Anak Muda dan Paradigma Politik Kita

Muhajir Juli.

Oleh Muhajir Juli

Aceh mulai krisis figur. Setidaknya tiap lima tahun sekali –selama 10 tahun–kita bisa melihat bila partai politik selalu menawarkan sosok yang sama. Figur-figur yang ditampilkan kepada rakyat adalah mereka yang telah berkali-kali menawarkan perubahan menuju kegemilangan, tapi sampai saat ini tak juga mampu menunjukkan kesuksesan, selain melalui angka-angka yang tidak bisa diraba di lapangan. Tidak sedikit juga yang telah cacat karena kasus korupsi, walau tidak semuanya divonis sebagai koruptor oleh pengadilan.

Aceh saat ini sedang dalam bonus demografi. Artinya saat ini manusia dalam usia produktif sedang banyak di Aceh. Usia yang sejatinya mampu menjadi energi perubahan menuju Aceh yang gilang-gemilang. Tapi jumlah yang banyak itu, tidak terlihat memberikan dampak positif. Termasuk di dalam kaderisasi pemimpin. Mereka masih saja terpinggirkan dari percaturan tingkat elit di Aceh. Generasi tua yang sudah berkiprah sejak Aceh berkonflik dengan Jakarta, kini masih saja dominan. Hanya satu dua yang memilih menepi.

Kondisi Aceh saat ini, setali tiga uang dengan cerita di berbagai sinema Tollywood dan Kollywood di India Selatan. Film-film di sana kerap menampilkan cerita tentang politisi tua yang enggan pensiun dan terus menerus mencoba mempertahankan status quo dengan cara menciptakan ketergantungan rakyat kepada mereka. Anak-anak muda yang dicitrakan bersih dan penuh energi dan kemudian muncul sebagai pembeda, satu-persatu diracun dengan berbagai cara.

Dari waktu ke waktu, paradigma politik di negeri ini tidak pernah bergeark ke arah yang lebih revolusioner. Isu yang dimainkan tiap jelang kontestasi politik pun tetap itu-itu saja. Politisasi agama, sektarian dan pemujaan berlebihan terhadap tokoh senior. Tidak ada yang lebih progresif. Tidak ada target selain janji-janji bila seseorang terpilih akan membawa Aceh ke gerbang kegemilangan agama, dengan pembelaan berlebihan terhadap kelompok tertentu dan menghakimi kelompok lainnya sebagai sesuatu yang tidak boleh tumbuh di negeri ini. Juga tentang perempuan yang tidak boleh muncul ke ruang publik sebagai pemimpin. Hanya itu.

Perihal anak muda, tetap juga seperti dulu. Dijadikan tim hore yang bertugas sebagai pengikat spanduk, tukang pukul dan tim bully di berbagai platform media.

Saya kira kondisi seperti ini tidak boleh lagi dibiarkan terlalu lama. Partai politik sebagai wahana kaderisasi pemimpin, sudah harus berpikir lebih maju. Tokoh-tokoh senior partai politik sudah waktunya memberikan kepercayaan lebih besar kepada kaum muda. Minimal, DPD Tingkat II sudah harus diisi oleh kader-kader muda, bila perlu sebagai ketua DPD II. Ini penting sebagai sarana kaderisasi, sekaligus sarana yang tepat bagi kaum muda untuk membuktikan diri bahwa mereka juga mampu melakukan kerja-kerja politik. Bahkan bukan saja mampu berwacana, sekaligus mampu membuktikan wacana-wacana pembangunan yang selama ini hanya menjadi dongeng pengantar tidur bagi rakyat jelang pemilu.

Kendala bagi kaum muda, tentu dua hal. Pertama pengalaman, dan kedua finansial. Sebenarnya ini bukan kendala. Para senior yang ada di partai politik bila bersedia, akan menjadi mentor yang akan mendampingi anak muda di pentas politik. Perihal finansial, di sinilah fungsi berbagi dalam kesetaraan. Para senior harus memberikan ruang bagi anak muda untuk dapat membangun fondasi ekonominya.

Perubahan akan terjadinya kaderisasi yang bermuara dipilihnya anak muda sebagai pemimpin parai politik, tentu tidak akan bisa serta merta sekadar berharap kebaikan hati elit parpol. Kaum muda harus membuat gerakan sistematis agar kehadiran mereka di tengah kancah politik tidak dianggap sebagai pelengkap.

Gerakan ini dapat dimulai dengan cara melakukan gugatan politik dari dalam partai masing-masing. Bila selama ini kaum muda hanya mendengar pidato politik para senior, sekarang sudah waktunya bertanya dan meminta, setelah sekian tahun bersedia menjadi kader, apa yang telah para senior berikan kepada mereka? Gugatan ini menjadi sangat penting agar tokoh senior di partai pun tahu diri, atau minimal akan berpikir apa yang telah mereka sumbangkan untuk kader muda di partai, selain kesempatan berfoto selfie.

Kiranya gugatan kaum muda menjadi pilar penting untuk mewujudkan mimpi agar segera diberi ruang sebagai pemimpin di luar divisi/departemen partai bidang kepemudaan. Jangan pernah berhenti bergerak, karena peralihan kekuasaan tidak akan pernah diberikan secara serta merta. Apapun itu, kekuasaan merupakan sesuatu yang menarik untuk dipertahankan. []

Penulis adalah CEO aceHTrend. Juga penikmat kajian sosial politik dan kebudayaan.