Gulee Pliek Cue ala Mak Ati di Kaki Gunung Lhoong

@Zahid Farhan bin Zulfikar

Oleh Zahid Farhan Bin Zulfikar*

Mak Ati, putri kelahiran Lhoong, Aceh Besar ini sukses mempopulerkan gulee pliek kuah cue, makanan Kesultanan Aceh pada masanya. Rumah Makan Mak Ati kini menjadi lokasi tujuan para penikmat gulee pliek kuah cue di seputaran Aceh Besar-Banda Aceh. Gulee pliek cue adalah makanan leluhur yang sudah ada sejak zaman kesultanan dahulu. Kuah pliek cue dipercaya merupakan hidangan raja-raja di Aceh. Gulai dengan campuran sayur-mayur ditambah dengan pliek u atau yang biasa disebut patarana ini diolah dengan menambahkan cue–sejenis sipuy (black faunus ater colour).

Kini, semua masyarakat bisa mencicipi makanan mewah dengan rasa yang gurih dan nikmat berkat seorang putri kelahiran Lhoong, Aceh Besar. Dialah Nurhayati (44), putri asli Aceh Besar yang mempopulerkan gulee pliek cue menjadi primadona di tanah Aceh.

Sejak berumur 13 tahun, Nurhayati atau yang biasa disebut Mak Ati ini sudah mulai belajar memasak. Lahir dari keluarga yang kurang mampu membuatnya harus menjadi sosok yang mandiri. Ia hanya menyelesaikan pendidikan sekolah dasar dan setelah itu ia sempat bekerja di sebuah rumah makan di Pasar Aceh pada tahun 1989-an, namun ternyata inilah takdir yang diberikan Allah kepadanya.

Setelah Aceh diguncang musibah besar tsunami pada 2004 lalu, semua masyarakat kembali membangun dan membuka lembaran baru. Dengan berbekal kemampuan memasak yang dimiliki, Mak Ati mencoba membuka jalan hidup sebagai pedagang kaki lima dengan berjualan nasi. Hanya bermodalkan rak kecil, ternyata masakannya dengan cepat bisa diterima masyarakat. Para volunteer yang ketika itu masih lalu lalang menjadi penikmat masakannya. Lama kelamaan, dengan memberanikan diri, Mak Ati mula-mula menyewa toko kecil untuk tepat usahanya. Berselang satu tahun, Mak Ati bisa membuka sendiri warung masakan buatannya.

“Berselang satu tahun, kami sudah bisa membuka yang kini berada di kaki Gunung Kulu, Lhoong, Aceh besar,” ucap wanita paruh baya itu yang juga akrab disapa Bunda Ati kepada penulis beberapa waktu lalu.

Gule pliek kuah cue @cookpad

Di rumah makannya yang sederhana itu, menu gulee pliek cue hanya ada ketika hari Jumat saja, namun karena semakin banyak penikmat gulee pliek cue yang ingin menikmatinya setiap hari. Akhirnya, Mak Ati pun menyediakan gulee pliek cue setiap hari. Kini, papan nama ‘Gulee Pliek Tersedia Kuah Cue’ terpampang di warung yang bersebelahan langsung dengan jalan utama Meulaboh-Banda Aceh. Banyak para pengendara lintas barat yang singgah hanya untuk sekadar memenuhi keinginan mencicipi gulee pliek kuah cue. Awalnya nama tersebut sempat menjadi cemoohan dari para pengendara yang lewat ataupun pengunjung yang datang, sebab nama tersebut dianggap kuno dan ketinggalan zaman.

“Awalnya kita sempat dicemooh karena nama rumah makan yang kuno, gulee pliek gitu, jadi seperti dianggap remeh dengan nama itu,” ujarnya.

Ibarat pepatah, ‘hasil tidak pernah mengkhianati usaha’ itulah yang dirasakan Mak Ati. Menjadi satu-satunya rumah makan gulee pliek dengan menu andalan kuah cue membuat warung Mak Ati menjadi satu-satunya tujuan para penikmat kuah cue.

Saban hari, pengunjung dari lokasi sekitaran kaki Kulu, pengendara yang melintas maupun para penggemar kantorannya yang sengaja datang dari Banda Aceh untuk mencicipi gulee pliek miliknya, bahkan menjadi salah satu kuliner bagi turis-turis bule yang datang ke Aceh. Tak ayal, awal 2015 banyak stasiun televisi nasional seperti Kompas TV, Net TV, ANTV dan Trans TV berdatangan untuk menyiarkan masakannya yang digemari banyak orang. Warung makan Kuah Cue Mak Ati semakin familier di telinga banyak orang.

Akhir 2017 rumah makan Mak Ati renovasi, berharap agar pengunjung semakin nyaman dan tenang untuk singgah dan makan di warungnya. Warung dua lantai yang dibangun dengan bahan dasar kayu, ditambah dengan lokasinya dihiasi pepohonan kelapa di kiri dan kanan. Pemandangan hutan hijau tepat berseberangan dengan rumah makannya serta angin sepoi-sepoi yang datang dari lereng-lereng dan sela-sela dedaunan turut menciptakan suasana nyaman. Namun, bak kata semakin tinggi suatu pohon maka semakin kuat pula angin yang meniupnya. Sempat berhenti beroperasi saat renovasi, ternyata warung Mak Ati mengalami penurunan pelanggan yang drastis.

“Padahal seharusnya rumah makan yang lebih bagus justru bisa semakin memikat pengunjung,” cerita Mak Ati.

Pengunjung mengira rumah makan yang sedang direnovasi tersebut adalah rumah makan yang baru, sehingga mereka enggan dan masih ragu untuk singgah di warung Mak Ati yang kini sudah lebih besar dan tertata dengan sebuah kolam di tengahnya. Meski demikian, urusan rezeki adalah milik Allah. Mak Ati tetap berusaha dan berdoa agar rumah makan miliknya tetap berjalan seperti biasa. Sebab, di sinilah ia dan keluarganya menggantungkan asa.

“Di sisi lain kita juga selalu ingin memperkenalkan masakan Aceh yang nikmat ini, agar bisa dirasakan oleh banyak orang bahkan hingga ke mancanegara. Menu di warung makan ini banyak dan bervariasi, harganya mulai dari 10 ribu hingga 250 ribu tergantung porsi dan ukurannya lauk,” katanya.

Hingga masa pandemi seperti sekarang, Mak Ati masih menyajikan hidangan kepada para penikmat gulee pliek kuah cue. Baginya, usaha dan ikhtiar merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan, ia tak pernah merasa kekurangan dalam keadaan apa pun, sebab ia tahu bahwa ia adalah hamba dari Zat Yang Mahakaya.[]

Alumni Universitas Islam Sulthan Sharif Ali Brunei Darussalam

Editor : Ihan Nurdin