tidak lain dari sebuah simulasi yang didasari kepada sebuah rumus matematika berikut dengan data yang memungkin dibuat sebuah prediksi tentang kemungkinan kejadian di masa depan dari sebuah pandemi, dalam hal ini Covid -19.

Secara sangat sederhana model ini berfungsi untuk menggambarkan kemungkinan perkembangan pandemi, kemungkinan jumlah penderita, dan akhirnya kemungkinan jumlah orang yang meninggal. Ini artinya, model akan memberikan arahan kepada pembuat kebijakan untuk mengambil langkah-langkah yang tepat. Apa yang mesti dikerjakan, apa yang tidak perlu dikerjakan. Bagaimana ketika harus memilih antara sejumlah alternatif, dan cukup banyak item yang akan didapatkan dari model yang akan membahani rekomendasi intervensi. Lebih dari itu model juga akan membantu memberikan gambaran kurva perjalanan pandemi, sehingga ketika masa puncak tiba, pemegang mandat kebijakan publik akan tahu kapan dan apa yang harus dikerjakan.

Kultur “modeling” dalam masyarakat Aceh sebenarnya dapat dijelaskan dengan “pernujuman”: kitab Tajul Muluk yang sampai hari ini masih dipakai oleh beberapa kalangan “terbatas” di Aceh dalam membaca masa depan. Beda Tajul Muluk dengan modeling matematika tidak banyak. Ramalan Tajul Muluk seringkali tidak boleh diikuti dengan banyak pertanyaan seperti “kenapa”, “jika”, dan “bagaimana kalau” dan “seandainya” . Sebaliknya modeling matematika memberi peluang kepada berbagai tanya jawab dan penjelasan dari sang pembuat model, dan sesuai dengan namanya “ matematika”, pasti secara relatif.

Konon kabarnya, di kalangan “terbatas” pengguna pernujuman Tajul Muluk, terdapat beberapa politisi tangguh dan sejumlah pejabat publik di berbagai tingkatan pemerintahan di Aceh. Tentu saja ini wilayah pribadi, akan tetapi dalam zaman kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti saat ini, kecintaan kita kepada “warisan” nenek moyang tidak harus mengalahkan realitas di hadapan kita yang memang hanya dapat dijelaskan dan diselesaikan dengan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan. Apalagi untuk persoalan besar seperti Covid-19 ini.

Kalaulah benar sejumlah berita media yang berkembang selama ini, sejumlah propinsi dengan secara sangat terbuka menyatakan memiliki model pandemi yang pada umumnya merupakan hasil kerjasama dengan pihak Perguruan Tinggi di propinsi masing-masing. Model-model yang telah diperkenalkan masih banyak kelemahannya, terutama, karena secara umum Indonesia tidak sangat “mengalakkan” tes Covid-19 secara intensif pada tahap-tahap awal. Akibatnya telah terjadi kesalahan yang sangat signifikan dalam konteks data pandemi, dan hal ini membuat ketepatan prediksi menjadi kacau balau.

Kelemahan model-model prediksi yang dikerjakan di berbagai propinsi itu sama sekali tidak melemahkan kepercayaan pimpinan daerahnya untuk terus menerus mengajak para ilmuwan untuk memperbaiki dan merevisi model prediksi itu sehingga dapat dijadikan panduan dalam manajemen pandemi. Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur adalah propinsi-propinsi yang sangat “getol” dengan penggunaan model. Gubernur Anies di DKI memang dari awalnya sudah memproklamirkan dirinya sebagai pejabat yang menerapkan policy follows science – kebijakan publik yang mengikuti arahan ilmu pengetahuan.

Kita tidak tahu, atau mungkin belum diberi tahu, basis apa yang digunakan oleh Pemerintah Aceh dalam menangani Covid-19. Tentu saja sebagai daerah yang pernah menjadi juara dalam menangani Corona tahap awal, Aceh mestinya punya sebuah “rancang bangun” manajemen Covid-19 yang didasari kepada prinsip-prinsip epidemologi dan kesehatan publik yang paling anyar, Jika “rancang bangun” itu memang ada, tidak salah untuk disebarluaskan kepada publik dan pihak-pihak terkait sehingga berbagai lembaga dan publik secara luas tahu apa yang mesti dikerjakan.

Kalau seandainya belum ada, atau sudah ada akan tetapi belum sempurna, tidak salah jika berbagai perguruan tinggi yang ada di Aceh diajak untuk ikut serta memberi perhatian serius untuk menangani pandemi terburuk awal abad ke 21. Unsyiah dan Unimal adalah dua Universitas negeri yang memiliki fakultas kedokteran dan MIPA. Universitas Muhammadiyah Aceh juga memiliki Fakultas Kesehatan Masyarakat yang tangguh.

Lembaga-lembaga pendidikan itu memiliki tenaga akademik yang mampu berpikir dan bertindak lokal, akan tetapi mempunyai wawasan mondial yang mumpuni. Mereka umumnya lulusan terbaik Universitas di berbagai pusat ilmu pengetahuan internasional, dan karya ilmiah mereka dipublikasikan dalam berbagai majalah ilmiah global bergengsi.

Sikap yang dipilih oleh Boris Johnson dalam menangani Covid-19 seharusnya menginspirasi pimpinan Aceh saat ini, karena penggunaan model matematika dan turunannya dalam penanganan pandemi ini akan berimplikasi sangat signifikan. Tiga alasan “matematika” Boris Johnson seharusnya cukup menjadi inspirasi kenapa sebuah model epidemologi diperlukan di Aceh saat ini.

Penulis adalah Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.