Solidaritas dan Tantangan Pandemi Global

Arifa Diana

Oleh Siti Arifa Diana*

Pandemi Covid-19 menciptakan sederet tantangan global untuk melewati problem tata kelola luar biasa di setiap negara. Lalu siapa yang bertanggung jawab untuk mengalokasikan sumber daya di tengah krisis moneter dunia? siapa yang dapat meminimalisir angka yang terus signifikan akan penyebaran virus? Apa tanggung jawab utama para elite politik serta bagaimana pemimpin negeri dapat mengatur keseimbangan dan kepentingan rakyat di segala aspek sosial. Apa kewajiban yang dimiliki warga negara? dan otoritas kita sebagai kaum sipil memandang satu sama lain?

Di tengah semrawutnya tatanan dunia menghadapi krisis global. Khususnya apa yang tengah negeri ini hadapi untuk mengoptimalisasi perbaikan-perbaikan yang ada di berbagai aspek dan kebutuhan rakyat dalam pandemi ini. Mencuat kembali lembaran kasus kemanusian etnis Rohingya yang menjadi tanggung jawab dan beban universal, terutama Masyarakat ASEAN.

Ketika para pemimpin ASEAN menyepakati strategi repatriasi dan upaya menanggulangi fenomena “people boat” atau manusia perahu guna menghindari perjalanan berbahaya menyangkut keselamatan jiwa para etnis Rohingya yang terombang-ambing di lautan. Namun, kesepakatan tersebut masih perlu dipertimbangkan melihat diduga masih adanya kecemasan psikologis dan tidak adanya jaminan bagi para etnis Rohingnya survive di tempat tinggal mereka, justru malah mengalami persekusi dan status kewarganegaraan yang tidak diakui oleh penduduk Myanmar. Alih-alih direpatriasi, banyak pengungsi Rohingya pula justru menjadi korban penggelapan dan perdagangan manusia saat berupaya mencari penghidupan yang lebih baik ke negara-negara lain, melalui jalur laut (BBC News Indonesia).

Pada Kamis (25/06), sebanyak 94 pengungsi etnis Rohingya yang terdampar di pesisir Aceh, mendapat pertolongan langsung dari warga lokal di Desa Lancok, Aceh Utara. Alasan kemanusiaan dan persaudaraan menjadi salah pertimbangan warga untuk bersedia menurunkan para pengungsi ke desa. Walaupun di saat bersamaan tengah adanya imbauan akan prokol kesehatan dari pemerintah. Ada hal yang menarik dapat kita perhatikan di sini, menjawab  poin pertanyaan tentang apa kewajiban dan bagaimana otoritas kita sebagai kaum sipil memandang satu sama lain? Sekilas berbicara tentang sisi kemanusiaan, justru solidaritas adalah kewajiban itu sendiri. Peran masyarakat sipil bertindak dan peduli dengan tulus terhadap satu sama lain, terutama peduli pada mereka yang memiliki sumber daya dan kekuatan politik yang terbatas.

Dalam sepekan saja pemberitaan viral di media sosial, aksi pergerakan para relawan dalam negeri, khususnya di Aceh semakin meningkat. Tak terbendung pada angka perlonjakan Covid-19 di Aceh, strategi kemanusiaan tetap dilakukan demi kepentingan sesama, baik dari pemda setempat maupun masyarakat sipil. Seperti yang diketahui pengsungsi etnis Rohingya yang terdampar di Aceh juga telah menjalani “rapid test” dan hasilnya dinyatakan negatif. Namun disituasi pandemi ini, tidak cukup mengandalkan pantauan dan bantuan medis, logistik yang terbatas, akan tetapi keberlanjutan hidup bagi para pengungsi etnis Rohingya ke depannya. Juga melihat kasus ini sebagai permasalahan hak asasi manusia yang belum tuntas.

