Menelesuri Keperawanan Lhok Gôp: Negeri Aulia sebagai Destinasi Wisata (1)

Keindahan sungai di Lhok Gop, Kec Bandar Dua, Pidie Jaya @teropongaceh.

Oleh Helmi Abu Bakar El-Langkawi*

Pidie Jaya merupakan salah satu kabupaten hasil pemekaran dari saudara kandungnya Pidie. Kabupaten Pidie Jaya ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2007 pada 2 Januari 2007. Kabupaten Pidie Jaya adalah satu dari 16 usulan pemekaran kabupaten/kota yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat pada tanggal 8 Desember 2006.

Kini Pidie Jaya dengan ibu kota Meureudu telah berdiri sepuluh tahun lebih. Dikutip dari laman pidiejayakab.go.id disebutkan bahwa Meureudu yang juga pernah dicalonkan sebagai ibu kota Kerajaan Aceh, tetapi konspirasi politik kerajaan menggagalkannya. Sampai kerajaan Aceh runtuh, Meureudu masih sebuah negeri bebas. Negeri Meureudu sudah terbentuk dan diakui sejak zaman Kerajaan Aceh. Ketika Sultan Iskandar Muda berkuasa (1607-1636) Meureudu semakin diistimewakan.

Menjadi daerah bebas dari aturan kerajaan, hanya satu kewajiban Meureudu saat itu, menyediakan persediaan logistik (beras) untuk kebutuhan Kerajaan Aceh. Dalam perjalanan tugas Iskandar Muda ke daerah Semenanjung Melayu (kini Malaysia) tahun 1613, singgah di Negeri Meureudu, menjumpai Tgk Muhammad Jalaluddin, yang terkenal dengan sebutan Tgk Ja Madainah. Dalam percaturan politik Kerajaan Aceh negeri Meureudu juga memegang peranan penting.

Hal itu sebagaimana tersebut dalam Qanun Al-Asyi atau Adat Meukuta Alam, yang merupakan undang-undangnya Kerajaan Aceh. Saat Aceh dikuasai Belanda, dan Masjid Indra Puri direbut, dokumen undang-undang kerajaan itu jatuh ke tangan Belanda. Oleh K F van Hangen, dokumen itu kemudian diterbitkan dalam salah satu majalah yang terbit di negeri Belanda.

Salah satu daerah di Pidie Jaya yang terkenal banyak melahirkan ulama, tokoh, intelektual, dan beragam pemuka lainnya dikenal dengan sebutan Ulee Glee yang merupakan ibu kota dari Bandar Dua, bahkan kini wilayah tersebut telah dimekarkan lagi menjadi Kecamatan Jangka Buya.

Ulee Glee bukan hanya memiliki beragam kelebihan, melainkan juga memiliki panorama alam sebagai destinasi wisata yang menjadi magnet tersendiri. Salah satunya Lhok Gop. Kawasan destinasi religi itu menyimpan banyak misteri mulai dari sosok “penghuni”nya hingga beragam fenomena lainnya.

Destinasi wisata Lhok Gop bernuansa mistis, benarkah?

Mentari yang menampakkan dirinya dari ufuk timur semakin menonjolkan identitasnya dengan cahaya yang masih segar, hawa segar dan pemandangan masih asri nan perawannya alam dengan tumbuhan dan aliran air menghiasi wajah daerah pedalaman, bahkan bola panas yang menyinari bumi ini juga sangat bersahabat di negeri Bandar Dua, Pidie Jaya.

Daerah pedalaman Ulee Glee, Bandar Dua, masih kental dengan alam yang perawan dan tidak banyak pergeseran dan perusakan alam dan tatanan masyarakat dengan majunya dunia saat ini sudah menggapai era milenium saat ini. Keperawanan negeri itu tentu saja auranya juga memberikan efek terhadap masyarakat sekitar. Bahkan wajah ayu nan cantik “bidadari” juga masih terlihat di panteu rumah yang sudah permanen dengan wajah berseri dan menyimpan malu dalam senyumannya tersunggingnya.

Perjalanan sekitar 10 kilometer lebih dari Jalan Banda Aceh-Medan untuk menelesuri salah salah satu tempat destinasi wisata bernama Lhok Ghop memang sangat dinikmati, terlebih nawaitu refreshing dan menziarahi para “waliyullah”. Dalam syariat Islam kita pun tidak dilarang untuk refreshing bahkan dianjurkan untuk memberi aura jadid.

