132 Juta Penduduk Dunia Terancam Krisis Pangan di Akhir 2020

Grafik Kelaparan dunia. [Bloomberg]

ACEHTREND.COM, New York- Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan bahwa akhir tahun 2020 sebanyak 132 juta penduduk dunia akan terancam krisis pangan, yang disebabkan oleh krisis pandemi virus corona. Laporan tersebut diterbitkan oleh lembaga yang bermarkas di New York tersebut pada Senin (13/7/2020). Untuk itu, pemerintah di seluruh dunia diminta mengadopsi seperangkat alat kebijakan untuk membantu warga mendapatkan makanan bergizi.

Dalam Laporan Ketahanan Pangan dan Gizi yang diterbitkan PBB, tahun lalu sekitar 746 juta penduduk dunia juga menghadapi persoalan kerawanan pangan yang parah. Sementara dua miliar lainnya menderita kerawanan pangan [tapi tidak parah]

Kebanyakan orang miskin di seluruh dunia tidak mampu membeli makanan bergizi, karena harganya lebih mahal daripada nilai penuh garis kemiskinan internasional yaitu $1,90 per hari/ orang.

Dari sisi benua, maka Afrika merupakan kawasan paling rawan ketahanan pangannya. Sementara itu kerawanan pangan mengalami percepatan tercepat di Amerika Latin dan Karibia – dari 22,9 persen kelaparan di tahun 2014 menjadi 31,7 persen di tahun 2019. Menurut Program Pangan Dunia (WFP), 33 juta orang di Asia Selatan dan Tenggara telah terjerumus ke dalam kerawanan pangan akut sejak Februari 2020.

PBB menyerukan kepada pemerintah untuk menerapkan kebijakan dan berinvestasi dalam program-program yang membantu mengurangi biaya makanan bergizi dan memastikan semua orang dapat membeli makanan yang sehat.

Kebijakan seperti pengutipan pajak langsung dan tidak langsung pada makanan dan produksi pertanian harus dihindari, karena cenderung berdampak buruk pada produksi makanan bergizi dan bahan pokok. PBB juga mendesak negara-negara, terutama yang berpenghasilan rendah, untuk meninjau kembali subsidi di sektor pangan dan pertanian.

Dikatakan alat kebijakan seperti program transfer tunai, program pemberian makanan di sekolah dan subsidi makanan bergizi sangat penting pada saat coronavirus. [Aljazeera]

Editor: Muhajir