Di sisi lain isu solidaritas di tengah pandemi saat ini memang menjadi salah satu problem dunia, di tengah gencarnya para aktivis mengeluarkan jargon-jargon promosi kebaikan terhadap sesama. Masih banyak distorsi tentang realitas ini, terutama di belahan negara Eropa. Terutama bagaimana Covid-19 sendiri menghancurkan solidaritas dengan para imigran. Penyebaran Covid-19 mendorong pemerintah di beberapa negara untuk bertindak dengan urgensi dan menentukan strategi untuk mengendalikan pergerakan orang dalam konteks global. Kemudian mencuat realitas tentang adanya isu Xenophophia dan Rasisme terhadap masyarakat Asia atau beberapa ras kulit hitam yang ada di Eropa, dan bagaimana diskriminasi hadir di tengah krisis pandemi. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, ini meningkatkan kemungkinan bahwa kaum minoritas tertentu dengan ras berbeda akan dikecualikan secara politik dan sosial, menghalangi mereka untuk mencari bantuan medis, mendorong isolasi dan stigmatisasi dan memperluas kesenjangan, ketimpangan sosial dan ekonomi secara keseluruhan. Dalam situasi ekstrim itu juga bisa memicu kekerasan dan kejahatan.

Menurut Filsuf Sosialisme Pierre Leroux, solidaritas diperlukan untuk kesejahteraan manusia. Bagi tokoh sosiolog, Karl Marx dan Friedrich Engels mengonseptualisasikan solidaritas sebagai ekspresi dari pengalaman bersama dan kebutuhan politik khusus kelas pekerja.

Sementara  dalam Islam sendiri solidaritas adalah setiap individu yang terikat dengan pilar ‘aqidah bathiniah antarsesama sehingga berjalan secara serasi dalam segala aspeknya dan serupa dalam segala pandangannya, bekerja sama dalam memikul tanggung jawab dan mengatasi segala beban kehidupan. Hal itu sebagai mana digambarkan oleh sabda Nabi saw: “Kaum Muslimin itu sama nilai darahnya, berusaha me­nanggung beban orang yang lebih rendah dan mereka menjadi perpanjangan tangan saudara mereka yang lainnya. Inti dari dari solidaritas adalah bahwa kita tidak perlu memiliki hubungan pribadi dengan orang-orang atas nama komitmen untuk kontribusi amal.

Tantangan Pandemi Global

Melihat isu solidaritas di atas, dalam konteks internasional ini berarti para pemimpin nasional harus memperhatikan kebutuhan warga negara di negara lain meskipun kewajiban utama mereka adalah menjaga keselamatan dan kesehatan warga negara mereka sendiri. Tanggung jawab utama negara adalah untuk menyediakan keamanan dan perlindungan bagi semua warga negara, melalui pertahanan nasional. Langkah-langkah kesehatan masyarakat untuk memerangi pandemi global jelas merupakan mandat bangsa dan merupakan kewajiban serius.

Dalam masa pandemi selanjutnya sebagian negara cenderung mengalami periode di mana kapasitas rumah sakit terbatas dan permintaan sumber daya medis untuk menangani perlonjakan pasien Covid-19 semakin meningkat. Pandemi ini perlu dipahami sebagai suatu integrasi antar negara untuk saling berbagi sumber daya yang akan meredam periode sulit ini.

Apa yang menjadi sinergisitas dalam menghadapi tantangan pandemi global adalah wujud integrasi global itu sendiri, para warga dunia yang melek, serta patuh terhadap protokol pandemi. Walaupun saat ini situasi “new normal” sedikit memberi ruang gerak tidak seperti dibandingkan bulan-bulan karantina sebelumnya. Namun ada banyak dari kita yang mengabaikan ajuran, dengan alasan berbeda-beda. Mungkin beberapa alasan, profesi  untuk pemenuhan ekonomi, ketiadaan jaring pengaman dari pemerintah, atau bahkan alasan yang tidak dapat dimaklumi dan kesengajaan yang mengundang resiko besar akan penyebaran virus.

Poin terakhir adalah perlu menyadari dan memerangi pandemi ini dengan segenap pengorbanan, upaya menebar kebaikan dari wujud ‘solidaritas’, serta mendorong Bangsa ini keluar dari dampak Pandemi yang lebih buruk.[]

Penulis mahasiswi asal Aceh yang sedang menjalani Studi Master Sociology di Selcuk University, Turki. Penikmat literasi dan dunia kuliner.

Editor : Ihan Nurdin