Kawasan Lhok Gop merupakan tempat “makhluk khusus” beribadah dan bermunajah kepada Sang Pencipta alam ini. Masyarakat Ulee Glee, Pidie Jaya saat turun ke sawah mereka menjadikan negeri Lhok Ghop tempat washilah dan bermunajat mendoakan kebaikan dan perbaikan juga disertai dengan kenduri bersama. Lhok Ghop merupakan daerah pintu aliran air yang dipenuhi bebatuan yang besar aliran air Batee Iliek juga punya hubungan dengan Lhok Ghop.

Berdasarkan penuturan masyarakat setempat saat penulis mencoba menelusi misteri Lhok Gop menyebutkan, dulunya salah seorang orang saleh atau dalam bahasa lainnya waliyullah yang telah lama hilang dalam kehidupan kasat mata masyarakat pedalaman mereka menyebutnya Syekh Ibrahim. Sang Syekh rutin beribadah di tempat sunyi dan lebih senang beruzlah di sekitar kawasan Lhok Ghop, pernah suatu hari saat ada kenduri di tempat keluarga almarhum Abu Uteun Bayu, terlihat sang Syekh Ibrahim bertemu dan berbincang dengan penuh “kemesraan”. Warga sekitar yang mempunyai ikatan saudara dengan sang “Waliyullah” itu mencoba untuk bertemu dengan beliau, tiba-tiba hilang jejak dalam pandangan kasat mata para warga setempat.

Memang kawasan Ulee Glee, Samalanga dan Jeunieb masih banyak makhluk asing itu mendoakan dan bermunajah untuk kita, bahkan mereka terkadang kesehariannya dengan pakaian dan penampilan aneh juga mengitari tempat orang banyak atau pasar dan sejenisnya. Manusia terpilih atau dalam bahasa lain orang saleh dan lebih khasnya “waliyullah” mereka merupakan sebagai paku negeri ini. Mereka itu mempunyai tugas dan wilayah tersendiri dengan tingkat dan hierarki yang berjenjang.

Di seberang aliran sungai Lhok Gop juga terdapat sebuah batu besar pipih yang lebar dan datar. Ukurannya sekitar sepuluh kali sepuluh meter. Batu itu sering digunakan penduduk sebagai tempat untuk salat berjamaah saat kenduri digelar. Batu besar yang datar itu sering disebut sebagai bate tika meuadee yakni batu tikar tempat menjemur atau batu tikat terhampar.

Lhok Gop juga kaya dengan flora dan fauna, di pinggir sungai, di antara rimbunan pepohonan, kita bisa melihat kupu-kupu beterbangan, hinggap di dahan dan bunga-bunga yang mekar di ranting pohon. Di relung-relung sungai juga hidup beragam ikan air tawar, beberapa tempat di sepanjang aliran sungai Krueng Lhok Gop sering dijadikan tempat memancing ikan oleh masyarakat sekitar. Kawasan Lhok Gop sejak dulu memang sudah memiliki peradaban. Di sana terdapat makan seorang ulama sufi, Teungku Tu Dilhok Gop, pusaranya berada di tengah hutan, sekitar 200 meter dari Krueng Lhok Gop. Sisa-sisa peradaban di Krueng Lhok Gop–sebagaimana dikutip dari tulisan Iskandar Norman–juga bisa dilihat dari sebuah balai tua peninggalan masa lalu, yang diyakini sebagai balai tempat Teungku Tu Di Lhok Gop menggelar pengajian untuk warga sekitar dahulunya.

Keindahan alam yang yang masih perawan memberikan sugesti dan insprirasi tersendiri. Terlebih kita mengajak diri kita untuk bertafakur yang dalam bahasa tarekat Naqsyabandiah dikenal dengan muraqabah, pasti bertamasya ke negeri Lhok Gop bukan hanya kenikmatan ragawi yang bisa didapat, menelusuri diri dalam muraqabah akan menemukan pelajaran baru dan keinsafan betapa berdosa baik diri sendiri, Allah dan orang lain bahkan dengan alam sekitar. Muraqabah (tafakur) ini sangat bermakna terlebih di wilayah waliyullah.

Berdestinasi ke negeri Lhok Gop akan mendapatkan “dua pahala” refreshing dan ibadah tafakur. Sudahkan Anda melangkahkan kaki ke negeri Lhok Gop?[]

Penulis adalah guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan pencinta keindahan alam

Editor: Ihan Nurdin